Back At One

Konon, janji sama diri sendiri adalah janji yang paling mudah diingkari. Nggak tahu kenapa. Dan ini terbukti. Dari tahun 2011-an sampai sekarang, saya bisanya cuma bikin konsep cerita buat novel. Begitu dieksekusi jadi cerita yang panjang (novel atau novelet), selalu berhenti di tengah jalan. Ada aja alasannya. Nggak bisa ngembangin kerangka jadi cerita, idenya nggak logis, maunya sempurna, pas di tengah-tengah baru nyadar si tokoh utama nggak punya alasan kuat untuk beraksi, atau ceritanya terlalu melebar ke mana-mana.

Tapi kalau buat proyek ghostwriting, mau nggak mau saya harus menuntaskan ceritanya. Tentunya atas persetujuan klien. Emang beda, ya, komitmen sama orang lain dan diri sendiri. Salah satu alasannya yaitu karena ada motivasi uang. Sebagai ghostwriter, saya dibayar buat mewujudkan “mimpi” orang lain. Dan orang lain ngasih saya kepercayaan buat jaga rahasia.

Lanjutkan membaca

Thinwall, Wadah Plastik yang Ringkih

Di setiap rumah, pasti ada wadah plastik kayak gini. Thinwall. Di rumah saya juga banyak. Plastiknya yang tipis bikin enteng dibawa ke mana-mana. Harganya yang murah bikin nggak hariwang kalau hilang. Kadang kalau ngasih makanan ke orang lain juga bisa pakai wadah thinwall ini biar nggak perlu dibalikin.

Saya nggak pernah sengaja beli wadah thinwall. Dulu memang saya pernah beli tahu susu atau kurma yang dikemas wadah thinwall supaya nggak ada sampah plastik sekali pakai. Dengan seringnya dapat nasi kotak dari masjid atau dikirimi makanan sama saudara atau tetangga, tanpa harus beli pun kotak kayak gini bisa membludak di rumah. Bentuknya juga nggak cuma kotak. Ada juga yang berupa cup. Besar dan kecil.

Wadah thinwall ini stackable alias bisa ditumpuk. Apalagi kalau tutupnya dilepas. Nggak bakalan makan tempat di lemari atau rak. Cuma, kalau wadah dan tutupnya dipisah, biasanya nanti suka bingung menjodohkan mereka lagi. Soalnya wadah thinwall ini walaupun ukurannya kelihatan sama, sebetulnya bisa beda. Tergantung merek atau pabrik yang ngeluarin mereka. Wadah yang bermerek Lux, nggak bakalan cocok dipasangkan sama tutup yang bermerek Klir.

Lanjutkan membaca

Karena Alam Pun Berbahasa

Sayangku, kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
(Firasat, Marcel)

Saya sangat suka menulis puisi dengan menggunakan elemen-elemen alam. Hujan, bunga, bulan, debu, angin, dsb. Yang paling sering adalah hujan, entitas yang juga jadi favorit banyak penulis. Mungkin karena sentimental, melankolis, atau curahannya ibarat ide yang datang melimpah.Bukan tanpa alasan saya menyukai elemen-elemen alam seperti itu.

Terlepas dari aliran puisi atau tulisan yang saya anut (karena saya tidak peduli aliran apa, yang penting menulis), ada beberapa alasan yang membuat saya gemar membawa alam ke dalam puisi atau tulisan saya lainnya.

Lanjutkan membaca

Tak Harus Menulis Buku

Jujur saja, saya kerap kesal kalau ditanya, “lagi nulis buku apa?” Membuat saya bingung harus menjawab apa. Setelah Satin Merah terbit 12 tahun yang lalu, saya hanya menulis kumpulan cerpen Bukan Manusia. Selebihnya adalah buku-buku orang lain. Yup, saya adalah penulis bayangan alias ghostwriter. Dan sebagai seorang ghostwriter, saya harus menjaga identitas klien saya, berikut buku yang saya tulis atas nama mereka.

Lanjutkan membaca

Gerimis

Gerimis pagi ini. Matahari kedinginan. Selimutnya basah. Cahayanya masuk kamarku dengan lemah. Semoga dia tidak sakit flu.

Aku juga pernah kehujanan. Mungkin sering. Dari gerimis sampai hujan deras. Yang aku suka, ya, gerimis. Tetesnya tidak menyakiti kepalaku. Gerimis itu seperti jari-jari anak kecil yang malu-malu mengambil biskuit cokelat di dalam stoples saat diajak mamanya bertamu ke rumah saudara.

Lanjutkan membaca