Hujan Masuk Angin

Wajahnya membiru dan mengeras. Nyaris beku. Lekas-lekas kugandeng ia ke kamarku. Basah di lantai sepanjang jalur menuju kamar. Tak lekas kupel. Aku terlalu repot menangani hujan yang masuk angin ini.

Kubaringkan ia di dipan. Di bawah selimutku yang penuh tambalan ia menggigil. Badannya bergetar dan giginya menggeletuk.

“Sudah kubilang, jangan kelamaan di udara. Begitu turun, langsung berlindung dari angin. Bersembunyilah di balik daun-daun, di dalam tanah.

“Dan jangan coba-coba membuat kubangan untuk bermain air. Di jalan banyak debu dan kotoran. Nanti kamu kena infeksi.”

Ia diam saja. Mungkin menyesal karena tidak mematuhi nasihatku.

Continue reading →
Posted in fiction | Leave a comment

Pesta, Hampa, dan Luka yang Tak Kunjung Sembuh

“Dan Matahari Juga Terbit”

Penulis: Ernest Hemingway

Jenis: Novel

Jumlah Halaman: 282 halaman

Penerbit: Desa Pustaka Indonesia

Pernah nggak kamu dateng ke sebuah pesta, ngobrol paling kenceng, ketawa paling keras, tapi pas pulang ke kamar dan lampu kamar dimatiin, rasanya kosong banget?

Kalau kamu pernah ngerasain fase itu, novel debut Ernest Hemingway tahun 1926, Dan Matahari Juga Terbit, atau versi aslinya, The Sun Also Rises, bakal kerasa relate dengan cara yang agak menyayat hati.

Continue reading →
Posted in review | Leave a comment

Iceberg

Aku hampir nyerah ketika kata-kata dalam novel yang kubaca nyembunyiin maknanya di balik lekuk dan garis huruf-huruf yang berbaris rapi. Aku nyoba ngintip lewat lubang-lubang kecil di beberapa huruf. Makna itu nempel kian erat tanpa liat aku sebentar pun. Entah karena malu atau takut.

Apa makna itu introvert? Terus, buat apa huruf-huruf itu berdiri tegak dan gagah, atau meliuk estetik kalau pembaca nggak dibolehin liat maknanya? Apa mereka sengaja pongah gitu biar maknanya nggak keliatan?

Continue reading →
Posted in thoughts | Leave a comment

Merayakan Makna “Aku” melalui Anthem

“Anthem”
Penulis: Ayn Rand
Jenis: Fiksi (dystopia)
Jumlah halaman: 108 halaman

Kalau Teman-teman pernah baca We karya Yevgeny Zamyatin atau 1984 karya George Orwell, Anthem karya Ayn Rand ini terasa seperti berada di semesta yang sama. Bedanya, kalau We menyuguhkan kekalahan batin sang tokoh utama yang tragis, Anthem justru mengambil arah sebaliknya: sebuah kemenangan individu yang mutlak.

Novela distopia yang dirilis tahun 1938 ini terhitung sangat ringkas, tetapi pesan filosofis di dalamnya disampaikan secara blak-blakan.

Continue reading →

Posted in review | Leave a comment

Ketika Kepatuhan Tak Lagi Menjadi Kebajikan

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya tidak bisa menemukan peribahasa selain itu untuk menggambarkan bagaimana kepatuhan adalah sebuah hal yang sering kita lakukan di berbagai tempat. Setiap tempat ada aturannya. Setiap orang berhak membuat aturan sendiri.

Namun, apakah kita harus selalu patuh pada aturan-aturan tersebut?

Continue reading →
Posted in thoughts | Leave a comment