Merayakan Makna “Aku” melalui Anthem

“Anthem”
Penulis: Ayn Rand
Jenis: Fiksi (dystopia)
Jumlah halaman: 108 halaman

Kalau Teman-teman pernah baca We karya Yevgeny Zamyatin atau 1984 karya George Orwell, Anthem karya Ayn Rand ini terasa seperti berada di semesta yang sama. Bedanya, kalau We menyuguhkan kekalahan batin sang tokoh utama yang tragis, Anthem justru mengambil arah sebaliknya: sebuah kemenangan individu yang mutlak.

Novela distopia yang dirilis tahun 1938 ini terhitung sangat ringkas, tetapi pesan filosofis di dalamnya disampaikan secara blak-blakan.

Cerita berlatar di masa depan tempat totalitarianisme ekstrem (The Great Rebirth) berhasil menghapus konsep individualitas. Di dunia ini, tidak ada nama pribadi. hanya ada nama nilai kolektif dan nomor (seperti Equality 7-2521 dan Liberty 5-3000). Hampir sama dengan We. Di negeri ini pula, semua keputusan hidup ditentukan oleh dewan pusat.

Yang tidak kalah mengerikan, tata bahasa diubah total: kata ganti tunggal (Aku, Saya, Milikku) dilarang keras dan dilupakan. Semua orang merujuk diri sendiri dengan kata Kami (We). Trik kebahasaan ini sangat efektif menggambarkan betapa parahnya kontrol mental negara.

Ceritanya begini. Sang tokoh utama, Equality 7-2521, adalah seorang pembersih jalan yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Sebuah “dosa” besar di masyarakat tersebut. Suatu hari, ia diam-diam menemukan sebuah terowongan rahasia peninggalan masa lalu. Di sanalah ia melakukan eksperimen ilmiah hingga berhasil menciptakan kembali lampu pijar.

Ketika ia membawa penemuan tersebut ke Dewan Ilmuwan dengan niat baik, ia justru dianggap mengancam tatanan kesetaraan. Pelariannya ke Hutan Terlarang (Uncharted Forest) bersama sang kekasih (ia menyebutnya Golden One) menjadi awal dari penemuan kembali jati diri manusia.

Di penghujung cerita, si tokoh akhirnya menjunjung ego. Istilah “ego” di sini tidak diartikan sebagai sifat sombong yang merugikan orang lain, melainkan kesadaran diri dan hak dasar manusia untuk berpikir mandiri.

Berbeda dengan novel distopia lain yang sering kali berakhir muram, Anthem terasa seperti sebuah deklarasi kemerdekaan pribadi yang optimistis. Novela ini cocok buat Teman-teman yang suka cerita distopia tetapi lelah dengan ending yang depresi. Buku ini mengingatkan kita bahwa hal paling berharga dari seorang manusia adalah pikirannya yang merdeka. Dan “aku” adalah fondasi dari seluruh makna kebebasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.