Bukan Resolusi

Taun baru buatku biasanya cuma ganti kalender. Nggak bikin resolusi. Males. Hidup aja udah ribet.

Tapi 2025 ini beda. Aku lebih produktif, lebih fokus, dan lebih banyak mikir sebelum ngetik. Bukan karena makin bijak, tapi karena yang baca statusku bukan follower doang.

2026 besok, aku pengin lebih produktif berkarya dan baca lebih banyak buku. Sayang kalau mataku yang mulai rabun ini dipake buat scrolling medsos dan nyari masalah melulu.

Di samping tanaman cabe yang tingginya baru sebetis dan ragu-ragu berbunga, aku inget satu hal penting: berkata baik itu skill buat bertahan hidup, diam itu modal biar selamat.

Take care, ya, gaess. Ingat: jejak digital lebih setia daripada teman.

Kalo Cuaca Ngawur

Cuaca tambah ngawur aja. Sekarang udah bulan Agustus. Udah musim kemarau dan suhu udara lagi panas-panasnya.

Tapi beberapa malem ini, aku liat langit sering mendung. Bulan sabitnya jarang keliatan. tadi subuh malah ada gludug. Nggak keras, sih, dan aku nggak liat langitnya emang mendung atau nggak. Kayaknya, awannya juga ragu mau nurunin ujan. Soalnya sekarang bukan giliran dia yang muncul.

Di kebunku, sebagian rumput pada mati. Kuning, kering, kayak abis kebakar gitu, Sebagian lagi masih berdiri tegak. Nggak mau kalah sama taneman cabe, tomat, dan kemangi yang kusiram tiap hari.

Ya. Aku usahain siram-siram kebun tiap hari. Kalo lagi rajin, bisa dua kali sehari. Kalo lagi kumat malesnya, sekali aja. Biasanya, sih, sore-sore. Soalnya kalo pagi, tanahnya suka keliatan lembap. Nggak tau lembapnya dari mana. Bediding udah berlalu soalnya malem-malem aku nggak kedinginan lagi.

Biarpun pagi-pagi tanahnya keliatan lembap, atau udah kusiram, siangnya udah keliatan retak-retak. Kayak kemarau panjang dan tanahnya nggak disentuh air sama sekali. Saking panasnya. Apalagi ini Surabaya.

Tapi, kok, bisa, ya, ada rumput yang tetep tumbuh dan idup? Dari mana mereka bisa dapat kekuatan? Doa ibu pertiwi?

Mungkin, ya. Siapa yang pernah denger bumi berdoa minta kesuburan? Nggak ada, kan? Tau-tau muncul rumput-rumput, bibit yang kita taruh di dalem tanah tumbuh jadi tunas, buah-buah ranum di pohon…

Ujan mungkin turun bukan atas kehendaknya atau karena awan udah kelebihan beban. Bisa aja ujan turun karena bumi yang minta. Bumi bisa berdoa kapan aja. Ujan pun bisa kapan aja ngabulin doanya bumi.

Cuaca ngawur, ujan di bulan Juli, mendung di bulan Agustus. Nggak ada yang patut disalahin. Semuanya terjadi soalnya pasti ada alasannya yang belum tentu kita tau.

Jalan Kaki

Sejak kecil, saya dibiasakan mama jalan kaki ke mana-mana. Kami tinggal di Cicalengka, sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung. Dulu itu, kami punya dua mobil di rumah. Satu dipakai kakak buat kuliah, satu lagi sengaja ditinggalkan di rumah.

Mobil yang di rumah itu berjenis pick up. Ayah saya membelinya buat ngangkut-ngangkut barang di kantornya, kalau perlu. Kalau tidak diperlukan, mobil itu disimpan di rumah. Bisa kami pakai kalau ada keperluan mendesak.

Sayangnya tidak ada sopir. Kalau mau pakai mobil itu, kami harus mencari tetangga yang bisa menyetir. Ibu saya tidak bisa menyetir. Bahkan kalau bepergian di Cicalengka pun, ibu saya memilih jalan kaki. Ojek ada, tapi tidak banyak. Orang-orang biasanya naik delman dari pasar atau seperti ibu saya: jalan kaki.

Sepeda?

Meski Cicalengka itu kebanyakan daerah pedesaan, sedikit sekali orang yang mengayuh sepeda. Malah kalau saya bandingkan dengan Surabaya, lebih banyak pesepeda di Kota Pahlawan ini. Padahal ini kota dan zaman now.

Orang-orang Cicalengka memang lebih banyak menggunakan kaki mereka sebagai alat transportasi. Teman-teman SMP saya malah sampai berjalan kaki lebih dari dua kilometer untuk bisa ke sekolah. Maklum, saat itu SMP negeri cuma ada satu di Cicalengka. SMP itulah idaman setiap orang. Tak peduli berapa jaraknya, mereka berusaha kerasa agar diterima bersekolah di sana.

Setelah sepeda motor mewabah, orang-orang memilih ngojek atau bawa sepeda motor sendiri kalau malas naik angkot. Orang-orang kaya baru malah dengan bangga pamer mobil. Gengsi teramat tinggi di Cicalengka.

