“Fung Lin, bagaimana kabarmu?” tanya saya melalui telepon.
“Aku sudah membaik sekarang.”
“Syukurlah. Bagaimana Rafi? Dia masih menghubungimu?”
“Iya dong. Dia janji akan mengajakku keluar minggu depan.”
“Janji? Kamu percaya dengan janji Rafi? Dia kan politikus. Janji-janjinya nggak bisa dipercaya.”
“Aku percaya dia kok,” tukas Fung Lin tanpa ragu.
“Ih, kok bisa sih?”
“Bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa aku lakukan. Lagipula kamu tahu sendiri, aku sangat menginginkan Rafi dan ciuman di bawah hujan. Aku dan Rafi belum pernah melakukannya. Minggu depan itu, kalau kebetulan hujan turun, aku dan Rafi akan melakukannya.”
“Lho, bukankah Rafi sudah menciummu di bawah hujan?”

