Adalah air mata yang menguap di atas tungku yang menyala-nyala
Menempuh perjalanan udara menuju biru mulia
Berarak tanya mencari jawab
Lalu turun kepada bumi yang kehabisan lembap
Belajar dari Puisi
Melalui puisi, aku belajar menundukkan kepala
membiarkan suaraku ditelan kertas
dan menempuh jalan menuju semesta yang jauh
di mana diksi-diksi bersemayam bersama imaji
Melalui puisi, aku ingin menjadi abadi
menyamarkan sejati dalam bait-bait kiasan
seperti sesendok kecil gula yang bersembunyi dalam secangkir kopi
yang menyentuh lidahmu dengan santun
Melalui puisi, aku belajar melepas gulana
menjadikan hampa sebagai satu-satunya harta
seperti randa tapak yang merelakan biji-bijinya kepada angin
untuk dibawa terbang dan tumbuh di padang rumput lain
Berbisik pada Dahlia
Biarkan aku berbisik pada dahlia
Menyembunyikan rahasiaku pada lapisan-lapisan mahkotanya
Mumpung angin tak bertiup dan kumbang-kumbang belum datang
Hanya ada aku dan dahlia di kebun ini
Menari-nari menanggapi kata-kataku
Membuat hatiku turut berbunga dahlia
dan akan menjadi dahlia meski kau mengatakan aku adalah lili
Inginku
Sabit Emas
Ke mana saja bulan semalam?
Pulang-pulang waktu subuh saat azan berkumandang
Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa sungkan
Dan matahari tetap saja mengulurkan sayang
Diteranginya bulan dengan cahaya yang cemerlang
Meski sebagian rupa bulan sudah hilang


