Back At One

Konon, janji sama diri sendiri adalah janji yang paling mudah diingkari. Nggak tahu kenapa. Dan ini terbukti. Dari tahun 2011-an sampai sekarang, saya bisanya cuma bikin konsep cerita buat novel. Begitu dieksekusi jadi cerita yang panjang (novel atau novelet), selalu berhenti di tengah jalan. Ada aja alasannya. Nggak bisa ngembangin kerangka jadi cerita, idenya nggak logis, maunya sempurna, pas di tengah-tengah baru nyadar si tokoh utama nggak punya alasan kuat untuk beraksi, atau ceritanya terlalu melebar ke mana-mana.

Tapi kalau buat proyek ghostwriting, mau nggak mau saya harus menuntaskan ceritanya. Tentunya atas persetujuan klien. Emang beda, ya, komitmen sama orang lain dan diri sendiri. Salah satu alasannya yaitu karena ada motivasi uang. Sebagai ghostwriter, saya dibayar buat mewujudkan “mimpi” orang lain. Dan orang lain ngasih saya kepercayaan buat jaga rahasia.

Lanjutkan membaca

Karena Alam Pun Berbahasa

Sayangku, kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
(Firasat, Marcel)

Saya sangat suka menulis puisi dengan menggunakan elemen-elemen alam. Hujan, bunga, bulan, debu, angin, dsb. Yang paling sering adalah hujan, entitas yang juga jadi favorit banyak penulis. Mungkin karena sentimental, melankolis, atau curahannya ibarat ide yang datang melimpah.Bukan tanpa alasan saya menyukai elemen-elemen alam seperti itu.

Terlepas dari aliran puisi atau tulisan yang saya anut (karena saya tidak peduli aliran apa, yang penting menulis), ada beberapa alasan yang membuat saya gemar membawa alam ke dalam puisi atau tulisan saya lainnya.

Lanjutkan membaca

Tak Harus Menulis Buku

Jujur saja, saya kerap kesal kalau ditanya, “lagi nulis buku apa?” Membuat saya bingung harus menjawab apa. Setelah Satin Merah terbit 12 tahun yang lalu, saya hanya menulis kumpulan cerpen Bukan Manusia. Selebihnya adalah buku-buku orang lain. Yup, saya adalah penulis bayangan alias ghostwriter. Dan sebagai seorang ghostwriter, saya harus menjaga identitas klien saya, berikut buku yang saya tulis atas nama mereka.

Lanjutkan membaca

Fase

Kami punya kebun kecil di halaman depan. Niatnya berkebun bukan karena ikut tren atau punya hobi selain di bidang tulas-tulis. Kami berkebun karena, pertama, kesehatan mata. Sehari-hari bekerja di depan layar laptop, saat ada waktu luang masih juga menatap layar walaupun lebih kecil (baca: ponsel). Betapa mata kami bisa lelah. Dengan berkebun, mata kami bisa memandang yang hijau-hijau yang tentunya sangat baik untuk mata.

Lanjutkan membaca

Journaling

Sekarang ini, journaling atau menulis jurnal sangat disarankan untuk mengatasi masalah-masalah mental. Tolong koreksi, ya, kalau saya salah. Karena saya juga ngikutin beritanya selewat-selewat.

Sebetulnya, sih, sudah lama kalau ada yang berpendapat bahwa menulis jurnal punya banyak manfaat bagi psikologi kita. Mengemukakan gagasan dan perasaan, meluapkan emosi, dan sebagainya. Tapi, masyarakat kita lebih suka berbicara, karenanya menulis (jurnal) bukanlah kegiatan menarik. Tidak tahu kenapa sekarang, kok, journaling banyak dibicarakan dan disarankan. Apa karena banyak penelitian yang mengungkapkan banyaknya hal positif yang bisa didapatkan dengan menulis jurnal, ya?

Lanjutkan membaca