Iceberg

Aku hampir nyerah ketika kata-kata dalam novel yang kubaca nyembunyiin maknanya di balik lekuk dan garis huruf-huruf yang berbaris rapi. Aku nyoba ngintip lewat lubang-lubang kecil di beberapa huruf. Makna itu nempel kian erat tanpa liat aku sebentar pun. Entah karena malu atau takut.

Apa makna itu introvert? Terus, buat apa huruf-huruf itu berdiri tegak dan gagah, atau meliuk estetik kalau pembaca nggak dibolehin liat maknanya? Apa mereka sengaja pongah gitu biar maknanya nggak keliatan?

Continue reading Iceberg

Merayakan Makna “Aku” melalui Anthem

“Anthem”
Penulis: Ayn Rand
Jenis: Fiksi (dystopia)
Jumlah halaman: 108 halaman

Kalau Teman-teman pernah baca We karya Yevgeny Zamyatin atau 1984 karya George Orwell, Anthem karya Ayn Rand ini terasa seperti berada di semesta yang sama. Bedanya, kalau We menyuguhkan kekalahan batin sang tokoh utama yang tragis, Anthem justru mengambil arah sebaliknya: sebuah kemenangan individu yang mutlak.

Novela distopia yang dirilis tahun 1938 ini terhitung sangat ringkas, tetapi pesan filosofis di dalamnya disampaikan secara blak-blakan.

Continue reading Merayakan Makna “Aku” melalui Anthem

Ketika Kepatuhan Tak Lagi Menjadi Kebajikan

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya tidak bisa menemukan peribahasa selain itu untuk menggambarkan bagaimana kepatuhan adalah sebuah hal yang sering kita lakukan di berbagai tempat. Setiap tempat ada aturannya. Setiap orang berhak membuat aturan sendiri.

Namun, apakah kita harus selalu patuh pada aturan-aturan tersebut?

Continue reading Ketika Kepatuhan Tak Lagi Menjadi Kebajikan

Berani Hidup di Dunia yang Baru

“Brave New World”

Penulis: Aldous Huxley

Jenis: Novel distopia fiksi ilmiah

Penerbit: Bentang Pustaka

Jumlah halaman: 284 halaman

Bayangkan sebuah dunia di mana tidak ada lagi yang namanya patah hati, stres, perang, atau kemiskinan. Terdengar indah, kan?

Tapi di Brave New World, kedamaian ini dibayar mahal dengan kehilangan kebebasan dan kemanusiaan.

Continue reading Berani Hidup di Dunia yang Baru

Ketika Melupakan adalah Cara Terbaik untuk Mati Perlahan

“Polisi Kenangan”

Jenis: Novel

Penulis: Yoko Ogawa

Jumlah halaman: 292 halaman

Bagaimana jadinya jika kehilangan bukan lagi sekadar peristiwa personal, melainkan sebuah aturan yang mengontrol ingatan kolektif?

Mungkin pertanyaan mengerikan ini mendasari Yoko Ogawa menulis sebuah novel distopia surealis berjudul Polisi Kenangan. Melalui prosa yang tenang namun menghanyutkan, Ogawa membawa pembaca ke sebuah pulau tanpa nama, di mana benda-benda dan memori tentangnya dilenyapkan satu demi satu oleh otoritas misterius bernama Polisi Kenangan.

Continue reading Ketika Melupakan adalah Cara Terbaik untuk Mati Perlahan

Hayooo... Mau apa?