Hujan Bermain dengan Tanah

Hujan itu lucu. Kadang, ia memperlihatkan dirinya dengan cara yang berbeda. Hujan menyapa tak selalu dengan menyentuh rambutmu, meski ia berasal dari langit.

Tadi siang hujan berhamburan dari awan menuju bumi. Seperti anak-anak ketika bubar sekolah dan menyerbu mama-mamanya yang menjemput di gerbang.

Sesampainya di bumi, hujan langsung bermain dengan tanah. Tanah yang kering sudah menanti hujan sejak pagi. Baginya, bermain dengan hujan sangatlah menyenangkan. Hujan membuatnya segar dan lentur. Mereka bisa bermain apa saja.

Continue reading Hujan Bermain dengan Tanah

memotret hujan

Berulang kali kucoba memotret hujan. Tapi hujan tak mau dipotret. Setiap kali melihat kameraku, ia panik. Hujan turun cepat-cepat, bersembunyi di pohon, masuk ke dalam tanah, mengalir di sungai hingga samudra. Aku tak mampu mengejarnya.

Sering aku memanggil hujan, berharap ia muncul di hadapan kameraku dan berpose bak model. Dasar sombong! Hujan selalu menghindar. Dipanggilnya kilat dan petir agar aku tak mengganggunya.

Aku tak berani berbuat nekat. Kulari masuk rumah dan membiarkan hujan bermain-main di alam bersama angin.

Aku baru bisa memotret hujan ketika ia berbaring kelelahan di atas tanah. Hujan tak berkutik. Ia tak berdaya menampik kameraku. Sinar hangat matahari menguapkan keangkuhannya.

Namun, ah, hujan jadi tampak kurang estetis dengan pose seperti itu. Lain kali, aku harus memotretnya lagi

Keputusan Fung Lin

“Fung Lin, bagaimana kabarmu?” tanya saya melalui telepon.

“Aku sudah membaik sekarang.”

“Syukurlah. Bagaimana Rafi? Dia masih menghubungimu?”

“Iya dong. Dia janji akan mengajakku keluar minggu depan.”

“Janji? Kamu percaya dengan janji Rafi? Dia kan politikus. Janji-janjinya nggak bisa dipercaya.”

“Aku percaya dia kok,” tukas Fung Lin tanpa ragu.

“Ih, kok bisa sih?”

“Bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa aku lakukan. Lagipula kamu tahu sendiri, aku sangat menginginkan Rafi dan ciuman di bawah hujan. Aku dan Rafi belum pernah melakukannya. Minggu depan itu, kalau kebetulan hujan turun, aku dan Rafi akan melakukannya.”

“Lho, bukankah Rafi sudah menciummu di bawah hujan?”

Continue reading Keputusan Fung Lin

Hayooo... Mau apa?