Robohnya Kemangi Kami

Selama tiga hari berturut-turut, cuacanya nggak enak banget. Subuh-subuh udah ujan. Setelah reda, langit masih aja mendung. Lanjut ujan lagi. Mendung, ujan, mendung, ujan. Kayak gitu dari pagi sampe malem.

Sebenernya, ada enaknya juga, sih. Mendung dan ujan pas puasa bikin kita nggak haus. Tapi teuteup bikin BT kalo jemuran nggak kering dan nggak bisa pergi ke masjid buat bukber.

Ke kebun juga nggak bisa. Mau siram-siram, udah ada air gratis dari langit. Mau beresin kebun dan cabutin rumput, masa’ iya sambil ujan-ujanan?

Tau-tau, begitu ke kebun, kemanginya ambruk. Daunnya lebat banget, sih. Hasil tangan dingin Brahm. Saking lebatnya, salah satu tanaman kemangi ini nggak kuat lagi ngejaga daun-daunnya. Kelebihan beban. Ketiup angin kenceng, keguyur ujan deres terus-terusan, robohlah dia.

Untung nggak mati. Sebagai solusi, kuganjel batang kemangi ini dengan batu. Dia sebenernya masih kuat berdiri, loh. Cuma perlu di-support aja.

Selamat puasa, ya, Teman-teman. Biarpun keadaan lagi sulit, mood nggak enak, stamina kurang fit, jangan sampai ambruk ibadahnya. Kalo ada yang nggak kuat nahan beban, kasih dukungan. Tapi kalo nggak bisa mendukung, jangan bikin dia jadi murung.

Sejauh yang kamu lakukan adalah hal baik, maka kebaikan juga yang akan membuatmu tetap berdiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.