Thinwall, Wadah Plastik yang Ringkih

Di setiap rumah, pasti ada wadah plastik kayak gini. Thinwall. Di rumah saya juga banyak. Plastiknya yang tipis bikin enteng dibawa ke mana-mana. Harganya yang murah bikin nggak hariwang kalau hilang. Kadang kalau ngasih makanan ke orang lain juga bisa pakai wadah thinwall ini biar nggak perlu dibalikin.

Saya nggak pernah sengaja beli wadah thinwall. Dulu memang saya pernah beli tahu susu atau kurma yang dikemas wadah thinwall supaya nggak ada sampah plastik sekali pakai. Dengan seringnya dapat nasi kotak dari masjid atau dikirimi makanan sama saudara atau tetangga, tanpa harus beli pun kotak kayak gini bisa membludak di rumah. Bentuknya juga nggak cuma kotak. Ada juga yang berupa cup. Besar dan kecil.

Wadah thinwall ini stackable alias bisa ditumpuk. Apalagi kalau tutupnya dilepas. Nggak bakalan makan tempat di lemari atau rak. Cuma, kalau wadah dan tutupnya dipisah, biasanya nanti suka bingung menjodohkan mereka lagi. Soalnya wadah thinwall ini walaupun ukurannya kelihatan sama, sebetulnya bisa beda. Tergantung merek atau pabrik yang ngeluarin mereka. Wadah yang bermerek Lux, nggak bakalan cocok dipasangkan sama tutup yang bermerek Klir.

Continue reading

Posted in thoughts | Tagged | Leave a comment

Pelangi

Matahariku sayang,
Kau tak perlu menciptakan pelangi untuk bisa memeluk hujan
Sebab hujan sudah dipeluk angin dan rasa dingin sudah menjadi bagian dari derainya
Tak perlulah kau berangan bahwa kau dan hujan ditakdirkan bersama
Senja sudah menggelar karpet jingga untukmu menghempas bara

Kalau kau merindukan daun-daun yang basah,
pahamilah bahwa air itu akan diserap tanah
Kalau kau merindukan suara rintik di atas genting,
mengertilah bahwa suara hatimu lebih penting

Pelangi itu hanya ilusi
Jangan terperangkap dalam asa yang kaureka sendiri
Boleh-boleh saja kau punya mimpi
Tapi, seperti yang kautahu,
mimpi pun akan berakhir saat waktu berganti

Relakanlah hujan menjadi sungai yang mengalir ke samudra
Dalam perhentian terakhirnya, kau akan kembali menjumpainya
dalam wujud yang tak lagi sama
Jangan jadikan mutasinya sebagai luka
Semua adalah fana dan kita hanyalah cerita

Posted in poem | Leave a comment

Umbi yang Terabaikan

Sejak awal berkebun, kami nanem singkong. Dengan keterbatasan lahan dan wawasan tentang pertanian, kami pikir nanem singkong semudah nanem bayam brazil. Tinggal tancepin batangnya ke tanah, rutin disiram dan dibiarin kena matahari, tunggu waktu panen, udah.

Tanaman singkong kami tumbuh subur sekali. Daunnya lebat banget. Sampai-sampai pernah ada seekor kucing liar yang setengah dipelihara kerabat kami, selalu berteduh di bawah pohon singkong itu.

Cuma anehnya, tiap kali umbinya dipanen, hasilnya jarang sekali memuaskan. Sering kerdil. Nggak jarang yang dimakan masih berupa akar, bukan umbi. Padahal umurnya udah cukup buat dipanen. Mungkin karena tanahnya kurang cocok. Mungkin juga karena kurang perawatan. Atau karena kami terlalu terpukau dengan daunnya yang lebat itu sampai nggak merhatiin yang di dalam tanah?

Dan bukankah kita sering kayak gitu? Lihat orang yang kayaknya hepi-hepi aja, baik-baik aja, tapi siapa yang tahu kalau dia sebetulnya nggak seperti yang kita lihat. Siapa yang tahu kalau dia sedang berjuang keras, atau sudah dan dia kehabisan tenaga bahkan untuk memperbaiki dirinya sendiri? Siapa yang tahu kalau dia ngerasa nggak nyaman dengan hidupnya tapi harus selalu tersenyum? Siapa yang tahu kalau dia nggak baik-baik aja, tapi harus berpura-pura nggak ada masalah supaya orang lain nggak khawatir sama dia?

Siapa yang tahu?

Posted in diary | Tagged , | Leave a comment

Wasiat

Kau tahu, kenapa aku punya halaman yang luas?

Supaya kau tak perlu repot-repot mencari makam untuk mengubur jasadku
Galilah tanah di bawah pohon kamboja yang telah kutanam sejak lama
Biarkan lembar-lembar mahkotanya berjatuhan dan berserakan di atas pusaraku
agar kau tak mesti repot-repot memetik mawar atau bunga lain
Biarkan aromanya semerbak meski tak seharum melati

Kuburkan juga bersamaku puisi-puisi yang telah kutulis
agar kau tak perlu komat-kamit membacakan doa untukku
Aku telah memilih doa mana yang kubutuhkan,
yang kutulis bersama puisi-puisiku itu

Dan pasangkan nisan bertuliskan:
“Di sini beristirahat dengan tenang,
seorang pujangga yang mencintai rumput.”
Dan biarkan rumput-rumput tumbuh liar di sekeliling kuburku
agar mereka menemaniku
sehingga kau tak perlu sering-sering berziarah dan berpikir
bahwa aku kesepian di dalam tanah

Posted in poem | Leave a comment

Bulan Baru

Bulan habis bertandang ke rumah senja
Parasnya berkilau seperti kencana
Meski wujudnya bukan purnama
Malam ini, bulan jadi primadona

Tapi badannya bau matahari
Bulan tak bisa mandi
Dia juga belum sikat gigi
Awan-awan kering sebab hujan diserap pelangi

Posted in poem | Leave a comment