Tentang Rie Yanti

A wife, a mom, and a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more.

Mencatat Semesta

Aku kerap heran,
Saat aku berharap hujan,
Matahari malah bersinar sepanjang siang
Bahkan ia masih mampu berpijar ketika langit akan dilingkupi malam

Dan rumput-rumput liar
Masih mampu tumbuh di sela bebatuan
Tingkap yang keras membuat mereka harus mencari jalan lain
Hingga aku bisa melihat tunas-tunas baru yang tumbuh dalam himpitan batu-batu

Semesta tak henti-hentinya memberi amanat
Dalam ketenangan kebun di sore hari
Atau keheningan rumah kala malam
Hal-hal kecil tumbuh menjadi mimpi

Dan aku mencatat semua itu di tembok kamarku
Kadang melukisnya jika kata-kata tercekat di dalam pena
Lalu, secara otomatis otakku bicara sendiri ketika aku melihat langit atau memandang kebunku
Tentang apa yang disembunyikan bunga dalam kuncupnya
Atau apa yang dibisikkan angin pada daun-daun hingga mereka terbahak-bahak

Mencintai Bunga

Mencintai bunga adalah sebuah ujian tentang ketulusan
Kau harus mencintainya dengan tulus
Bukan karena warna atau wanginya
Juga bukan karena namanya
Tetapi karena ia adalah bagian dari kebunmu, dari benih yang kautanam, dari pohon yang menaungimu, dari buah yang kaulahap, dan dari jalan yang kaulalui

Mencintai bunga harus rela melepaskan
Karena ia tak bertahan lama
Dalam hitungan hari, bunga akan gugur
Meninggalkanmu dengan mahkota yang berserakan
Yang harus kausapu dengan daun-daun tua yang kering dan luruh

Kau juga harus bersaing
Dengan lebah, kupu-kupu, dengan belalang
Sementara itu, kau tak bisa memetiknya untuk kausimpan di dalam vas di dalam rumahmu
Kau harus berbagi dan mengalah

Mencintai bunga memberimu pelajaran tentang kesetiaan
Bagaimana ia mempersembahkan dirinya kepada hujan
Dengan bersembunyi di dalam tangkai dan rimbun daun saat kemarau
Dan mekar ketika musim hujan tiba

Jangan berhenti mencintai bunga
Karena ia menetap di benakmu, di buku yang kaubaca, di lidahmu, di tanganmu, di matamu, di telingamu, dan di hidungmu

Kali

Besok, ketika matahari terbit, terbit juga rasa yang asing
Kali ini telah menghanyutkan kembang sepatu yang kupetik sore tadi
Mengantarnya ke tempat yang jauh dari pandangan dan tanganku

Besok, kali ini masih akan memperdengarkan ricik yang sama
Bersahut-sahutan dengan siulan angin dan gerisik daun-daun
Tapi arusnya akan mengalirkan muatan yang berbeda

Meski jarum jam akan kembali pada angka yang sama,
seolah hanya ada satu lintasan yang boleh dia jalani,
hari selalu berganti
Dan aku bertanya-tanya,
ke mana perginya waktu setelah detak mendenyutkan detik?

Mungkin kali juga yang melenyapkan waktu dari hadapanku
Lalu menghadirkan waktu yang baru sebagai pengganti

Suatu hari kelak, aku tak akan menyesali kembang sepatuku yang hanyut
Tak akan lagi kubertanya tentang waktu
Aku akan menjadi muatan yang berlayar di kali ini
Menjadi bagian dari riciknya
Memberimu rasa yang asing seperti saat aku melihat kembang sepatuku meninggalkan ranah ini

Aku Tahu, Matahari

Aku tahu,
Matahari punya api
Itulah kenapa ia jauh dari bumi

Dan aku tahu,
Matahari bukan milikku seorang
Tapi juga milik semesta dan orang-orang

Itulah kenapa aku memilih tinggal di rumah ini dan berkebun
Bergelimang bunga dan daun
Mereka membantuku menyimpan cahaya matahari
Dan aku tahu, aku tak pernah sendiri

Burung-burung yang Terbang Menjauhi Senja

Kadangkala,
ketika matahari tunduk pada malam yang memintanya
untuk terbenam di cakrawala,
aku melihat sekelompok burung terbang menjauhi senja.

Dan aku bertanya-tanya,
apa alasan yang membuat mereka memilih menjauhi terang
yang sesaat lagi padam?
Kenapa mereka tak mengejar senja?
Atau, menikmati lembayung, setidaknya?

Burung-burung itu mungkin tak seperti kita
Memuja berakhirnya hari
Burung-burung itu mungkin tak mau berdusta
Mereka berlaku seperti yang mereka yakini

Di bawah langit satunya, di tempat gelap lebih dulu datang
Burung-burung itu menunggu fajar
Sementara kita menyesali matahari yang tenggelam
saat kita belum juga sempat menghela napas