Berbagi Lahan

Kalau saya amatin lagi rumpun bayem brazil di luar pager, ada keistimewaan yang dia kasih buat sesama tanaman ciptaan Tuhan.

Kami emang niat mau ngisi kekosongan lahan di pinggir jalan biar nggak ditumbuhin ilalang. Sebenernya, dewasa ini ilalang nggak bisa dipandang sebelah mata. Selain akarnya berkhasiat buat obat, ilalang bisa ngasih nilai estetik juga. Mereka bisa dibiarin tumbuh di halaman buat ngasih spot yang Instagramable.

Tapi buat kami sejauh ini, ilalang adalah gulma. Keberadaannya di lahan pinggir jalan malah ngasih kesan suram dan nggak terawat terhadap tempat tinggal kami. Apalagi, rumah yang kami tempati juga jauh dari kesan bagus.

Jadi setelah bekerja keras nyabutin ilalang sampe ke akar-akarnya, sampe tangan kami merah-merah dan kegores duri di daun ilalang, lahan pinggir jalan di depan rumah kami akhirnya kosong. Sebagai gantinya, kami nanem bayem brazil sampe hampir penuh lahan itu. Nggak lupa, lidah mertua juga ditanem buat ngebatasin lahan kami dengan jalan. Pura-puranya jadi pager pembatas, gitu.

Tapi, ya, dasar rumput. Ilalangnya tetep aja tumbuh. Malah hadir juga rumput-rumput jenis lain kayak rumput serupa dandelion. Apalagi kalo musim ujan belum selesai.

Hasilnya, lahan luar pager itu jadi campur aduk antara bayem brazil, lidah mertua, sama aneka rumput. Kalo bayem brazil sama lidah mertua, sih, emang udah kami niatin buat ditanem, ya. Tapi rumput-rumput itu, loh! Kok, nekat aja numpang idup?

Yang bikin heran, bayem brazil sama sansevieria itu kayak nggak keberatan tempat tinggal mereka ditumpangin taneman lain. Biarpun mereka, sebut aja, anak-anak kesayangan (soalnya mereka sengaja ditanem), nggak berarti hal itu bikin mereka jadi manja dan egois. Siapa yang ngarepin kehadiran rumput-rumput itu? Nggak ada. Bahkan bayem brazil dan lidah mertua.

Tapi mungkin mereka tau, bumi ini milik bersama. Makanya mereka mau berbagi tempat. Rumput-rumput itu nggak disediain tempat khusus buat tumbuh dan hidup. Jadi bayem brazil ngebiarin ilalang dan kawan-kawan nyempil di antara mereka. Bayem brazil itu menekan egonya buat milikin lahan luar pager sepenuhnya.

Padahal mereka sendiri bakal terus berkembang biak dan butuh lahan yang lebar. Sansevieria bahkan sampai rela nggak keliatan gara-gara bayem brazil sama rumput tumbuh bersaing di atasnya.

Di sisi lain, lahan luar pager jadi nggak monoton. Bukan cuma bayem brazil atau lidah mertua aja yang bisa diliat. Selain ada kembang sepatu juga yang nggak subur-subur amat, rumput-rumput itu juga ngasih kesan lain.

Bahwa kita semua nggak bisa memiliki sepenuhnya apa yang kita pikir udah kita miliki. Dalam beberapa hal, kita punya hak milik. Tapi dalam beberapa kasus, apa yang kita punya juga layak dibagi ke orang lain.

Meski depan rumah kami jadi nggak rapi, seenggaknya bayem brazil dan sansevieria nggak kesepian. Dan kita jadi tau, banyak hal nggak terduga yang bisa datang ke kehidupan kita. Pertanyaannya, bisa, nggak, kita siap-siap nerima itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.