Melihat dengan Hati

Iseng-iseng saya buka blog lama saya, Cerita Rie. Blog yang pertama kali saya buat secara gratisan. Blog yang semula tidak ubahnya mainan baru yang saya mainin setiap hari. Bikin aneka macam postingan, mulai dari tulisan serius, cerita lucu(-lucuan), puisi yang sok puitis, juga foto nggak penting. Tidak ketinggalan gonta-ganti template. Atau blogwalking dan punya teman baru.

Mendadak saya seperti punya sebuah kenangan manis. Banyaknya hal yang harus dihadapi saat ini, kehidupan yang sama sekali lain dengan dulu, juga mimpi yang ingin saya wujudkan, membuat saya lupa beberapa hal di masa lalu. Kadang saya lupa bagaimana saya bertemu laki-laki yang kini menjadi suami saya (sorry, hubby), lupa kalau saya pernah miara kelinci dan ikut lomba gerak jalan demi mendapat hadiah utama, serta hal-hal lain termasuk blog perdana saya.

Cerita Rie, meski sekarang tidak keurus dan isinya cenderung tidak serius, sebetulnya adalah lahan tempat saya mengamati hal-hal kecil yang kerap luput dari pandangan biasa. Saya sadari, belakangan ini kalau menulis, saya seperti berkejaran dengan jarum jam. Suka keburu-buru. Pengen cepet selesai sebelum keburu datang ide baru. Belum kalau urusan dapur dan cucian menumpuk, atau anak-anak minta perhatian.

Dulu, ketika Cerita Rie dibuat, saya masih sorangan alias jomblo. Banyak waktu kosong yang bisa saya gunakan untuk melamun dan mengamati hal-hal kecil, lantas menjadikannya ide untuk postingan blog. Saya tidak peduli orang bakal suka atau tidak postingan saya, blog saya bakal jadi mesin uang atau tempat nulis aja. Yang penting saya menulis, saya ngeblog, saya senang.

Lama-lama, saya pengen terlihat serius, dong. Walaupun tulisan saya gratis, boleh dibaca siapa saja asal jangan dicuri, saya ingin tulisan saya berbobot. Supaya pembaca juga merasa mendapat info yang berguna, dan nantinya blog saya dibaca lebih banyak orang lagi karena isinya serius.

Saya pun mengemas beberapa tulisan saya di Cerita Rie dan memindahkannya ke blog ini. Dengan harapan, saya bisa rutin membuat tulisan yang bagus, yang dibutuhkan pembaca, dan terlihat seperti penulis profesional.

Karena sudah direncanakan untuk menampung tulisan yang serius, blog ini pun tidak bisa saya isi dengan postingan main-main. Saya mikir dalem-dalem, mencari ide yang bagus, menuangkannya ke dalam tulisan yang juga bagus. Sampai… saya lupa main. Saya lupa sama Cerita Rie.

Realita mengambil alih mimpi.

Kadang saya kangen masa-masa ketika saya sekolah, kuliah, main sama teman, jalan-jalan atau ngelamun sendirian, termasuk mengisi Cerita Rie. Karena hidup terus berjalan maju, saya harus meninggalkan banyak hal di masa lalu. Saya menyadari bahwa banyak hal yang berubah dan sebagian perubahan itu saya ciptakan sendiri.

Jadi, kalau saya tidak bisa melakukan hal-hal yang saya lakukan di masa lalu, ya, saya harus terima dengan ikhlas. Saya bukan lagi orang yang sama. Dan saya tidak sendiri. Semua orang pasti berubah.

Sesekali, saya melakukan apa yang pernah saya lakukan dulu. Kalau bisa. Ada kalanya saya punya ide jenius untuk Cerita Rie. Saya tidak menampiknya. Karena itu adalah cara saya bermain, beralih dari kenyataan untuk sementara waktu.

Namun tetap tidak ada yang sama. Saya juga bisa bilang apa? Ketika mata tidak lagi awas menangkap hal-hal kecil, saya tidak lantas menggunakan kacamata. Saya mencoba kembali melihat dengan hati, menjelajah setiap sudut, dan mencari apa yang tersembunyi.

Memulai dari Diri Sendiri

Saya pernah bilang kalau kita harus bijak menggunakan plastik demi mengurangi sampah plastik yang kian hari kian menumpuk. Masalahnya, bisakah kita menerapkan prinsip tersebut bahkan sampai membuat perubahan di lingkungan sekitar kita?

Atau jika kita setuju bahwa hidup minimalis sangat menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Bisakah kita mengajak semua orang untuk hidup minimalis, untuk menggunakan berbagai benda sesuai kebutuhan saja?

