Merawat Buku

Seorang teman meminjam buku koleksi saya. Dia minta pinjam buku terjemahan dari bahasa Prancis. Saya berikan Le Petit Prince.

Ketika buku itu saya sodorkan, teman saya berkomentar, “Ini buku nggak pernah dibaca ya?”

Saya tertawa. Sebaliknya, buku itu berkali-kali saya baca. Buku favorit sih. Tapi kondisi bukunya yang sehat wal afiat dan tidak kurang satu apapun membuat teman saya beranggapan bahwa buku itu tidak pernah saya sentuh.

Saya memang lumayan apik dalam menyimpan sesuatu. Yah, kadang-kadang saya ceroboh juga sih. Tapi percaya deh, sebagian besar barang-barang saya disimpan dengan apik.

Untuk buku pun seperti itu. Saya menyediakan beberapa pembatas halaman. Supaya kalau sedang membaca buku terus tiba-tiba harus break, kertasnya tidak perlu dilipat. Cukup selipkan pembatas halaman dan buku pun akan tetap rapi. Kalau tidak ada pembatas halaman, bisa memakai kertas biasa.

Sedangkan sampul, kebanyakan buku saya disampul. Semasa tinggal di Bandung, saya biasa membeli buku di Palasari, Togamas, Rumah Buku, atau Nalar. Beli buku di toko-toko itu itu enak banget. Selain dapat diskon, bukunya juga disampul gratis.

Tapi tidak semua toko buku tahu cara meyampul buku dengan baik dan benar. Kebanyakan mereka menyampul buku asal-asalan, asal kertas kovernya terbungkus plastik, dengan menempelkan selotip pada bagian dalam kertas kover. Saya juga dulunya kalau menyampul buku sendiri dengan plastik meteran ya seperti itu. Tapi ketika seorang teman melihat cara saya menyampul buku, dia langsung menegur, “Selotipnya jangan ditempelin ke kertas, kasihan bukunya.”

Ups! Terlanjur tertempel. Gimana dong?

Jadi untuk selanjutnya, kalau menyampul buku sendiri saya tidak menempelkan selotip ke buku. Dan ketika saya lihat cara Rumah Buku menyampul buku, mereka tidak menggunakan selotip. Barangkali sebaiknya seperti itu. Tapi itu malah membuat plastiknya jadi mudah lepas dari bukunya.

Itu soal memperlakukan dan menyampul. Bagaimana dengan menyimpan buku?

Saya pernah diberi tips menyimpan buku di rak, antara lain: beri kamper agar buku tidak dimakan ngengat, pisahkan buku berdasarkan jenisnya (misal buku anak-anak, fiksi dewasa, nonfiksi, dsb), dan buat daftar buku. Seperti perpustakaan saja. Tapi yang pasti ini sangat berguna supaya buku kita tetap bagus kondisinya. Buku yang sehat akan membuat nyaman yang membacanya kan?

Lebih dari itu, anggap buku sebagai teman. Mungkin ada yang suka dengan buku yang dibeli, ada juga yang tidak. Terserah. Tapi setidaksuka-tidaksukanya kita pada seseorang, kita tidak akan tega menyakitinya kan? Nah, sama buku juga begitu.

Itu beberapa tips dari saya. Semoga bermanfaat. Selamat merawat buku dan membaca. 🙂

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Join the Conversation

4 Comments

  1. saya gak punya buku terlalu banyak, banyaknya komik
    klo komik jelas selalu saya sampul dengan plastik
    (ada sampul plastik ukuran komik loh, jadi gak pakai selotip)
    dan pastinya di kelompokkan dengan judulnya

  2. Caranya sebetulnya sama dengan nyampul buku di Togamas. Cuma, pinggir-pinggirnya dilebihin kira-kira 3-5 cm. Ngelipetnya juga harus kuat biar nggak gampang kebuka. Dan plastiknya harus yang nempel ke sampul buku.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.