Lapang

Di balik awan yang kelabu,
ada langit biru dengan matahari
yang terus membakar dirinya
demi menyebarkan pelita pada semesta.
Ketika gumpalan awan
menghadang jalan hantarnya,
hatimulah yang perlu kaulapangkan
untuk bisa menampung rintik hujan
yang melimpah.
Kelak, kau akan menemukan cara
untuk mengalirkan derai yang kauterima itu
kepada lautan,
yang menyimpan banyak mutiara
yang berkilau ditempa cahaya bulan.

Batu Kecilku

Batu kecilku,
Tentu, aku masih ingat
Sejak pertama kali aku menjumpaimu di pinggir jalan, seketika aku jatuh sayang
Kupungut kau supaya tak tercebur ke dalam selokan
Kau tetap berdebu
Namun setidaknya kau aman dari air comberan yang kotor dan bau

Batu kecilku,
Kau sudah menemaniku
Mengisi saku celanaku yang tak pernah ada isinya
Sekalinya aku punya uang, anak-anak berandalan itu selalu merampok
Bahkan aku tak sempat membeli sebatang es lilin cokelat saat panas menyengat
Setiap kali kurogoh saku celanaku, jari-jariku seakan tak tahan untuk mengambilmu dan melemparmu ke wajah anak-anak itu
Namun kau selalu mengingatkanku untuk tidak menyeretmu dalam kejahatan itu
Dan aku membiarkanmu di dalam saku celanaku

Lanjutkan membaca

Minggu Membeku

Matahari masih saja berbaring
di balik awan yang tak mau mencairkan hujan
sementara lampu-lampu taman
mematung di atas tiang
dalam belenggu sarang kaca
kehabisan cahaya setelah semalaman berkobar melawan gelap

Rumput-rumput kaku
menyangga bunga-bunga mekar yang
mengabadikan warna mereka dalam beku
Tak ada wangi yang tercium
Entah hidungku sudah baal atau bunga-bunga itu mati aroma

Sementara tetes-tetes hujan semalam mengkristal di permukaan mahkota dan daunnya
Tak sudi menyentuh tanah karena membuat mereka terserap dan tak lagi mampu menikmati dunia

Lanjutkan membaca

Puisi Bulan

Malam gelap
Angkasa senyap
Bulan meminta cahaya pada matahari
Saat yang tepat untuk menulis puisi

Bulan adalah pujangga
Puisi-puisinya dia simpan dalam gugusan bintang
Diunduh majalah-majalah dan koran-koran
Ramalan tentang cinta dan peruntungan setiap pekan