Category Archives: poem

Waktu Berlalu

Ada lembar-lembar kalender yang tak pernah terpasang di dinding Tahun-tahun berlalu seperti malam berganti pagi Bulan berbinar di atas tingkap mimpi Matahari bersinar di atas atap rutinitas Tak sempat aku menghitung bintang yang akhirnya luruh bersama hujan Genangan tertinggal di … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Melayani Hujan

Kalau hujan datang, bilang padanya, aku tak mau lagi melayani dia. Capek aku menampung tetesnya yang berdebu. Capek aku mengepel tempiasnya. Kalau hujan datang, tanyakan, kapan dia mau melayaniku. Aku butuh pijatan di bahu, setelah menanggung payung yang tak lagi … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Ketika Bulan Tak Menjadi Puisi

Bulan menyungging senyum di atas sana Berharap hening menambah pesonanya Seperti malam-malam sebelumnya, ia menunggu dipuja Menanti penyair-penyair menuliskan namanya Namun jalan-jalan masih gaduh Suara-suara mengoyak sunyi Klakson dan deru mengalah Manusia menggemakan keadilan Dan gaduh itu menjelma ricuh Saat … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Di dalam Cangkir Putih

Cangkir antik putih berlukiskan bunga-bunga kecil Berdiri pongah di atas hamparan beling serupa dirinya Menganga pada langit yang baru saja lahir mengembuskan napas hangatnya dengan jumawa Di dalam dirinya, ada pekat yang bertahan Seakan bening adalah kesempatan bagi cela untuk … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Musim Hujan

Musim hujan Orang-orang jatuh cinta merindu mendung tak berdaya ketika gerimis turun Hati yang berbunga laksana bunga-bunga di taman mekar berjejalan Siapa paling semerbak, dia berhak mendapat lebah Siapa paling merona, dia layak mendapat rama-rama Hati yang berkabung ibarat bunga … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment