Category: thoughts (Page 5 of 7)

Sepatu Converse dan Kenangan Menabung

Gegara lihat gambar sepatu Converse Chuck Taylor, saya jadi ingat kalau dulu pernah punya sepatu ini.

Ceritanya, waktu kuliah saya tergolong tomboy. Males pakai baju cewek. Waktu itu saya memang lagi suka dan terpengaruh gaya Avril Lavigne dan Michelle Branch. Karena gayanya Avril terlalu “unik”, saya cuma bisa niru gaya Michelle Branch yang lebih simpel.

Dari situ, jadi kepengin, deh, punya sepatu Converse. Buat saya, sepatu itu harus banget. Pernah punya sandal gunung. Enak, sih, dipakainya. Tapi saya lebih suka sepatu. Apalagi kadang-kadang saya ikut kuliah yang dosennya mewajibkan para mahasiswanya pakai sepatu. Dan rata-rata harga sepatu saya yang enak dipakai itu lebih dari 100 ribu.

Ketika papap saya masih ada, mau apa-apa tinggal minta, langsung dibeliin. Setelah papap meninggal, mau beli apa-apa harus mikir dulu.

Harga sepatu Converse saat itu yang saya tahu adalah 150 ribu. Saya tidak tahu itu sepatu Converse asli atau bukan. Tidak tahu juga cara mengeceknya bagaimana. Bodo amat! Yang penting saya punya.

Maka, dengan semangat ’45, saya menabung. Kalau dikasih uang jajan sama kakak atau ada sisa uang saku dari mama, saya masukkan celengan. Serius, sampai selesai kuliah saya punya celengan hadiah ulang tahun ke tujuh atau delapan.

Saya lupa, berapa lama saya menabung. Ketika sudah terkumpul 150 ribu dan kebetulan ada acara jalan-jalan sama keluarga ke Bandung, saya beli, deh, si Chuck Taylor. Senang rasanya hati!

Sebetulnya kalau memang butuh, mama saya tidak keberatan membelikan saya sepatu. Dan prinsip beliau adalah beli yang bagus sekalian biar berkualitas, biar nggak sering-sering beli.

Namun saya memilih pakai jalur menabung daripada meminta. Setelah papap tiada, kami sempat kesulitan keuangan. Saya sempat kepikiran untuk bekerja, tapi tidak diizinkan. Menurut keluarga saya, lebih baik saya kuliah yang bener, sampai selesai.

Saya tetap merasa tidak enak karena belum bisa mandiri. Sebagai wujud sikap tahu diri, saya atur uang saku supaya cukup. Bahkan untuk keperluan kuliah seperti buku atau fotokopi yang sebetulnya bisa minta ke mama, saya ambil dari tabungan atau celengan.

Dan membeli sesuatu yang kita inginkan dengan pakai uang tabungan, rasanya puas banget. Karena dengan cara seperti itu, kita bisa menahan nafsu dan punya target yang jelas. Nggak pake ngutang. Apalagi kalau barang yang kita inginkan nyaman dipakainya.

Sandal Jepit

Suka memakai sandal jepit?

Sebagai informasi, saya juga suka memakai sandal jepit. Terutama di rumah. Bahkan, kalau jalan-jalan pun maunya pakai sandal jepit. Meski kadang suka khawatir, bagaimana kalau talinya mendadak putus di jalan? Solusinya, terpaksa beli sandal jepit lagi, sih, hehe.

Continue reading

Nol

Nol lahir tanpa ujung dan sudut. Tidak ada awal dan sulit menentukan di mana ia berakhir. Nol tidak menghadirkan perhentian maupun persinggahan. Nol adalah siklus, repetisi. Mungkin karena sifat repetitifnya itu, tidak ada lagi nilai yang bisa kita lihat. Pengulangan mengundang kejenuhan. Dan kejenuhan adalah pangkal ketidakpedulian.

Nol adalah suaka. Ia membatasi apa yang di luar dan di dalam. Namun di balik sifat melindunginya, nol juga identik dengan hampa. Kosong. Kita selalu mengucapkan “kosong” untuk nol saat menyebutkan nomor telepon. Seolah-olah nol tidak ada artinya selain untuk membedakan nomor yang satu dengan yang lain.

Padahal kalau digandeng di belakang sebuah angka, nol bisa memberi nilai lebih. Semakin banyak nol mengikuti, semakin besar nilai sebuah angka.

Apa arti nol buatmu?

Membaca Buku Apa Saja

Belakangan ini saya lebih banyak menulis untuk orang lain. Karena selera dan kebutuhan orang tidak sama, saya pun harus menghadapi permintaan klien yang beda-beda. Ada yang minta dibuatkan memoar, buku fiksi, atau konten web untuk keperluan bisnisnya.

Seringkali saya bingung dalam menggarap proyek-proyek tersebut. Misalnya saja ada klien yang minta dibuatkan tulisan berbasis bisnis. Saya tidak suka bisnis; tidak pernah saya membaca tulisan-tulisan tentang bisnis baik di koran maupun buku. Jadi ketika harus menggarap proyek tentang bisnis tersebut, matilah saya.

Continue reading

« Older posts Newer posts »

© 2026 rie yanti

Theme by Anders Noren — Up ↑

Hayooo... Mau apa?