Petuah Bijak Supir Angkot

Bepergian sehabis lebaran merupakan sebuah kegiatan yang sebisa mungkin saya hindari. Macet, kendaraan umum sesak penumpang dan tarifnya mahal. Namun untuk beberapa kasus, saya harus bepergian sehabis lebaran. Ini saya lakukan ketika masih di Cicalengka. Tujuannya tidak jauh-jauh amat: ke Bandung. Namun ceritanya tentu lain dari hari-hari biasa ketika saya pergi ke Bandung untuk sekadar main.

Seperti pada habis lebaran tahun 2009. Saya pergi ke Bandung untuk menjenguk keponakan yang dirawat di sebuah rumah sakit di kawasan Kopo. Biasanya kalau ke sana untuk berobat, saya diantar pakai kendaraan pribadi. Sementara kali itu saya harus naik kendaraan umum. Sendirian pula. Masalahnya, saya tidak hafal kendaraan menuju ke sana. Continue reading

Posted in diary | Tagged | 4 Comments

Tiga Puisi Pendek

#1: Bintang Jatuh

bintang ingin bertandang
ke rumahmu
tapi rumahmu kejauhan
bintang kecapekan di jalan
jadi ia jatuh di kamarku
tidak mengapa
besok kuantar bintang
ke rumahmu

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Rumput buat Papa

Papa suka rumput
Tanpa rumput,
papa cuma akan berbaring di kasur
atau menonton televisi
sampai matanya berkunang-kunang

Papa sayang sekali pada rumput
dan tidak suka kalau mereka gondrong
Karena itu papa selalu memotong rumput
sampai rapi
seperti memotong rambut anak lelakinya

Sekarang papa tidak lagi bermain dengan rumput
Tidak juga berbaring di kasur
atau menonton televisi sampai matanya berkunang-kunang

Papa sekarang ada di langit
Saban pagi dan sore,
papa suka menyiram halaman rumah
sampai rumput tumbuh setinggi lutut

Papa tahu aku tidak suka rumput
Ia suka mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar
dan berkata padaku,
“Cintailah rumput. Kelak, mereka akan memberi arti bagimu.”

Aku selalu heran,
kenapa papa selalu menyuruhku melakukan
sesuatu yang tidak aku suka?
Aku tidak suka rumput,
tapi papa malah menyuruhku mencintai mereka

Barangkali
karena aku tidak mengabulkan permintaannya,
papa marah
Papa tak pernah lagi menyiram tanah
Rumput pun tidak ada yang tumbuh
di pekarangan rumah

Aku kangen papa dan rumput
Kulihat rumput di rumah tetangga tumbuh subur
Kucabut beberapa jumput dan
kutanam mereka di dalam kepala
“Papa, aku menanam rumput di kepalaku,”
beritahuku pada papa

Papa tampaknya senang karena akhirnya
aku mencintai rumput
bahkan menanamnya di dalam kepala
Karena itu papa menyiram kepalaku
Mungkin supaya rumput di kepalaku tumbuh subur

Jika rumput di kepalaku tumbuh subur,
aku akan memberikannya buat papa

Posted in poem | Leave a comment

DAR

Pada launching Salamatahari #2-nya Sundea, ada yang membawa balon. Kalau tidak salah, jumlahnya tiga. Warnanya saya lupa apa saja. Karena saya sendiri sebetulnya kurang memperhatikan keberadaan balon-balon itu.

Tahu-tahu ketika sedang mengkhusyukki acara…

DAR!!!

Salah satu balon meletus!

Continue reading

Posted in diary | 2 Comments

Merawat Buku

Seorang teman meminjam buku koleksi saya. Dia minta pinjam buku terjemahan dari bahasa Prancis. Saya berikan Le Petit Prince.

Ketika buku itu saya sodorkan, teman saya berkomentar, “Ini buku nggak pernah dibaca ya?”

Saya tertawa. Sebaliknya, buku itu berkali-kali saya baca. Buku favorit sih. Tapi kondisi bukunya yang sehat wal afiat dan tidak kurang satu apapun membuat teman saya beranggapan bahwa buku itu tidak pernah saya sentuh.

Saya memang lumayan apik dalam menyimpan sesuatu. Yah, kadang-kadang saya ceroboh juga sih. Tapi percaya deh, sebagian besar barang-barang saya disimpan dengan apik.

Continue reading

Posted in thoughts | Tagged | 4 Comments