Merayakan Makna “Aku” melalui Anthem

“Anthem”
Penulis: Ayn Rand
Jenis: Fiksi (dystopia)
Jumlah halaman: 108 halaman

Kalau Teman-teman pernah baca We karya Yevgeny Zamyatin atau 1984 karya George Orwell, Anthem karya Ayn Rand ini terasa seperti berada di semesta yang sama. Bedanya, kalau We menyuguhkan kekalahan batin sang tokoh utama yang tragis, Anthem justru mengambil arah sebaliknya: sebuah kemenangan individu yang mutlak.

Novela distopia yang dirilis tahun 1938 ini terhitung sangat ringkas, tetapi pesan filosofis di dalamnya disampaikan secara blak-blakan.

Continue reading

Berani Hidup di Dunia yang Baru

“Brave New World”

Penulis: Aldous Huxley

Jenis: Novel distopia fiksi ilmiah

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah halaman: 284 halaman

Bayangkan sebuah dunia di mana tidak ada lagi yang namanya patah hati, stres, perang, atau kemiskinan. Terdengar indah, kan?

Tapi di Brave New World, kedamaian ini dibayar mahal dengan kehilangan kebebasan dan kemanusiaan.

Continue reading

Ketika Melupakan adalah Cara Terbaik untuk Mati Perlahan

“Polisi Kenangan”

Jenis: Novel

Penulis: Yoko Ogawa

Jumlah halaman: 292 halaman

Bagaimana jadinya jika kehilangan bukan lagi sekadar peristiwa personal, melainkan sebuah aturan yang mengontrol ingatan kolektif?

Mungkin pertanyaan mengerikan ini mendasari Yoko Ogawa menulis sebuah novel distopia surealis berjudul Polisi Kenangan. Melalui prosa yang tenang namun menghanyutkan, Ogawa membawa pembaca ke sebuah pulau tanpa nama, di mana benda-benda dan memori tentangnya dilenyapkan satu demi satu oleh otoritas misterius bernama Polisi Kenangan.

Continue reading

Waktu Berlalu

Ada lembar-lembar kalender
yang tak pernah terpasang di dinding
Tahun-tahun berlalu
seperti malam berganti pagi
Bulan berbinar di atas tingkap mimpi
Matahari bersinar di atas atap rutinitas
Tak sempat aku menghitung bintang
yang akhirnya luruh bersama hujan

Genangan tertinggal di jalan
Memantulkan bayangan yang melesat lekas
Entah apa yang dikejar; mungkin tak ada
Ia berlari sebab kakinya tak ditakdirkan untuk diam

Apakah itu kekal?
Sebab ingatan pun dapat pupus
tatkala darah berhenti mengalir
Dalam sisa waktu,
aku hanya bisa mencari tempat
untuk menyimpan yang belum terlupakan