Petuah Bijak Supir Angkot

Bepergian sehabis lebaran merupakan sebuah kegiatan yang sebisa mungkin saya hindari. Macet, kendaraan umum sesak penumpang dan tarifnya mahal. Namun untuk beberapa kasus, saya harus bepergian sehabis lebaran. Ini saya lakukan ketika masih di Cicalengka. Tujuannya tidak jauh-jauh amat: ke Bandung. Namun ceritanya tentu lain dari hari-hari biasa ketika saya pergi ke Bandung untuk sekadar main.

Seperti pada habis lebaran tahun 2009. Saya pergi ke Bandung untuk menjenguk keponakan yang dirawat di sebuah rumah sakit di kawasan Kopo. Biasanya kalau ke sana untuk berobat, saya diantar pakai kendaraan pribadi. Sementara kali itu saya harus naik kendaraan umum. Sendirian pula. Masalahnya, saya tidak hafal kendaraan menuju ke sana.

Sebetulnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun saya nantinya nyasar, toh masih di Bandung ini. Beberapa wilayah saya hafal situasinya, termasuk wilayah rumah sakit tempat keponakan saya dirawat tersebut.

Untuk memudahkan perjalanan, dari Cicalengka saya bisa saja naik elf atau bus tujuan terminal Leuwi Panjang. Hanya, setiba di Leuwi Panjang, terus saya naik angkot apa? Saya tidak hafal semua rute angkot di Bandung. Kadang saya harus bertanya dulu kepada orang yang lebih tahu, yang artinya mereka yang berdomisili di Bandung dan biasa menggunakan angkot sebagai kendaraan yang mengantar mereka ke berbagai tujuan.

Saya punya semacam guide tentang rute angkot Bandung. Namun untuk destinasi Kopo dari Leuwi Panjang, saya sangsi dan tidak berani coba-coba. Terlebih lagi saya tidak hafal situasi terminal seperti apa. Kalau saya kelihatan seperti orang bingung, bisa-bisa saya dikerjain orang-orang terminal. Dikiranya saya pendatang yang sama sekali belum hafal kota Bandung.

Tapi kalau naik kereta, dari stasiun Bandung mungkin ada banyak pilihan angkot menuju Kopo, pikir saya. Kalau saya pelajari guide-nya, rata-rata dari Kebon Kawung ke Kopo harus dua kali naik angkot. Yang harus dipikirkan ulang, rute angkot Bandung suka berubah. Saya tidak bisa mengandalkan guide tersebut untuk memandu saya menjelajah Bandung.

Bingung, saya bertanya pada tante saya yang tinggal di kawasan Soekarno-Hatta. Biasanya kalau mau ke Kopo beliau naik angkot jurusan Ciwastra-Cijerah, warna abu-abu pucat. Dari Ciwastra, angkot itu melaju di atas Jalan Buah Batu (Bubat).

Berhubung saya familiar dengan jalan Bubat dan hafal persis dari stasiun harus naik apa untuk menuju ke sana, akhirnya saya putuskan untuk naik kereta api saja. Mungkin nanti rutenya memutar. Tidak apa-apa, yang penting saya sampai di rumah sakit.

Kereta yang saya tumpangi adalah kereta patas. Di hari-hari biasa, kereta tersebut tidak sesak. Sepenuh-penuhnya kereta patas, tidak akan sampai tampak seperti kereta yang mengangkut penumpang mudik yang biasa kita lihat di televisi. Namun karena ini habis lebaran, pemandangan seperti itu pun harus saya lihat di depan mata. Sialnya lagi, saya harus mengalami sendiri acara desak-desakan dengan penumpang. Untunglah saya bisa cepat naik kereta, sehingga bisa kebagian tempat duduk walau berhimpitan dengan penumpang lain.

