Rumput buat Papa

Papa suka rumput. Dulu setiap hari papa bermain dengan rumput. Tanpa rumput, papa cuma akan berbaring di kasur. Atau menonton teve sampai matanya berkunang-kunang.

Papa sayang sekali pada rumput dan tidak suka kalau mereka gondrong. Karena itu papa selalu memotong rumput sampai rapi, seperti memotong rambut anaknya yang lelaki.

Sekarang papa tidak lagi bermain dengan rumput. Tidak juga berbaring di kasur atau menonton teve sampai matanya berkunang-kunang. Papa sekarang ada di langit. Saban pagi dan sore papa suka menyiram halaman rumah sampai rumput tumbuh setinggi lutut.

Papa tahu aku tidak suka rumput. Ia suka mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar dan berkata padaku, “Nak, cintai rumput. Mereka kan teman-teman papa.”

Aku suka heran, kenapa papa selalu menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak aku suka? Aku tidak suka rumput, tapi papa malah menyuruhku mencintai mereka.

Barangkali karena aku tidak mengabulkan permintaannya, papa marah. Papa tak pernah lagi menyiram tanah. Rumput pun tidak ada yang tumbuh di pekarangan rumah.

Aku kangen papa dan rumput. Kulihat rumput di rumah tetangga tumbuh subur. Kucabut beberapa jumput dan kutanam mereka di dalam kepala. “Papa, aku menanam rumput di kepalaku,” beritahuku pada papa.

Papa tampaknya senang karena aku mencintai rumput juga, bahkan menanamnya di dalam kepala. Karena itu papa menyiram kepalaku. “Semoga rumput di kepalamu ini tumbuh subur, Nak,” papa berdoa.

Doa papa terkabul. Rumput di kepalaku tumbuh subur. Aku akan memberikannya buat papa.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.