Wajahnya membiru dan mengeras. Nyaris beku. Lekas-lekas kugandeng ia ke kamarku. Basah di lantai sepanjang jalur menuju kamar. Tak lekas kupel. Aku terlalu repot menangani hujan yang masuk angin ini.
Kubaringkan ia di dipan. Di bawah selimutku yang penuh tambalan ia menggigil. Badannya bergetar dan giginya menggeletuk.
“Sudah kubilang, jangan kelamaan di udara. Begitu turun, langsung berlindung dari angin. Bersembunyilah di balik daun-daun, di dalam tanah.
“Dan jangan coba-coba membuat kubangan untuk bermain air. Di jalan banyak debu dan kotoran. Nanti kamu kena infeksi.”
Ia diam saja. Mungkin menyesal karena tidak mematuhi nasihatku.
Continue reading