Hujan Bermain dengan Tanah

Hujan itu lucu. Kadang, ia memperlihatkan dirinya dengan cara yang berbeda. Hujan menyapa tak selalu dengan menyentuh rambutmu, meski ia berasal dari langit.

Tadi siang hujan berhamburan dari awan menuju bumi. Seperti anak-anak ketika bubar sekolah dan menyerbu mama-mamanya yang menjemput di gerbang.

Sesampainya di bumi, hujan langsung bermain dengan tanah. Tanah yang kering sudah menanti hujan sejak pagi. Baginya, bermain dengan hujan sangatlah menyenangkan. Hujan membuatnya segar dan lentur. Mereka bisa bermain apa saja.

Lanjutkan membaca

Langit Galau

+ Jadi hujan, nggak, Wan?

– Nggak tahu, Mi. Aku bingung. Kalau hujan, nanti orang-orang protes, nggak bisa ke mana-mana. Kalau nggak hujan, nanti diprotes juga. Sumuk (gerah), kekeringan…

+ Jangan pikirin omongan orang. Apapun yang kita lakukan, pasti ada aja yang suka dan nggak suka.

– Terus, aku harus gimana?

+ Lakukan saja apa yang kamu bisa dan menurutmu baik. Apapun efeknya nanti, itu di luar kendalimu. Nggak perlu dirisaukan.

– Kalau aku mendung aja kayak gini, gimana?

+ Hm. Sebaiknya kamu tentukan, deh, mau hujan atau balik lagi terang. Soalnya orang-orang juga pasti bingung. Mereka mungkin mau keluar rumah, tapi takut hujan. Tapi kalau nggak jadi pergi, mungkin mereka udah kadung punya janji. Ingat, cuaca selalu disalahkan.

– Aku pikir-pikir bentar, deh.

Tidak lama kemudian, Awan mendung berangsur saling menjauh satu sama lain. Langit Surabaya urung menurunkan hujan. Matahari kembali terik seperti biasanya. Tidak peduli apa kata orang.

Huruf

Ketika hendak membuka laci berisi alat-alat tulis, saya mendengar ribut-ribut dari laci mainan. Seilidk punya selidik, keributan itu berasal dari kotak scrabble.

“Aku yang lebih unggul. Posisiku ada di nomor satu. Kamu cuma nomor dua.”

“Jangan sombong kamu, mentang-mentang ada di urutan pertama.”

Ada apa ini? Balap larikah?

Lanjutkan membaca