Produk Akulturasi

Tahun ini, tepatnya bulan kemarin, genap 12 tahun saya tinggal di Surabaya. Biasanya kalau pulang kampung ke Cicalengka, ada yang bertanya, “betah, nggak, di sana?” Saya tidak bisa jawab “ya” atau “tidak”. Karena, di mana pun saya tinggal, ada plus dan minus yang saya rasakan karena perbedaan kultur. Apalagi Bandung dan Surabaya jauh berbeda. Satu daerah dingin, satunya daerah panas. Satu berbudaya Sunda, satunya berbudaya Jawa.

Ngomong-ngomong soal budaya, saya jadi ingin berbicara soal suku. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan suku tertentu, sih. Saya hanya ingin berbicara tentang kehidupan saya sebagai sebuah produk akulturasi. 

Lanjutkan membaca

Bus Kuning di Surabaya

Sudah membaca kumcer Bus Kuning?

Sebetulnya, bus kuning adalah sebuah bus di Universitas Padjadajaran, Jatinangor. Karena luasnya lahan perguruan tinggi itu, jarak antara gerbang dengan fakultas sastra atau antar fakultas jadi berjauhan. Karenanya ada moda transportasi di kampus. Salah satunya sebuah bus besar berwarna kuning.

Kiara berdiri di depan Bus Suroboyo.

Jarak antara gerbang kampus dengan fakultas sastra sebetulnya tidak begitu jauh, hanya jalannya menanjak. Membuat kami kerap ngos-ngosan kalau berjalan kaki. Nah, bus kuning adalah solusi supaya kami tidak kelelahan.

Lanjutkan membaca

Perjalanan Menyusui Akira


Tumbuh di perut yang sama, lahir dari rahim yang sama, tidur di pangkuan yang sama, tidak menjamin Kiara dan Akira punya karakter yang sama. Dulu saya kewalahan menghadapi Kiara yang gemar begadang, tidak pernah puas menyusu, kelewat lincah apalagi kalau jalan-jalan di mal, bolak-balik mogok makan. Saya pikir, Kiara tergolong nakal. Namun setelah Akira tumbuh besar, persepsi saya pun berubah. Saya harus lebih ekstra sabar dalam menemani Akira tumbuh.

Akira, 1 tahun, badannya kuruuuus… sekali.
Read more

Pulang Kampung

Tahun ini, kami merayakan lebaran di kampung halaman saya: Cicalengka. Setiap tahun pun, kami pulang ke Cicalengka. Namun tidak pada waktu lebaran. Sebagai freelancer yang tidak punya jam kerja yang tetap, kami merasa bebas pergi ke mana saja kapanpun kami mau. Termasuk untuk pulang kampung.

Terus, kenapa tahun ini kami memilih mudik  pas lebaran?  Lanjutkan membaca