Robohnya Kemangi Kami (2)

Masih ingat taneman kemangi kami yang roboh?

Kemarin, kemangi itu mati. Waktu dia ambruk itu, akarnya juga sebetulnya tercabut. Kupikir, kalo batangnya kutegakin lagi terus kusangga pake batu, masalah selesai. Kemangi itu bakal idup lagi kayak sediakala. Ternyata nggak! Daun-daunnya jadi layu. Udah pasti akarnya nggak berfungsi, nggak bisa nyerep air dari dalem tanah.

Selain itu, banyak juga semut yang merayapi batang kemangi. Semut api, yang kalo sampe ngegigit kulit, bisa muncul sensasi gatal dan rasa panas.

Continue reading

Posted in diary | Tagged , | Leave a comment

Robohnya Kemangi Kami

Selama tiga hari berturut-turut, cuacanya nggak enak banget. Subuh-subuh udah ujan. Setelah reda, langit masih aja mendung. Lanjut ujan lagi. Mendung, ujan, mendung, ujan. Kayak gitu dari pagi sampe malem.

Sebenernya, ada enaknya juga, sih. Mendung dan ujan pas puasa bikin kita nggak haus. Tapi teuteup bikin BT kalo jemuran nggak kering dan nggak bisa pergi ke masjid buat bukber.

Ke kebun juga nggak bisa. Mau siram-siram, udah ada air gratis dari langit. Mau beresin kebun dan cabutin rumput, masa’ iya sambil ujan-ujanan?

Continue reading

Posted in diary | Tagged , , | Leave a comment

Puisi Bulan

Malam gelap
Angkasa senyap
Bulan meminta cahaya pada matahari
Saat yang tepat untuk menulis puisi

Bulan adalah pujangga
Puisi-puisinya dia simpan dalam gugusan bintang
Diunduh majalah-majalah dan koran-koran
Ramalan tentang cinta dan peruntungan setiap pekan

Posted in poem | Leave a comment

Mungkin, Sudah Waktunya dan Seharusnya

Mungkin, sudah waktunya dan seharusnya, aku berhenti mengenalmu sebagai batu kecil yang tak dapat ditaklukkan hujan. Namun, apakah yang sudah mengubahmu jadi tanah liat? Tangan siapakah yang kaulekati hingga kau tunduk pada jemarinya yang membuat lekuk-lekuk pada permukaanmu?

Posted in poem | Leave a comment

Ketika Sajak Jadi Awan dan Cerita adalah Hujan

Adalah air mata yang menguap di atas tungku yang menyala-nyala
Menempuh perjalanan udara menuju biru mulia
Berarak tanya mencari jawab
Lalu turun kepada bumi yang kehabisan lembap

Posted in poem | Leave a comment