Warna yang Seharusnya Nggak Dilawan

Belakangan, aku tertarik dengan analisis warna dan warna musim. Tapi nggak niat konsultasi ke pakarnya karena bukan kebutuhan mendesak. Jadi aku coba analisis sendiri pakai kain dan jilbab yang aku punya. Sekalian lihat warna urat nadi di pergelangan tangan.

Aku pernah ngira kalau aku termasuk deep winter karena warna nadinya biru-ungu. Tepatnya, sih, agak membela diri juga biar bisa tetap pakai jilbab item. Tapi setelah diamati di foto, aku kelihatan kusem waktu pakai item, dan aneh waktu pakai navy.

Continue reading
Posted in thoughts | Leave a comment

Ketika Nalar Mengalahkan Jiwa

“We”

Penulis: Yevgeny Zamyatin

Jenis: Fiksi (novel distopia)

Sudah baca 1984? Di novel karangan George Orwell ini, kita melihat kehidupan distopia seorang seorang editor arsip pemerintah bernama Winston Smith yang diwajibkan tunduk pada otoritas Big Brother. Semua orang diawasi, bahkan saat mereka sedang tidur. Tidak ada kebebasan di sini. Dan kalau coba-coba melawan, pemerintah tidak akan ragu menghukum mereka dengan cara yang tidak biasa.

Ternyata, cerita semacam ini sudah ada sejak sebelum 1984 terbit. Adalah seorang penulis Rusia, Yevgeny Zamyatin, yang menulis sebuah novel berjudul We pada tahun 1920. Kehidupan di novel yang terbit pertama kali dalam bahasa Inggris tahun 1924 ini lebih modern dan lebih “gila” lagi karena semua orang hidup layaknya robot.

Continue reading
Posted in review | Leave a comment

Menjadi Introver yang Merdeka

“The Soul of Man under Socialism”

Penulis: Oscar Wilde

Jenis: Esai (Nonfiksi)

Apakah teman-teman pernah merasa lelah dengan berbagai tuntutan dunia yang mengharuskan kita jadi serba produktif? Harus punya pekerjaan tetap yang gajinya jelas, harus eksis di media sosial, dan kalau jadi penulis pun, standarnya harus punya buku best seller atau royalti jutaan. Kalau nggak, kamu dianggap “cuma main-main” atau “pengacara” (pengangguran banyak acara).

Jujur, semua itu adalah keresahan yang sering membuat saya kepikiran sebagai seorang introver yang hobi menulis buat healing. Tapi, kegelisahan itu akhirnya mendapat pembelaan dari tempat yang tidak terduga: sebuah esai jadul karya Oscar Wilde yang judulnya agak sangar, The Soul of Man under Socialism.

Continue reading
Posted in review | Leave a comment

Buku Berdaging tentang Cinta

“The Art of Loving”

Penulis: Erich Fromm

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 192 halaman

Lewat The Art of Loving, Erich Fromm membongkar mitos paling populer tentang cinta: bahwa cinta adalah perasaan yang datang dengan sendirinya. Bagi Fromm, cinta bukan sesuatu yang kita “jatuh” ke dalamnya, melainkan sebuah seni—sesuatu yang harus dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan dengan disiplin.

Continue reading
Posted in review | Leave a comment

Hak untuk Tidak Patuh: Catatan Setelah Prahara Agustus

“Pembangkangan Sipil”

Penulis: Henry David Thoreau

Penerbit: Basabasi

Jumlah halaman: 128 halaman

Saya baru sadar kenapa belakangan ini kepala saya nyangkut di isu-isu mikropolitik. Bukan karena buku teori yang kebaca duluan, tapi justru karena prahara Agustus. Peristiwa itu dengan segala kebisingannya membuat saya melihat sesuatu yang lebih kecil, lebih dekat, dan justru lebih mengganggu: bagaimana kekuasaan bekerja lewat hal-hal sepele, lewat kepatuhan yang kelihatannya wajar, lewat orang-orang yang “cuma menjalankan tugas”.

Di titik itulah saya membaca On the Duty of Civil Disobedience atau Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau. Esainya pendek, tapi rasanya seperti ditanya pelan-pelan: kamu selama ini berdiri di mana, sebenarnya?

Continue reading
Posted in review | Leave a comment