Minggu Membeku

Matahari masih saja berbaring
di balik awan yang tak mau mencairkan hujan
sementara lampu-lampu taman
mematung di atas tiang
dalam belenggu sarang kaca
kehabisan cahaya setelah
semalaman berkobar
melawan gelap

Rumput-rumput kaku
menyangga bunga-bunga mekar yang
mengabadikan warna mereka dalam beku
Tak ada wangi yang tercium
Aroma ikut membeku di udara
Sementara tetes-tetes hujan semalam
mengkristal di permukaan mahkota dan daunnya
Tak sudi menyentuh tanah karena membuat mereka lenyap

Hanya burung-burung yang bergerak
Melompat dari dahan ke dahan dengan lugu
Berharap kicauan mereka dapat membangunkan
angin yang meringkuk di pohon
dan memeluk batang kayu bagai penuh rindu

Minggu statis
Semesta menggigil dalam sunyi
Waktu bergetar dalam gulir
Matahari mencoba melawan dingin
menghantar kehangatan sekilas
pada embun yang perlahan merayap dari daun,
sebelum jatuh dan membeku di atas tanah

Robohnya Kemangi Kami (2)

Masih ingat taneman kemangi kami yang roboh?

Kemarin, kemangi itu mati. Waktu dia ambruk itu, akarnya juga sebetulnya tercabut. Kupikir, kalo batangnya kutegakin lagi terus kusangga pake batu, masalah selesai. Kemangi itu bakal idup lagi kayak sediakala. Ternyata nggak! Daun-daunnya jadi layu. Udah pasti akarnya nggak berfungsi, nggak bisa nyerep air dari dalem tanah.

Selain itu, banyak juga semut yang merayapi batang kemangi. Semut api, yang kalo sampe ngegigit kulit, bisa muncul sensasi gatal dan rasa panas.

Continue reading

Robohnya Kemangi Kami

Selama tiga hari berturut-turut, cuacanya nggak enak banget. Subuh-subuh udah ujan. Setelah reda, langit masih aja mendung. Lanjut ujan lagi. Mendung, ujan, mendung, ujan. Kayak gitu dari pagi sampe malem.

Sebenernya, ada enaknya juga, sih. Mendung dan ujan pas puasa bikin kita nggak haus. Tapi teuteup bikin BT kalo jemuran nggak kering dan nggak bisa pergi ke masjid buat bukber.

Ke kebun juga nggak bisa. Mau siram-siram, udah ada air gratis dari langit. Mau beresin kebun dan cabutin rumput, masa’ iya sambil ujan-ujanan?

Continue reading

Puisi Bulan

Malam gelap
Angkasa senyap
Bulan meminta cahaya pada matahari
Saat yang tepat untuk menulis puisi

Bulan adalah pujangga
Puisi-puisinya dia simpan dalam gugusan bintang
Diunduh majalah-majalah dan koran-koran
Ramalan tentang cinta dan peruntungan setiap pekan