Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya tidak bisa menemukan peribahasa selain itu untuk menggambarkan bagaimana kepatuhan adalah sebuah hal yang sering kita lakukan di berbagai tempat. Setiap tempat ada aturannya. Setiap orang berhak membuat aturan sendiri.
Namun, apakah kita harus selalu patuh pada aturan-aturan tersebut?
Demi amannya, biasanya kita disuruh untuk patuh. Sejak kecil, kita disuruh patuh pada orang tua atau orang yang lebih tua dari kita. Memasuki usia sekolah, kita disuruh patuh pada tata tertib sekolah. Dalam kehidupan bernegara, kita harus patuh pada aturan-aturan pemerintah.
Kenapa harus patuh? Bagaimana kalau kita memilih untuk tidak patuh? Apa yang akan terjadi, baik pada kita maupun pada lingkungan sekitar kita? Apa yang akan kita peroleh dengan bersikap patuh?
Serentetan pertanyaan tentang patuh atau tidak terus berdenyut di kepala saya, seakan tidak mau kalah dengan denyut nadi. Bukan saya menolak untuk patuh. Tetapi tidak jarang, dengan patuh saya merasa dirugikan. Namun untuk tidak patuh, saya khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak pernah saya harapkan.
Saat sedang galau seperti itu, saya tidak sengaja menemukan buku karya Erich Fromm berjudul Perihal Ketidakpatuhan. Ini sebetulnya adalah kumpulan esai. Tidak semuanya bertutur tentang ketidakpatuhan. Dua esai lainnya tentang kepemimpinan (nabi dan imam), serta sosialisme (humanistik).
Saya lebih tertarik dengan esai pertama. Namun kali ini, saya tidak akan membuat reviu. Saya hanya akan merangkum atau mencatat hal-hal yang saya rasa penting.
Di awal tulisannya, Fromm mengingatkan kita akan sebuah dogma, bahwa kepatuhan adalah kebajikan utama, sedangkan ketidakpatuhan adalah sebuah dosa. Membaca kalimat ini saja saya langsung setuju. Bukan setuju untuk patuh atau tidak patuh, melainkan sepakat dengan pemikiran Fromm.
Tetapi, sejak kapan tepatnya manusia mulai patuh?
Mungkin sulit ditelusuri sejarahnya, ya. Tetapi Fromm mengingatkan kita akan perbuatan Adam dan Hawa yang tidak mematuhi perintah Tuhan untuk tidak memakan buah terlarang. Akibatnya, mereka berdua dikeluarkan dari surga dan dikirim ke bumi.
Tidak semua kepatuhan bersifat sama. Kepatuhan terhadap aturan luar disebut sebagai kepatuhan heteronom, yaitu ketika seseorang patuh pada orang lain, institusi, atau kekuasaan. Dengan melanggar kepatuhan jenis ini, Adam dan Hawa mendapatkan otonomi diri dan kesadaran. Mereka akhirnya menyadari ketelanjangan mereka, serta merasakan keterpisahan baik dari satu sama lain maupun dari alam dan Sang Pencipta.
Hal serupa juga dilakukan oleh Prometheus. Prometheus mencuri api dari Dewa Zeus untuk diberikan kepada manusia yang saat itu hidup dalam kegelapan, ketakutan, dan kedinginan. Zeus melarang api diberikan kepada manusia karena ingin manusia tetap lemah dan bergantung pada dewa. Untuk menolong manusia, Prometheus memilih melanggar kepatuhan heteronom (perintah Zeus) demi menjalankan kepatuhan otonom—yaitu tunduk pada prinsip rasional dan hati nurani humanistik-nya sendiri yang meyakini bahwa manusia berhak atas pengetahuan, kehangatan, dan peradaban.
Sikap patuh dan tidak patuh dilakukan berdasarkan dua macam kesadaran nurani:
- Kesadaran Otoriter (Authoritarian Conscience): Kesadaran ini menginternalisasi perintah atau kehendak dari luar diri kita (didikan orang tua, tuntutan masyarakat, dsb.). Kita bersedia mematuhi aturan atau keinginan orang lain demi membuatnya senang atau karena takut membuatnya marah, meskipun aturan tersebut mungkin merugikan. Tragisnya, kepatuhan ini bekerja melalui kesadaran kita sendiri yang telah terinternalisasi sebagai Super-Ego.
- Kesadaran Humanistik (Humanistic Conscience): Kesadaran ini bersumber dari suara murni yang bersemayam dalam diri setiap manusia dan tidak tergantung pada faktor eksternal. Ini adalah suara batin yang menuntut kita untuk menjaga integritas, martabat, dan pertumbuhan diri sebagai manusia. Misalnya, ketika seseorang tegas menolak perintah atasan untuk melakukan kecurangan atau manipulasi data, karena batinnya menyadari bahwa perbuatan tersebut merusak integritas kemanusiaannya sendiri.
Kepatuhan terhadap orang lain bisa bersifat rasional dan irasional. Kepatuhan atau kerja sama antara siswa dan guru termasuk kepatuhan rasional (kedudukan mereka sama-sama diakui). Guru menetapkan aturan dan siswa mematuhinya dengan tujuan yang sama, yakni membuat siswa tambah pintar. Sedangkan kepatuhan irasional dapat dilihat dalam hubungan antara budak dan majikan. Posisi keduanya tidak sama; majikan lebih tinggi dan biasanya bertindak semena-mena terhadap budak, untuk tujuan yang berbeda (majikan supaya ada yang melayani, budak demi mendapatkan upah).
Fromm juga mencatat bahwa kepatuhan menjadikan seseorang bagian dari kekuasaan yang ia ikuti. Tidak ada keinginan yang kuat untuk berbuat salah karena semua ketentuan sudah diputuskan. Ia tidak kesepian karena gerak-geriknya diawasi. Ia tidak berbuat dosa karena tidak diizinkan. Intinya, semua sudah diatur.
Jika ia menyadari bahwa kepatuhan tidak selalu harus dilakukan, ada satu hal yang bisa ia lakukan: tidak patuh. Untuk tidak patuh, ia harus punya keberanian, misalnya mengatakan “tidak”. Tetapi, kondisi ini membutuhkan perkembangan psikologis yang sudah matang (kedewasaan) agar ia punya landasan untuk tidak patuh. Dan sayangnya, ketidakpatuhan acapkali disetarakan dengan sikap tidak dewasa.
Di akhir tulisannya, Fromm mengingatkan bahwa ketidakpatuhan—atau kepatuhan pada akal budi diri sendiri—merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap nalar dan kehendak bebas manusia. Ketidakpatuhan ini bukanlah pemberontakan yang merusak, melainkan keberanian untuk membuka pikiran secara luas dan menyadari bahwa kita bertanggung jawab penuh atas kehidupan yang kita jalani.

