Belajar dari Puisi

Melalui puisi, aku belajar menundukkan kepala
membiarkan suaraku ditelan kertas
dan menempuh jalan menuju semesta yang jauh
di mana diksi-diksi bersemayam bersama imaji

Melalui puisi, aku ingin menjadi abadi
menyamarkan sejati dalam bait-bait kiasan
seperti sesendok kecil gula yang bersembunyi dalam secangkir kopi
yang menyentuh lidahmu dengan santun

Melalui puisi, aku belajar melepas gulana
menjadikan hampa sebagai satu-satunya harta
seperti randa tapak yang merelakan biji-bijinya kepada angin
untuk dibawa terbang dan tumbuh di padang rumput lain

Inginku

Inginku adalah menjadi telaga yang menampung hujan, menjadikannya kaca, cermin bagi matahari, pelangi, bulan dan bintang. Tapi jika aku harus menjadi sungai yang mengalirkan hujan ke samudra, tak apa. Paling tidak, sekali dalam hidupku, aku pernah merasakan rintik hujan yang mericik dalam arusku.

Hujan Bermain dengan Tanah

Hujan itu lucu. Kadang, ia memperlihatkan dirinya dengan cara yang berbeda. Hujan menyapa tak selalu dengan menyentuh rambutmu, meski ia berasal dari langit.

Tadi siang hujan berhamburan dari awan menuju bumi. Seperti anak-anak ketika bubar sekolah dan menyerbu mama-mamanya yang menjemput di gerbang.

Sesampainya di bumi, hujan langsung bermain dengan tanah. Tanah yang kering sudah menanti hujan sejak pagi. Baginya, bermain dengan hujan sangatlah menyenangkan. Hujan membuatnya segar dan lentur. Mereka bisa bermain apa saja.

Continue reading Hujan Bermain dengan Tanah

Hayooo... Mau apa?