Category: thoughts (Page 4 of 7)

Berbagi Lahan

Kalau aku amatin lagi rumpun bayem brazil di luar pager, ada keistimewaan yang dia kasih buat sesama tanaman ciptaan Tuhan.

Kami emang niat mau ngisi kekosongan lahan di pinggir jalan biar nggak ditumbuhin ilalang. Sebenernya, dewasa ini ilalang nggak bisa dipandang sebelah mata. Selain akarnya berkhasiat buat obat, ilalang bisa ngasih nilai estetik juga. Mereka bisa dibiarin tumbuh di halaman buat ngasih spot yang Instagramable.

Tapi buat kami sejauh ini, ilalang adalah gulma. Keberadaannya di lahan pinggir jalan malah ngasih kesan suram dan nggak terawat terhadap tempat tinggal kami. Apalagi, rumah yang kami tempati juga jauh dari kesan bagus.

Continue reading

Serupa Dandelion

Ujan masih sering turun di Surabaya. Rencana buat ngerapiin bayem brazil di kebun di luar pager jadi urung terus. Padahal, bayem brazilnya udah pada gondrong dan banyak rumput yang bersaing nyempil di antara rumpun bayem brazil itu. Anak-anak sansevieria yang juga udah tumbuh, jadi kesalip sama bayem brazil dan rumput-rumput itu. Nggak enak banget, deh, diliatnya.

Salah satu jenis rumput yang nyempil itu adalah… nggak tau namanya apa. Aku bukan ahli perumputan. Cuma karena sehari-hari liat rumput, bahkan sejak masih tinggal di Cicalengka, jadi udah familier sama wujud-wujud mereka. Beberapa ada yang aku tau namanya, sih. Tapi sebagian besarnya nggak.

Rumput yang aku nggak tau namanya itu tangkainya jenjang. Daunnya nggak menyirip, nggak menjari, tapi juga nggak membunder. Biasa aja, sih, nggak ada yang aneh. Tapi bunganya mirip dandelion dalam versi mungil. Continue reading

Thinwall, Wadah Plastik yang Ringkih

Di setiap rumah, pasti ada wadah plastik kayak gini. Thinwall. Di rumah saya juga banyak. Plastiknya yang tipis bikin enteng dibawa ke mana-mana. Harganya yang murah bikin nggak hariwang kalau hilang. Kadang kalau ngasih makanan ke orang lain juga bisa pakai wadah thinwall ini biar nggak perlu dibalikin.

Saya nggak pernah sengaja beli wadah thinwall. Dulu memang saya pernah beli tahu susu atau kurma yang dikemas wadah thinwall supaya nggak ada sampah plastik sekali pakai. Dengan seringnya dapat nasi kotak dari masjid atau dikirimi makanan sama saudara atau tetangga, tanpa harus beli pun kotak kayak gini bisa membludak di rumah. Bentuknya juga nggak cuma kotak. Ada juga yang berupa cup. Besar dan kecil.

Wadah thinwall ini stackable alias bisa ditumpuk. Apalagi kalau tutupnya dilepas. Nggak bakalan makan tempat di lemari atau rak. Cuma, kalau wadah dan tutupnya dipisah, biasanya nanti suka bingung menjodohkan mereka lagi. Soalnya wadah thinwall ini walaupun ukurannya kelihatan sama, sebetulnya bisa beda. Tergantung merek atau pabrik yang ngeluarin mereka. Wadah yang bermerek Lux, nggak bakalan cocok dipasangkan sama tutup yang bermerek Klir.

Continue reading

Gerimis

Gerimis pagi ini. Matahari kedinginan. Selimutnya basah. Cahayanya masuk kamarku dengan lemah. Semoga dia tidak sakit flu.

Aku juga pernah kehujanan. Mungkin sering. Dari gerimis sampai hujan deras. Yang aku suka, ya, gerimis. Tetesnya tidak menyakiti kepalaku. Gerimis itu seperti jari-jari anak kecil yang malu-malu mengambil biskuit cokelat di dalam stoples saat diajak mamanya bertamu ke rumah saudara.

Continue reading

Produk Akulturasi

Tahun ini, tepatnya bulan kemarin, genap 12 tahun saya tinggal di Surabaya. Biasanya kalau pulang kampung ke Cicalengka, ada yang bertanya, “betah, nggak, di sana?” Saya tidak bisa jawab “ya” atau “tidak”. Karena, di mana pun saya tinggal, ada plus dan minus yang saya rasakan karena perbedaan kultur. Apalagi Bandung dan Surabaya jauh berbeda. Satu daerah dingin, satunya daerah panas. Satu berbudaya Sunda, satunya berbudaya Jawa.

Ngomong-ngomong soal budaya, saya jadi ingin berbicara soal suku. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan suku tertentu, sih. Saya hanya ingin berbicara tentang kehidupan saya sebagai sebuah produk akulturasi. 

Continue reading

« Older posts Newer posts »

© 2026 rie yanti

Theme by Anders Noren — Up ↑

Hayooo... Mau apa?