Inginku
Sabit Emas
Ke mana saja bulan semalam?
Pulang-pulang waktu subuh saat azan berkumandang
Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa sungkan
Dan matahari tetap saja mengulurkan sayang
Diteranginya bulan dengan cahaya yang cemerlang
Meski sebagian rupa bulan sudah hilang
Hujan Bermain dengan Tanah
Hujan itu lucu. Kadang, ia memperlihatkan dirinya dengan cara yang berbeda. Hujan menyapa tak selalu dengan menyentuh rambutmu, meski ia berasal dari langit.
Tadi siang hujan berhamburan dari awan menuju bumi. Seperti anak-anak ketika bubar sekolah dan menyerbu mama-mamanya yang menjemput di gerbang.
Sesampainya di bumi, hujan langsung bermain dengan tanah. Tanah yang kering sudah menanti hujan sejak pagi. Baginya, bermain dengan hujan sangatlah menyenangkan. Hujan membuatnya segar dan lentur. Mereka bisa bermain apa saja.
Thinwall, Wadah Plastik yang Ringkih
Di setiap rumah, pasti ada wadah plastik kayak gini. Thinwall. Di rumah saya juga banyak. Plastiknya yang tipis bikin enteng dibawa ke mana-mana. Harganya yang murah bikin nggak hariwang kalau hilang. Kadang kalau ngasih makanan ke orang lain juga bisa pakai wadah thinwall ini biar nggak perlu dibalikin.
Saya nggak pernah sengaja beli wadah thinwall. Dulu memang saya pernah beli tahu susu atau kurma yang dikemas wadah thinwall supaya nggak ada sampah plastik sekali pakai. Dengan seringnya dapat nasi kotak dari masjid atau dikirimi makanan sama saudara atau tetangga, tanpa harus beli pun kotak kayak gini bisa membludak di rumah. Bentuknya juga nggak cuma kotak. Ada juga yang berupa cup. Besar dan kecil.
Wadah thinwall ini stackable alias bisa ditumpuk. Apalagi kalau tutupnya dilepas. Nggak bakalan makan tempat di lemari atau rak. Cuma, kalau wadah dan tutupnya dipisah, biasanya nanti suka bingung menjodohkan mereka lagi. Soalnya wadah thinwall ini walaupun ukurannya kelihatan sama, sebetulnya bisa beda. Tergantung merek atau pabrik yang ngeluarin mereka. Wadah yang bermerek Lux, nggak bakalan cocok dipasangkan sama tutup yang bermerek Klir.
Pelangi
Matahariku sayang,
Kau tak perlu menciptakan pelangi untuk bisa memeluk hujan
Sebab hujan sudah dipeluk angin dan rasa dingin sudah menjadi bagian dari derainya
Tak perlulah kau berangan bahwa kau dan hujan ditakdirkan bersama
Senja sudah menggelar karpet jingga untukmu menghempas bara
Kalau kau merindukan daun-daun yang basah,
pahamilah bahwa air itu akan diserap tanah
Kalau kau merindukan suara rintik di atas genting,
mengertilah bahwa suara hatimu lebih penting
Pelangi itu hanya ilusi
Jangan terperangkap dalam asa yang kaureka sendiri
Boleh-boleh saja kau punya mimpi
Tapi, seperti yang kautahu,
mimpi pun akan berakhir saat waktu berganti
Relakanlah hujan menjadi sungai yang mengalir ke samudra
Dalam perhentian terakhirnya, kau akan kembali menjumpainya
dalam wujud yang tak lagi sama
Jangan jadikan mutasinya sebagai luka
Semua adalah fana dan kita hanyalah cerita





