Batu Kecilku

Batu kecilku,
Tentu, aku masih ingat
Sejak pertama kali aku menjumpaimu di pinggir jalan, seketika aku jatuh sayang
Kupungut kau supaya tak tercebur ke dalam selokan
Kau tetap berdebu
Namun setidaknya kau aman dari air comberan yang kotor dan bau

Batu kecilku,
Kau sudah menemaniku
Mengisi saku celanaku yang tak pernah ada isinya
Sekalinya aku punya uang, anak-anak berandalan itu selalu merampok
Bahkan aku tak sempat membeli sebatang es lilin cokelat saat panas menyengat
Setiap kali kurogoh saku celanaku, jari-jariku seakan tak tahan untuk mengambilmu dan melemparmu ke wajah anak-anak itu
Namun kau selalu mengingatkanku untuk tidak menyeretmu dalam kejahatan itu
Dan aku membiarkanmu di dalam saku celanaku

Tentu, kau pun masih ingat ketika kita hanya berdua, kau duduk di atas meja
Aku tak pernah tahu mana matamu, hidungmu, mulutmu, telingamu
Tapi padamulah aku tak sungkan bercerita
Sebagai pendengar yang baik, kau tak pernah menghakimi atau mengguruiku
Kau biarkan aku bercerita sekehendakku
Kau biarkan aku menangis, marah, bahkan tertawa
Orang-orang mendakwa aku gila
Padahal tidak

Batu kecilku,
Seperti yang kautahu, tak ada yang kekal di dunia ini
Begitu juga kebersamaan kita
Dan aku tak percaya aku begitu lalai membiarkanmu di saku celanaku
Hingga ibuku menemukanmu saat mencucinya
Aku lantas panik mencarimu
Ada banyak batu kecil tersebar di bumi ini
Semuanya mirip denganmu
Tapi aku tahu apa yang membedakanmu dari mereka
Dan aku yakin bisa menemukanmu

Kupikir, setelah kita cukup lama berteman, aku bisa mengenalmu dengan baik, mengerti kebiasaanmu, ciri-cirimu
Nyatanya tidak
Berkali-kali aku keliru mengambil batu kecil yang kupikir adalah kau
Namun bukan
Mereka bukanlah batu kecil sepertimu yang suka ketenangan
Mereka adalah perusuh
Batu-batu yang cerewet, yang berani menghakimiku jika aku bertindak yang tak sama dengan orang lain

Entah ini sudah hari ke berapa ratus
Aku tak kunjung menemukanmu di halaman, pinggir jalan, selokan, rumah tetangga

Batu kecilku,
Tentu, aku masih sayang
Dan aku rindu
Apakah kau masih berupa batu yang kukenal?
Ataukah sudah melunak seperti tanah liat?

Semoga kau tak melupakanku, terlepas dari kesalahan yang aku buat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.