Ketika Melupakan adalah Cara Terbaik untuk Mati Perlahan

“Polisi Kenangan”

Jenis: Novel

Penulis: Yoko Ogawa

Jumlah halaman: 292 halaman

Bagaimana jadinya jika kehilangan bukan lagi sekadar peristiwa personal, melainkan sebuah aturan yang mengontrol ingatan kolektif?

Mungkin pertanyaan mengerikan ini mendasari Yoko Ogawa menulis sebuah novel distopia surealis berjudul Polisi Kenangan. Melalui prosa yang tenang namun menghanyutkan, Ogawa membawa pembaca ke sebuah pulau tanpa nama, di mana benda-benda dan memori tentangnya dilenyapkan satu demi satu oleh otoritas misterius bernama Polisi Kenangan.

Continue reading
Posted in review | Leave a comment

Waktu Berlalu

Ada lembar-lembar kalender
yang tak pernah terpasang di dinding
Tahun-tahun berlalu
seperti malam berganti pagi
Bulan berbinar di atas tingkap mimpi
Matahari bersinar di atas atap rutinitas
Tak sempat aku menghitung bintang
yang akhirnya luruh bersama hujan

Genangan tertinggal di jalan
Memantulkan bayangan yang melesat lekas
Entah apa yang dikejar; mungkin tak ada
Ia berlari sebab kakinya tak ditakdirkan untuk diam

Apakah itu kekal?
Sebab ingatan pun dapat pupus
tatkala darah berhenti mengalir
Dalam sisa waktu,
aku hanya bisa mencari tempat
untuk menyimpan yang belum terlupakan

Posted in poem | Leave a comment

Mendapatkan Kebebasan Sejati dengan Berani Tidak Disukai

“Berani Tidak Disukai”

Penulis: Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

Jenis: Nonfiksi (self-help)

Jumlah halaman: 352 halaman

Biasanya, buku self-help atau pengembangan diri sering kali diidentikkan dengan kalimat-kalimat motivasi yang manis dan menenangkan. Namun, Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga tampaknya sama sekali tidak berniat melakukan itu. Buku ini datang membawa perspektif radikal yang siap menjungkirbalikkan cara kita memandang masa lalu.

Continue reading
Posted in review | Leave a comment

Jika Buku-buku Dibakar

“Fahrenheit 451”

Penulis: Ray Bradbury

Jenis: Novel

Jumlah halaman: 156 halaman

Suatu malam sepulang kerja, Guy Montag bertemu seorang gadis tetangganya bernama Clarisse McClellan. Sambil berjalan pulang, mereka bercakap-cakap, atau lebih tepatnya, Montag terpaksa mendengar ocehan-ocehan Clarisse yang ceria, polos, dan idealis. Sebelum berpisah, Clarisse menanyakan satu hal pada Montag, “apakah kamu bahagia?”

Dalam hati, Montag tentu saja membela diri. Bahwa ia bahagia dan hidupnya baik-baik saja sebagai seorang petugas kebakaran yang kerjanya membakar buku-buku. Kehidupan keluarganya juga tidak masalah meski Mildred, sang istri, sangat bergantung pada obat dan selalu membutuhkan hal-hal yang bisa menenangkannya seperti menonton televisi atau mendengarkan Seashell, sebuah radio telinga.

Continue reading
Posted in review | Leave a comment

Ketika Nalar Mengalahkan Jiwa

“We”

Penulis: Yevgeny Zamyatin

Jenis: Fiksi (novel distopia)

Sudah baca 1984? Di novel karangan George Orwell ini, kita melihat kehidupan distopia seorang seorang editor arsip pemerintah bernama Winston Smith yang diwajibkan tunduk pada otoritas Big Brother. Semua orang diawasi, bahkan saat mereka sedang tidur. Tidak ada kebebasan di sini. Dan kalau coba-coba melawan, pemerintah tidak akan ragu menghukum mereka dengan cara yang tidak biasa.

Ternyata, cerita semacam ini sudah ada sejak sebelum 1984 terbit. Adalah seorang penulis Rusia, Yevgeny Zamyatin, yang menulis sebuah novel berjudul We pada tahun 1920. Kehidupan di novel yang terbit pertama kali dalam bahasa Inggris tahun 1924 ini lebih modern dan lebih “gila” lagi karena semua orang hidup layaknya robot.

Continue reading
Posted in review | Leave a comment