Atau… di masa pandemi ini. Masih banyak orang yang abai, tidak pakai masker, tidak rajin cuci tangan dengan sabun, mengabaikan jarak. Lantas kita mati-matian mengingatkan mereka untuk mematuhi prokes atau protokol kesehatan. Apakah mereka lantas patuh?

Kita bisa bicara ini-itu, mengemukakan berbagai macam teori yang menurut kita benar, mengajak orang-orang untuk bertindak sesuai dengan yang kita pikirkan. Namun, perhatikan, apakah orang yang kita ajak benar-benar sependapat dengan kita? Apa mereka mau berubah? Apakah mereka benar-benar peduli?

Kita tidak tahu isi hati dan pikiran orang lain. Mungkin mereka punya pendapat sendiri, tidak peduli, atau tidak menyukai kita yang terus-menerus berkampanye gogreen, hidup minimalis, atau mengingatkan prokes covid-19.

Ujung-ujungnya, karena kita gencar beraksi demi prinsip yang menurut kita baik, tapi orang-orang memilih untuk masa bodoh, kita juga yang capek dan merasa apa yang kita lakukan sia-sia belaka.

Kalau teman-teman merasa seperti itu, yang bisa dilakukan adalah mengalah. Bukan mengalah dan membiarkan semua masalah bertambah parah, ya. Tetapi mengalah dengan menjadikan diri sendiri sebagai contoh.

Misalnya jika kita ingin mengurangi sampah plastik. Daripada terus-menerus melarang orang-orang di sekitar kita menggunakan kantong plastik, tapi mereka masih saja dengan santuynya menenteng belanjaan pakai kresek, mendingan kita memberi contoh dengan menggunakan tas belanja kain.

Eh, tapi gimana kalau kitanya sendiri juga males? Makanya kita mengajak orang-orang bertindak yang sama dengan kita supaya kita punya teman?

Ya, saya tahu. Banyaknya hal yang harus kita pikirkan dan hadapi membuat kita mendamba kepraktisan. Tidak sempat menyiapkan bekal, lupa membawa tas belanja dari rumah, atau kalau cewek, nih, enakan pakai pembalut sekali pakai daripada pembalut kain apalagi menstrual cup. Repot nyucinya, belum perawatannya. Beda kalau ada teman, karena ada yang mengingatkan kita.

Tapi paling tidak, kita sudah memulai dari diri kita sendiri. Bukannya kita tidak peduli orang lain atau kita merasa jauh lebih baik dari mereka. Tapi cara ini lebih efektif. Karena kita tidak memaksa orang lain. Kita seolah-olah berbuat untuk diri kita sendiri tapi kelak akan memberi pengaruh pada lingkungan sekitar kita. Lama-lama, orang lain akan menyadari bahwa apa yang kita lakukan itu benar.

Kalau teman-teman merasa yakin bahwa menggunakan sedotan bambu atau stainless lebih baik dari sedotan plastik, memakaikan anak clodi lebih baik dari pospak, menolak penggunaan tas kresek saat belanja, lakukan saja dan percaya dirilah. Kalau kita ragu, orang-orang akan menertawakan kita dan akibatnya kita malas meneruskan hal-hal baik yang sudah kita lakukan.

Selain itu, setiap orang pasti punya alasan sendiri untuk tidak melakukan yang seharusnya atau benar. Apa alasan seseorang membeli makanan dari luar selain karena malas bawa bekal atau bosan dengan masakan rumahan?

Ada kekhawatiran seseorang akan kehilangan pekerjaan kalau kita mengurangi penggunaan barang tertentu. Ya, kita bisa bilang apa? Banyak pihak yang terlibat dalam “dosa” ini dan tidak mudah untuk memperbaiki kesalahannya.

Jadi, kalau kita tidak bisa menggerakkan banyak orang, minimal kita menggerakkan diri kita sendiri. Mulailah dari diri sendiri sebelum kita menyuruh orang lain.

Membaca Buku Apa Saja

Belakangan ini saya lebih banyak menulis untuk orang lain. Karena selera dan kebutuhan orang tidak sama, saya pun harus menghadapi permintaan klien yang beda-beda. Ada yang minta dibuatkan memoar, buku fiksi, atau konten web untuk keperluan bisnisnya.

Seringkali saya bingung dalam menggarap proyek-proyek tersebut. Misalnya saja ada klien yang minta dibuatkan tulisan berbasis bisnis. Saya tidak suka bisnis; tidak pernah saya membaca tulisan-tulisan tentang bisnis baik di koran maupun buku. Jadi ketika harus menggarap proyek tentang bisnis tersebut, matilah saya.

Continue reading “Membaca Buku Apa Saja”