Karena dibiasakan jalan kaki, saya pun lebih akrab menggunakan kaki saya ke mana-mana ketimbang naik ojek. Bahkan beberapa tahun lalu, sebelum hijrah ke Surabaya, saya sering ikutan jalan santai dan tidak pernah motong jalan. Pulang-pulang kadang bawa hadiah, kadang juga tidak. Tidak masalah. Karena dengan ikutan jalan santai itu, saya bisa melihat sudut lain dari Cicalengka yang belum pernah saya lihat.

Jalan-jalan solo ke Bandung pun kalau tidak naik angkot, ya, jalan kaki. Fifty-fifty-lah. Kadang ngangkot, kadang jalan kaki. Enak, bebas, jadi hafal jalan. Kalau nyasar, saya bisa nebak-nebak harus pilih jalan yang mana supaya bisa kembali ke titik awal atau tujuan berikutnya.

Di Surabaya ini pun saya sering jalan kaki. Ke pasar, sekolah, mini market. Saat jalan-jalan berempat pun kami tidak ragu jalan kaki kalau sanggup. Sejauh ini, tidak ada kendala yang kami hadapi selain panas dan hujan. Atau, julidan orang-orang yang merasa kasihan melihat kami (terutama si kecil) jalan kaki siang bolong. Dibilang tegalah, miskinlah karena tidak bawa atau sewa kendaraan.

Padahal orang tua kami membiasakan jalan kaki. Padahal, orang-orang di luar negeri juga biasa jalan kaki. Orang Indonesia itu sombong dan pemalas. Punya kekayaan dikit, pamer dan meremehkan orang lain. Punya motor, memandang rendah yang jalan kaki.

Buat saya pribadi, jalan kaki kadang menjadi sebuah kegiatan kontemplatif. Kadang saya nggak merhatiin jalan, kecuali kalau jalannya ramai. Saya berjalan kaki sambil melamun, mikir. Selalu muncul pikiran atau kalimat random dalam benak saya tiap kali melangkah. Dan saya tidak pernah tega menampiknya.

Saya tidak peduli berapa langkah yang sudah saya tempuh saat berjalan kaki. Saya lebih peduli pada apa yang saya pikirkan. Apalagi kalau jalan kaki sendirian. Saya mendapat kebebasan mau melihat apa, mendengar apa, berpikir tentang apa, merasakan apa, merencanakan apa.

Jalan kaki seperti memberi saya kesempatan untuk memutuskan sebuah hal tanpa merugikan diri saya sendiri. Semisal saya berpikir sambil mengemudikan sepeda motor atau mobil, tentu itu berbahaya buat saya dan orang lain. Kalau jalan kaki, asalkan tidak menyeberang, paling-paling saya kepleset, kaki terantuk batu, menubruk orang, dan itu jarang sekali terjadi. Ya… itu juga berbahaya, sih. Tapi risikonya kecil.

Entah sampai kapan saya sudi jalan kaki. Sampai saat ini, walaupun saya tahu jalan kaki itu capek, saya masih sanggup menjalaninya. Anggap saja latihan. Siapa tahu di masa yang akan datang kami tinggal di luar negeri yang orang-orangnya terbiasa jalan kaki.

Apakah Aku Mencintai Kebunku?

Segala yang hijau di halaman rumahku tumbuh bukan karena tanganku. Mereka hadir karena tangan tak terlihat yang membentuk dan mewarnai setiap helai daun, menuntunnya menjulur hingga menyentuh kulitku. Setiap pagi aku berjalan melewati mereka, sebelum membuka pagar dan pergi. Tapi sering kali aku tak benar-benar mendengar. Mereka barangkali ingin bercerita, tetapi aku lebih sering sibuk mendengarkan suara-suara di kepalaku sendiri.

Meski begitu, mereka tetap tinggal bersamaku. Akar-akar mereka berdenyut di tanah yang sama tempatku berpijak. Kadang muncul ke permukaan, seolah ingin mengingatkanku bahwa mereka ada, bahwa mereka ingin dijumpai. Dan yang bisa kuberikan hanyalah air. Atau daun-daun tua yang kukumpulkan agar tak melewati senja sendirian.

Lambat laun, tanganku tergerak. Aku mulai menyentuh daun-daun mereka lebih pelan, menatap pertumbuhan yang nyaris tak terlihat namun pasti, dan berdoa agar mereka terus hidup, meski musim terus berganti. Kupikir, mungkin beginilah caraku mencintai kebunku. Tanpa kata, tanpa janji. Hanya dengan tinggal, memperhatikan, dan merawat sebisaku.

Aku tidak pernah mengucap cinta pada kehidupan kecil di petak halaman ini. Tapi barangkali cinta justru tumbuh dari kehadiran yang setia, dari hal-hal yang dilakukan berulang kali. Mungkin cinta itu hadir karena kita terbiasa menyapa, karena kita tak lagi asing. Seperti yang dikatakan Mary Oliver:I walk in the world to love it. Maka mungkin, aku mencintai kebunku bukan karena aku sengaja, tetapi karena aku hidup bersamanya. Dan setiap langkah kecilku di atas tanah ini adalah cara tubuhku berkata: aku peduli.