Umbi yang Terabaikan

Sejak awal berkebun, kami nanem singkong. Dengan keterbatasan lahan dan wawasan tentang pertanian, kami pikir nanem singkong semudah nanem bayam brazil. Tinggal tancepin batangnya ke tanah, rutin disiram dan dibiarin kena matahari, tunggu waktu panen, udah.

Tanaman singkong kami tumbuh subur sekali. Daunnya lebat banget. Sampai-sampai pernah ada seekor kucing liar yang setengah dipelihara kerabat kami, selalu berteduh di bawah pohon singkong itu.

Cuma anehnya, tiap kali umbinya dipanen, hasilnya jarang sekali memuaskan. Sering kerdil. Nggak jarang yang dimakan masih berupa akar, bukan umbi. Padahal umurnya udah cukup buat dipanen. Mungkin karena tanahnya kurang cocok. Mungkin juga karena kurang perawatan. Atau karena kami terlalu terpukau dengan daunnya yang lebat itu sampai nggak merhatiin yang di dalam tanah?

Dan bukankah kita sering kayak gitu? Lihat orang yang kayaknya hepi-hepi aja, baik-baik aja, tapi siapa yang tahu kalau dia sebetulnya nggak seperti yang kita lihat. Siapa yang tahu kalau dia sedang berjuang keras, atau sudah dan dia kehabisan tenaga bahkan untuk memperbaiki dirinya sendiri? Siapa yang tahu kalau dia ngerasa nggak nyaman dengan hidupnya tapi harus selalu tersenyum? Siapa yang tahu kalau dia nggak baik-baik aja, tapi harus berpura-pura nggak ada masalah supaya orang lain nggak khawatir sama dia?

Siapa yang tahu?

Lawan!

Subuh tadi ujan nanggung. Nggak gerimis, nggak deres. Mataharinya males-malesan bangun dan ngelipet awan.

Apa ini pertanda nggak enak?

Nggak tahu dan mudah-mudahan nggak. Sampe rada siangan, langit masih rada mendung. Tapi nggak berarti aku dan paksu juga males ke TPS. Gimana-gimana juga Pemilu kali ini punya tujuan yang jelas: menyelamatkan negara.

Kami bukan sok pahlawan. Tapi sebagai rakyat, apa lagi yang bisa kami lakukan untuk negara tercinta ini selain memilih 01 atau 03? Malah tadi aku lihat yang biasanya golput, jadi ngasih suara. Berarti emang ada yang nggak beres di negeri ini.

Continue reading Lawan!

Yuk, Baca Buku di Rbm Kali Atas!

Di Cicalengka, kegiatan literasi adalah hal yang istimewa sekaligus tidak istimewa. Kegiatan membaca dan menulis merupakan sebatas tugas sekolah. Bukan sebuah hobi apalagi pekerjaan profesional. Tidak heran jika di Cicalengka tidak ada taman bacaan. Ada perpustakaan desa, tapi sepi pengunjung. Ada persewaan buku, tapi yang banyak digemari adalah komik. Penjual koran juga ada, tapi hanya segelintir orang yang benar-benar membaca berita dan artikel-artikel berbobot di dalamnya.

Continue reading Yuk, Baca Buku di Rbm Kali Atas!

Hayooo... Mau apa?