Sampai stasiun Bandung, saya kembali ragu. Pilih ke Bubat dulu kemudian naik angkot abu-abu pucat, atau ke Kalapa dulu dan cari angkot menuju Cibaduyut? Yang lebih cepat barangkali ke Kalapa dulu, rutenya tidak harus memutar. Namun karena hati lebih memilih angkot abu-abu pucat, saya putuskan saja ke Bubat dulu. Risikonya, jalannya memutar jauh sekali sampai melewati simpang lima Gatsu (Gatot Subroto).

Angkot melalui kawasan Alun-alun. Melalui kaca belakang (saya duduk di pojok mengingat tujuan saya jauh) saya melihat angkot merah dan biru. Mendadak saya ingat, bukankah angkot biru juga ke Bubat, tapi jalannya tidak memutar? Seketika saya ingin ganti angkot saja. Namun angkot hijau muda yang saya tumpangi keburu melesat ke Banceuy, dan saya malas kalau harus jalan kaki ke Dalem Kaum.

Saya masih duduk di angkot jurusan Gede Bage itu. Sampai… angkot tersebut masuk Jalan Naripan dan ngetem! Sudah begitu selama perjalanan supirnya banyak menghentikan angkot, bukan hanya untuk mencari penumpang, tetapi untuk bertukar sapa dengan kawan-kawannya.

Ketika akhirnya angkot memasuki Martanegara, saya merasa lega. Sebentar lagi saya akan turun dan ganti angkot. Pantat rasanya sudah panas kelamaan duduk. Padahal bukan sekali ini saja saya naik angkot hijau muda ini dari stasiun ke Bubat.

Di Jalan Reog, seorang ibu yang membawa anaknya bertanya, “Pak, Taman Lalu Lintas masih jauh?”

Saya dan seorang penumpang lain bengong. Pak supir pun bingung. Tapi supir lalu menjelaskan, “Taman Lalu Lintas itu di Jalan Belitung, Bu. Ibu salah naik angkot.”

“Lho, bukannya angkot stasiun-Gede Bage ini?”

“Benar, Bu,” kata pak supir, “tapi rute yang satunya lagi. Ini menuju Gede Bage, by pass. Tuh, di depan situ ada angkot menuju Taman Lalu Lintas. Ibu naik saja angkot itu.”

“Ibu naiknya dari mana?” tanya penumpang lain yang bapak-bapak.

“Dari stasiun.”

“Kalau dari stasiun harusnya naik angkot ke Dago,” beri tahu bapak-bapak itu.

“Wah, kita salah naik angkot,” kata ibu satunya lagi. Mereka mungkin bersaudara atau berteman, atau bertetangga, yang sama-sama ingin mengajak anak mereka ke Taman Lalu Lintas.

Supir angkot tertawa. “Nggak apa-apa atuh, Bu. Biar tahu yang benar kan kadang-kadang harus salah dulu,” ujarnya, menghibur dua ibu itu yang mungkin merasa malu dan menyesal karena tidak bertanya dulu sebelum naik angkot.

Segera kami meluncur ke Jalan Kliningan. Dekat pertigaan, persis di depan Jalan Taman Kliningan tempat saya biasa turun angkot ini untuk berkunjung ke PSS, angkot berhenti. Dua ibu yang salah naik angkot itu turun, membayar ongkos dan naik angkot yang juga berwarna hijau muda namun dengan tujuan stasiun hall.

Saya tidak menertawakan dua ibu tadi. Kadang-kadang saya juga seperti itu. Saya hanya terkesan dengan kata-kata pak supir.

Memang benar, untuk tahu yang benar kadang-kadang kita harus berbuat kesalahan dulu. Tidak harus seperti itu selamanya. Kalau tahu yang benar, lakukan saja yang benar. Namun ada kalanya kita tidak tahu apa-apa. Dan berbuat sesuatu meski salah, lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa.

Efeknya bagi saya, saya jadi tidak takut salah naik angkot lagi. Justru dengan coba-coba naik angkot, saya bisa tahu daerah-daerah di Bandung yang belum pernah saya lihat. Tidak peduli waktu, uang dan tenaga banyak yang terbuang.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Join the Conversation

4 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.