Bertemu Sundea

Akhirnya saya bertemu lagi dengan cewek yang satu ini: Sundea. Sebelumnya, terakhir kami bertemu pertengahan 2010 lalu di launching Rona Kata. Setelah itu, ketemuan sebatas internet. Nah, Senin 14 November kemarin, saya dan Brahm berkunjung ke rumah Dea di sekitaran Setiabudi, Bandung. Kami ngobrol-ngobrol tentang penulisan, pastinya. Wawasan Dea tentang menulis banyak sekali. Maklumlah, dia kan sudah punya banyak pengalaman. Saat saya pertama kenal dia pun, Dea mengajari saya banyak hal tentang menulis.

Continue reading

Posted in diary | Tagged , | 1 Comment

Kisah Seekor Anjing Terlantar

“A Dog’s Life”

Penulis: Ann M. Martin

Jenis: Novel

Tebal: 215 halaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Bagaimana rasanya menjadi anjing terlantar? Simak kisah Squirrel, seekor anjing yang dilahirkan di sebuah gudang bersama kakaknya, Bone. Antara mereka dan manusia pemilik gudang terdapat jarak yang terbentang cukup panjang, jadi jangan pikir Squirrel beserta induknya dan Bone bisa mendapat makanan yang enak. Continue reading

Posted in review | Tagged | Leave a comment

Tokoh Murid Baru dalam Cerita Anak

Dalam banyak cerita anak, baik novel ataupun film, selalu ada tokoh murid baru. Dalam Laskar Pelangi, contohnya, ada murid baru bernama Flo. Sosok Flo sebetulnya sudah dikenal anak-anak SD Muhammadiyah, namun kehadirannya di sekolah yang sudah mau roboh itu tetap menarik perhatian kesepuluh anak Belitong tersebut. Flo anak orang kaya. Berbanding terbalik dengan siswa-siswi Bu Mus. Tak heran, kedatangan Flo beserta perlengkapan sekolahnya menyedot rasa ingin tahu dan kagum yang besar bagi Ikal cs.

Continue reading

Posted in thoughts | Tagged | 1 Comment

Brahmanto Anindito

Penghobi traveling, futsal dan catur ini memang tidak pernah bisa jauh dari kegiatan baca-tulis. Sejak SD, Brahm sudah gemar membaca buku-buku seperti Lima Sekawan-nya Enid Blyton, Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock, STOP-nya Stefan Wolf, dan seri Pilih Sendiri Petualanganmu. Juga cerita-cerita pendek detektif di majalah KawanKu serta rubrik Terka Perkara di majalah Intisari.

Dari ketertarikan akan bacaan-bacaan itulah Brahm mulai menulis. Akan tetapi, bukan tulisan sendiri yang dia buat, melainkan tulisan-tulisan dari apa yang dia baca tersebut. Ya, Brahm dulunya adalah seorang plagiator. Dia menulis ulang bab di novel yang dia baca, menggabung-gabungkan artikel, atau sekadar menulis rangkuman. Hasil “tulisannya” itu kemudian dipamerkan ke teman-teman atau keluarganya sendiri sebagai karyanya. Continue reading

Posted in review | Tagged , , | Leave a comment

Salamatahari

Tahun 2008 silam saat pertama kali berkunjung ke Tobucil, saya menemukan sebuah buku yang unik karangan Sundea berjudul Salamatahari. Buku yang berukuran mini, bergambar ceria, dan ketika dibuka isinya berupa cerita-cerita mini serupa diary yang dilengkapi dengan ilustrasi di setiap ceritanya.

Tema cerita-cerita dalam Salamatahari tidak jauh dari keseharian. Akan tetapi, ini bukan cerita biasa seperti curhat seorang gadis remaja tentang pacar atau temannya. Sebab Sundea mengisahkan perhatian dan relasinya dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, seperti matahari, rice cooker, senter, gitar tua. Continue reading

Posted in review | Tagged | 4 Comments