Tentang Tim Hantu dan OPM yang Hobi Menyandera

Judul: Tiga Sandera Terakhir
ISBN: 978-602-0989-47-1
Penulis: Brahmanto Anindito
Editor: Hermawan Aksan & Miranda Harlan
Tebal: 309 + xiv halaman
Penerbit: Noura Books 2015

Papua adalah daerah yang misterius. Itu menurut saya. Letaknya yang jauh di sebelah timur Indonesia dan berita-berita yang memberitahukan berbagai masalah yang ada di sana membuat saya penasaran sekaligus takut kalau sampai saya harus bepergian ke sana. Bagaimana kalau saya sampai disandera OPM? Mengingat peristiwa penyanderaan ini sudah terjadi berulang-ulang.

Penyanderaan OPM yang paling fenomenal terjadi sekitar dua dasawarsa silam. Waktu itu, belasan peneliti Lorentz diculik di Desa Mapnduma, Papua (dulu bernama Irian Jaya), dan dilarikan ke pedalaman hutan selama 130 hari! Teman-teman mungkin masih ingat, atau malah ada yang tidak tahu.

Melalui novel Brahmanto Anindito yakni Tiga Sandera Terakhir, teman-teman mungkin bisa membayangkan bagaimana rasanya situasi keamanan di Papua. Novel thriller ini memang tidak bercerita tentang penyeanderaan di Mapnduma. Tiga Sandera Terakhir murni fiksi dengan latar waktu masa kini, alias era pemerintahan Jokowi-JK. Namun, ceritanya berangkat dari tragedi kemanusiaan tersebut.

Sejak bab pertama, pembaca sudah digiring ke suasana menegangkan, ketika pasukan OPM di bawah pimpinan Akilas dan Mikael menyerbu sebuah penginapan. Mereka menganiaya dan menyandera lima tamu di dalamnya. Tiga di antaranya adalah turis asing. Peristiwa ini pun berkembang menjadi kasus internasional. Jakarta yang merasa kebakaran jenggot langsung bertindak. Panglima TNI mengirim Kopassus untuk membebaskan para sandera.

Tetapi, di Jayapura, sempat terjadi perselisihan antara Mayjen Deddy Lestaluhu selaku Pagdam XVII/Cendrawasih dengan Kolonel Larung Nusa selaku Komandan Sat-81/Gultor Kopassus. Penyebabnya “sepele” saja, Mayjen Deddy ingin agar operasi militer segera dilakukan mengingat situasi sudah genting dan berpeluang mempermalukan Indonesia di kancah dunia. Sedangkan Kolonel Nusa bersikeras memilih jalan negosiasi dengan pimpinan OPM. Harapannya supaya tidak terjadi pertumpahan darah di kedua belah pihak. Opsi kedua inilah yang akhirnya dijalankan.

Pada akhirnya, negosiasi tersebut terbukti bertepuk sebelah tangan. OPM enggan membebaskan sandera, kecuali jika Pemerintah Indonesia bersedia mengakui kedaulatan Negara Papua Barat. Bahkan demi menunjukkan keseriusannya, seorang sandera WNI mereka habisi. Kolonel Nusa kontan murka. Atas izin Panglima TNI, operasi militer pun langsung digelar.

Tidak perlu waktu lama bagi Kopassus untuk membebaskan keempat sandera yang tersisa. Tapi, alih-alih selesai, malah muncul masalah baru. Dalam operasi pembebasan itu, seorang anggota Kopassus gugur dan seorang lagi menghilang di kedalaman rimba. Meninggalnya seorang sandera, menghilangnya Sertu Anam, gugurnya seorang prajurit Kopassus, juga disusul seorang warga sipil Papua yang terkena peluru nyasar, membuat Nusa harus menerima sanksi skorsing dari komandannya.

Sebagai perwira yang berdedikasi, sanksi semacam ini tentu saja sangat mencoreng mukanya. Nusa marah dan kecewa. Namun belakangan, dia baru tahu, ternyata skorsing tersebut berkaitan dengan sebuah misi baru untuknya. Misi untuk mengomandani sebuah “tim hantu”. Rupanya, penyanderaan di desa wisata itu tidak sesederhana apa yang tampak. Buntutnya masih panjang.

Cerita Tiga Sandera Terakhir bergulir dengan pola fiksi laiknya produk-produk hiburan. Dengan struktur tiga babak, tangga dramatis perlahan-lahan bertambah tajam dan curam, hingga menuju puncak. Deskripsi yang ditulis pengarang terlihat ekonomis, babnya dibuat pendek-pendek, dikemas dengan bahasa yang mengalir dan mudah dicerna. Saya yang tidak mengerti—bahkan tidak tertarik—dunia militer pun terhanyut dan terus penasaran untuk melumatnya hingga tamat.

Berbeda dengan novel-novel Brahmanto Anindito sebelumnya, Tiga Sandera Terakhir terasa lebih matang dan dewasa. Yang mengganggu hanyalah humor-humor garing yang muncul dari tokoh Witir Tafiaro. Namun, entahlah, mungkin memang seperti itulah bahasa dan guyonan para tentara. Karena selama ini saya menganggap tentara itu serius.

Yang pasti, tidak banyak novel berlatar militer seperti ini kita temui di rak-rak buku di Indonesia. Kalaupun ada, kebanyakan adalah biografi seorang jenderal yang tentu saja nonfiksi. Novel bergenre fiksi militer justru kebanyakan ditulis oleh novelis-novelis luar (terjemahan). Padahal, di dunia militer Indonesia sendiri sebenarnya ada banyak cerita yang bisa digali. Mengingat kekuatan militer kita tergolong salah satu yang besar dan disegani di kancah internasional. Syahdan, usaha Brahmanto Anindito untuk “tampil beda” ini patut kita apresiasi.

Lebih lanjut, melalui novel ini, kita dapat mengetahui setidaknya tiga hal. Pertama, tentang dunia kemiliteran dan pernak-perniknya, termasuk tim hantu yang tidak pernah diakui eksistensinya itu. Kedua, tentang alam Papua yang indah, kaya akan hasil tambang, keanekaragaman hayati, dan budaya. Dan ketiga, bahwa sebenarnya masih ada—kalau tidak bisa dibilang banyak—orang Papua yang menginginkan lepas dari NKRI. Ini yang perlu didengar dan diantisipasi oleh Pemerintah Indonesia, jika memang mencintai saudara-saudara kita di Papua.

2 thoughts on “Tentang Tim Hantu dan OPM yang Hobi Menyandera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *