Demokrasi Mati Jika…

“Bagaimana Demokrasi Mati”

Penulis: Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt

Jenis: Nonfiksi (Politik)

Jumlah Halaman: 288 halaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Buku-buku tentang politik jadi minat saya selama beberapa bulan belakangan ini. Fiksi maupun nonfiksi. Mulanya memang saya enggan bersentuhan dengan politik. Terasa berat. Sebab yang saya tahu, politik itu berhubungan dengan negara. Persisnya, bagaimana pemerintah mengatur rakyatnya, bagaimana sebuah negara menciptakan hubungan diplomatik dengan negara lain, atau bagaimana perang antar negara bisa terjadi.

Saya lebih tertarik ke mikropolitik. Namun, tidak ada salahnya, kan, meng-upgrade pikiran saya dengan hal-hal tentang politik makro?

Continue reading

Tenggelam dalam Laut Bercerita

“Laut Bercerita”

Penulis: Leila S. Chudori

Jenis: Novel

Tebal: 379 halaman

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Laut Bercerita adalah novel tentang Biru Laut, seorang aktivis pada masa Orde Baru yang hidup di bawah bayang-bayang pengawasan negara. Bersama kawan-kawannya—mahasiswa dan seniman di Yogyakarta—ia menjalani kehidupan yang selalu menuntut kewaspadaan: berpindah tempat, membangun basecamp yang jauh dari pantauan aparat, serta menyusun rencana aksi dengan penuh kehati-hatian. Cerita ini menunjukkan bahwa aktivisme tidak harus berarti turun ke jalan, tetapi juga bekerja dalam kesunyian dan sarat risiko.

Komunitas yang diikuti Laut dan teman-temannya yakni Winatra dan Wirasena, perlahan menjadi sasaran penindakan. Negara hadir bukan melalui dialog, melainkan lewat mekanisme penangkapan, interogasi, dan kekerasan yang bertujuan memutus keberanian sekaligus ingatan. Ini seolah-olah menunjukkan bahwa hidup sewaktu-waktu dapat diambil alih oleh kekuasaan yang tak terlihat wajahnya.

Continue reading

Bukan Resolusi

Taun baru buatku biasanya cuma ganti kalender. Nggak bikin resolusi. Males. Hidup aja udah ribet.

Tapi 2025 ini beda. Aku lebih produktif, lebih fokus, dan lebih banyak mikir sebelum ngetik. Bukan karena makin bijak, tapi karena yang baca statusku bukan follower doang.

2026 besok, aku pengin lebih produktif berkarya dan baca lebih banyak buku. Sayang kalau mataku yang mulai rabun ini dipake buat scrolling medsos dan nyari masalah melulu.

Di samping tanaman cabe yang tingginya baru sebetis dan ragu-ragu berbunga, aku inget satu hal penting: berkata baik itu skill buat bertahan hidup, diam itu modal biar selamat.

Take care, ya, gaess. Ingat: jejak digital lebih setia daripada teman.

Melayani Hujan

Kalau hujan datang, bilang padanya,
aku tak mau lagi melayani dia.
Capek aku menampung tetesnya yang berdebu.
Capek aku mengepel tempiasnya.

Kalau hujan datang, tanyakan,
kapan dia mau melayaniku.
Aku butuh pijatan di bahu,
setelah menanggung payung yang
tak lagi melindung.

Kalau hujan datang, bilang padanya,
aku tak mau melayani dia sampai
dia mau melayaniku.

September

September tiba di kebunku yang layu
Mawar-mawar lunglai dan rontok
Daun-daun menyerahkan nasibnya pada angin
Sumur masih menjaga airnya
tahu bahwa hujan tak akan datang
dalam waktu yang segera

Apa yang bisa kusajikan
selain adenium merah jambu
yang tak gentar menghadapi
langit biru tanpa awan
di antara daun-daun hijau yang menganga
memantulkan cahaya matahari

Tetapi mungkin itu satu-satunya
persembahan dari pertiwi
untuk musim yang enggan mengenal teduh
sehelai sejuk bagi mata
yang berhari-hari dipaksa menatap api