Buku-buku yang Berserakan di Pameran Buku

Di Bandung, dalam satu tahun pasti ada pameran buku. Lokasinya di Braga Landmark. Meski lebih dari 20 tahun tinggal di Bandung, cuma sekali saya ke acara itu. Saya rada males ke pameran. Kalau mau beli buku dengan harga murah, lebih baik ke Palasari atau Togamas.

Tapi, karena ada teman yang antusias banget ingin ke pameran tersebut, ditambah saya juga ingin tahu seperti apa gerangan pameran itu, akhirnya pada pameran buku Bandung Agustus 2010 kami ke sana. Benar dugaan saya, Braga Landmark penuh sekali. Kami ke sana sekitar pukul 10 pagi. Semakin siang, semakin banyak pengunjung yang datang. Apalagi itu hari Minggu. Hujan deras pula di luar.

Saya dan teman saya menjelajah stand-stand penerbit. Ada Mizan, Gagas Media, Gramedia, bahkan Kiblat Buku Utama yang menerbitkan khusus buku-buku sunda. Di pameran itu, tidak semua buku mendapat diskon. Dan tidak semua buku bisa kami temukan. Namun, ternyata menyenangkan juga datang ke pameran itu. Walaupun saya tidak memborong banyak buku, paling tidak dengan melihat buku-buku saya jadi semangat nulis terus.

Lalu, kami menemukan sebuah stand yang menawarkan buku-buku dengan harga yang sangat murah. Mulai dari 5.000 sampai 20.000! Itu buku-buku lokal. Ada yang baru, ada yang seken. Buku-buku impor juga banyak. Tapi buku-buku impor harganya bisa mencapai ratusan ribu.

Stand itu dikunjungi banyak orang. Saya dan teman saya kesulitan masuk ke sana. Jadi pertama-tama kami melihat-lihat buku yang ditaruh di rak luar. Yang harganya mulai dari 5000-an.

Tapi, ada pemandangan yang tidak menyenangkan di sini. Saking murahnya, buku-buku itu diacak-acak pengunjung, dibiarkan jatuh dari rak dan berserakan di lantai.

โ€œKalo penulisnya tau, mereka pasti marah liat buku-bukunya diacak-acak kayak gini. Bikinnya kan susah,โ€ kata temen saya.

Memang. Nulis buku itu susah. Makanya harganya bisa mahal. Dan tidak ada penulis yang bakal rela bukunya dibiarkan berserakan di lantai. Apalagi kalau tidak dibeli.

Saya tidak tahu, pada pameran-pameran buku selanjutnya masih ada pemandangan seperti itu atau tidak. Sebagai usul, penyelenggara atau penjual buku yang bersangkutan sebaiknya menambah rak buku supaya semua buku tertampung. Atau paling tidak menggunakan keranjang obralan. Jadi kalaupun buku-buku diacak-acak, mereka tidak sampai jatuh ke lantai dan terinjak.

Tanggal 2 sampai 8 Oktober nanti akan ada pameran buku lagi. Semoga penataan tempatnya lebih teratur.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.