Hujan Masuk Angin

Wajahnya membiru dan mengeras. Nyaris beku. Lekas-lekas kugandeng ia ke kamarku. Basah di lantai sepanjang jalur menuju kamar. Tak lekas kupel. Aku terlalu repot menangani hujan yang masuk angin ini.

Kubaringkan ia di dipan. Di bawah selimutku yang penuh tambalan ia menggigil. Badannya bergetar dan giginya menggeletuk.

“Sudah kubilang, jangan kelamaan di udara. Begitu turun, langsung berlindung dari angin. Bersembunyilah di balik daun-daun, di dalam tanah.

“Dan jangan coba-coba membuat kubangan untuk bermain air. Di jalan banyak debu dan kotoran. Nanti kamu kena infeksi.”

Ia diam saja. Mungkin menyesal karena tidak mematuhi nasihatku.

Aku hendak memijatnya. Tapi ia malah menyuruhku keluar. Katanya, “aku bisa serdawa kalau masuk angin begini. Kau akan jijik mendengarnya.”

Aku pun menarik tubuhku, menjauh beberapa senti. Benar saja, ia berserdawa. Keras sekali. Tak hanya itu, pantatnya juga mengeluarkan desis dan bau yang menyengat.

Tanpa membiarkannya menyuruh dua kali, aku pun keluar kamar. Di dapur, aku menghangatkan diri di depan tungku, menjerang air panas untuk makan malamku. Secangkir wedang jahe dan semangkuk mi instan rebus akan mencegahku dari masuk angin. Aku tidak boleh sakit. Banyak yang harus kulakukan besok.

Semalaman aku berbaring di sofa tanpa selimut. Karena satu-satunya selimut yang kupunya dipakai hujan. Televisi kunyalakan tanpa kukecilkan volume suaranya biar rumahku benderang dan hangat.

Esoknya saat aku bangun, tak terdengar lagi tetabuhan di atas genting. Hanya suara burung bersahut-sahutan di pohon dan bentangan kabel. Langit cerah dan bersih. Awan sudah menumpahkan isinya tanpa sisa. Hanya ada sedikit jejaknya yang tertinggal di daun dan rumput, yang dengan gegas menetes ke dalam tanah sebelum terpanggang matahari.

Aku pun beranjak ke kamar. Selimutku tersingkap. Hujan sudah tidak di sana lagi. Meninggalkan kasurku yang basah kuyup hingga airnya menetes ke lantai dan membuat genangan.

Kerja keras pun dimulai. Mula-mula selimut yang kubawa keluar dan kusampirkan di atas pagar tembok. Lalu susah payah kuangkut kasur ke pekarangan. Basah kembali di lantai sepanjang jalur menuju amben tempatku membaringkan kasur di bawah matahari.

Aku kembali ke kamar dengan menenteng lap dan ember. Entah berapa kali aku mondar-mandir membawa ember berisi air, kemudian kosong.

Selalu merepotkan begini jika ia datang. Dinasihati berkali-kali, masuk angin berulang-ulang, tak juga jera ia.

Dasar hujan! Sukanya bermain saja bersama angin. Tak pernah ia berpikir tentang aku yang tak pernah bisa tenang di dalam rumah.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.