Kepik Oren dan Kepik Merah Jambu

Cerita tentang kepik oren yang tinggal di salah satu pot taneman bayem brazil ternyata masih berlanjut. Pagi kemarin waktu mau siram-siram di kebun, saya tengok keluarga kepik oren itu. Saya sempat bingung, warna sayap luarnya lain dari yang sebelumnya. Bukan oren muda, tapi oren rada merah jambu. Tapi saya yakin, dia juga pasti dari Negeri Senja. Warna langit kalo senja, kan, oren semu-semu merah jambu gitu.

Sebetulnya, ibu kepik oren masih ada di sana juga. Sementara kepik merah jambu (kayaknya, sih, dia bapak kepik) anteng aja di salah satu daun bayem brazil, ibu kepik kayak lagi gelisah. Nggak tau kenapa. Padahal anak-anaknya ada di sana. Keluarga kecilnya hadir di pot bayem brazil, jadi harusnya nggak ada yang bikin dia gelisah.

Ibu kepik mondar-mandir jelajahin setiap tangkai dan daun bayem brazil. Sampe lompat-lompat segala dengan sayap dalemnya. Nggak cuma di pot bayem brazil itu, tapi juga ngerambah pot-pot lain. Brahm nanem salah satu gulma yang tumbuh di celah-celah paving ke sebuah pot yang agak besar, bekas ember cucian yang udah bocor. Taneman itu nggak tau namanya apa. Dia tumbuh gede, rantingnya nyebar ke sana-sini, daunnya kecil dan jarang-jarang, dan berbuah kecil-kecil juga kayak blueberry.

Nah, ibu kepik oren terbang juga ke situ. Hinggap di salah satu daun, terus lompat ke taneman singkong yang masih bocil. Abis itu lompat lagi dia ke salah satu pot pitaya, terus lompat ke rok Akira yang mau berangkat sekolah. Dari rok Akira, kepik itu terbang entah ke mana.

Setelah anak-anak berangkat sekolah dianter yayah mereka, saya metik daun-daun kemangi yang ditanem berseberangan sama pot bayem brazil yang dihuni keluarga kepik. Rampung metik daun kemangi, saya tengok kepik merah jambu. Gantian dia yang jalan-jalan gelisah. Jelajahin setiap tangkai dan daun bayem brazil kayak nyari-nyari sesuatu yang hilang.

Kepik merah jambu itu kehilangan istrinya. Pasti. Suami mana yang nggak panik kalau istrinya nggak ada? Apalagi kalo perginya tanpa pamit.

Sambil videoin polah si bapak kepik, saya mikir-mikir lagi, sebetulnya dia itu beneran suami si ibu kepik oren, bukan, sih? Soalnya warna merah jambu biasanya diasosiasikan sama feminitas. Liat aja perilakunya waktu lagi galau, mirip sama ibu kepik oren sebelum pergi tadi.

Walakin, warna itu milik semua orang. Laki-laki atau perempuan boleh pake atau suka sama warna apa aja. Nggak ngerti gimana sejarahnya warna pink atau merah jambu bisa dianggap sebagai warna cewek.

Terus, soal tingkah si bapak kepik yang panik itu juga manusiawi, kok. Semua orang pernah panik. Bedanya, cowok bisa tetep tenang mungkin karena dia melibatkan sebagian besar logikanya ketimbang perasaan. Sementara cewek sebaliknya.

Tapi stigma kayak gini juga nggak pasti berlaku ke semua orang. Ada juga laki-laki yang lebay waktu berhadapan sama masalah. Sebaliknya, ada juga cewek yang bisa tegar waktu lagi ditimpa musibah. Semua bisa kayak gitu tergantung gimana kepribadian dia dibentuk.

Mungkin sama kayak gimana kami ngebentuk kebun ini. Bukan cuma sebagai sumber pangan bagi kami berempat atau siapa saja yang tinggal bersama kami, tapi juga sebagai semesta kecil buat beberapa jenis hewan, terutama serangga.

Sebelum saya selesai merekam, si bapak kepik keburu terbang nggak tau ke mana. Mungkin nyari istrinya.

Beberapa jam kemudian, saya kembali ke kebun buat masukkin sampah dapur ke komposter. Saya sempetin buat nengok keluarga kepik. Ibu kepik belum pulang. Bapak kepik juga. Nggak tau mereka bertualang sendiri-sendiri atau udah ketemu di rimbun taneman lain.

Tapi waktu siangnya, bapak kepik pulang lagi. Cuma ada dia sendiri di pot itu dan nggak segesit kayak waktu paginya. Mungkin capek abis nyari-nyari istrinya yang belum juga pulang. Anak sulungnya juga nggak tau ngumpet di mana. Gitu juga dengan adiknya. Pokoknya kemarin siang itu sepi banget.

Terus semalem kayaknya ujan, deh. Saya tidur lumayan pules, jadi nggak denger kalo di luar ujan. Pagi tadi sebelum ke pasar, saya tengok pot bayem brazil tempat tinggal keluarga kepik. Mereka nggak ada! Pasti karena takut ujan. Terus mereka nyari tempat berteduh semaleman. Nggak tau bakal balik lagi atau nggak.

Sedih juga, sih, keilangan mereka. Disadari atau nggak, kita selalu punya ruang untuk orang baru. Entah mereka tinggal sementara atau selamanya. Kadang yang cuma singgah bisa ngasih kesan yang mendalam. Tapi yang tinggal selamanya juga bisa jadi teman perjalanan kita di dunia.

Keluarga kepik itu udah masuk ruang hati saya dan saya nyimpen mereka di sebuah kotak, berdampingan sama kotak-kotak lain yang isinya hal-hal dan orang-orang yang istimewa buat saya, walaupun nggak saya miliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.