Menunggu

Ini bukan pengalaman yang aneh. Ini sering terjadi. Ketika janjian ketemu dan kita datang duluan. Kita pun harus menunggu. Entah karena kita datang terlalu cepat, entah karena kita sudah datang tepat waktu tapi yang lain telat datang.

Saya selalu berusaha tepat waktu. Semisal saya janjian dengan teman saya pukul sepuluh. Saya akan datang pukul sepuluh. Bahkan kurang. Lebih baik menunggu daripada ditunggu. Dengan menunggu, apalagi datang tepat waktu, saya tidak akan merasa bersalah. Saya sudah memenuhi janji saya untuk datang pada waktu yang sudah ditentukan. 

Tapi seringkali saya sampai harus menunggu. Kalau saya datang terlalu cepat, saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Tapi ini juga bukan kesalahan saya. Justru saya takut telat, makanya saya siap-siap lebih awal. Walau untuk itu saya harus buru-buru mandi dan sarapan. Atau ada barang yang ketinggalan.

Sementara kalau saya datang telat, saya pasti akan merasa bersalah karena sudah mengacaukan jadwal orang lain dan membuatnya kesal menunggu. Solusinya kalau tahu bakalan telat, saya akan menelepon atau mengirim SMS, memberitahu kalau saya tidak bisa datang tepat waktu.

Asalkan menunggunya tidak sampai lama, saya baik-baik saja.

Tapi pernah ada kejadian waktu kuliah. Waktu itu bulan puasa dan akan ada acara buka bersama di rumah dosen. Beberapa orang, termasuk saya, tidak tahu di mana rumah dosen tersebut. Kami pun janjian ketemu di gerbang kampus sekitar pukul empat sore.

Saya tentu saja datang tepat waktu. Bahkan sampai diantar kakak saya karena takut telat. Di gerbang kampus, sudah ada seorang teman menunggu. Kami pun menunggu teman-teman lain datang.

Satu per satu mereka datang, memang. Namun sampai pukul lima kurang, tetap masih banyak yang belum datang. Ketika akhirnya semua kumpul, barulah saya tahu. Pernyataan bahwa kami harus kumpul pukul empat adalah semacam toleransi waktu bagi yang suka ngaret. Yah, istilah “toleransi waktu” mungkin tidak tepat. Saya tidak tahu istilah bagusnya apa. Tapi kalian pun pasti mengerti apa maksudnya.

Saya dan teman-teman saya yang biasa tepat waktu jadi tersinggung. Kami seperti dipermainkan. Seolah kami adalah tipe orang yang suka ngaret. Menunggu kurang lebih satu jam, walaupun tidak sendirian, tetap saja buang-buang waktu.

Kalau bukan bulan puasa, kami pasti ngambek.

Begitulah. Waktu-waktu berikutnya saat janjian lagi, saya tidak tahu mana yang jam betulan dan mana yang palsu. Sebab kalau harus menunggu lama, saya pun enggan.


2 thoughts on “Menunggu

  1. Ria

    dulu aku juga suka marah kalau harus nunggu… Tapi seiring bertambahnya umur… (ceritanya jadi sok bijak) gue mulai memperhatikan mana yg sering ngaret dan mana yg gak. Jadi kita gak bisa maksa orang harus sm dgn kita yg pastinya menghargai waktu bgt. Jadi, kalau janjian sm tipe2 org ngaret ya nyante aja… Mrk jg gak bisa marah dong kl kita telat… ^_^ Jd kita aja yg fleksibel

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.