Hujan Kerasan di Rumahku

Subuh-subuh hujan mengetuk atap rumahku
Meluncur ke jendela
Mengintipku dari lubang ventilasi
Sebab tak kusambut hadirnya

Hujan terlampau lihai untuk kuabaikan
Ia menemukan celah di antara genting yang bergeser
Semalam seekor kucing terpeleset di atap
Mengejar tikus demi terus bertahan hidup

Hujan menetes dari plafon tua
Jatuh ke lantai, mengalir menelusuri garis-garis nat
Berusaha mencari kaki telanjangku
yang kusembunyikan di dalam selimut
Lalu menyebar jadi genangan
Memantulkan bayangan atap tempatnya masuk

Hujan menghambur hingga ke bawah sandal jepit
Bertutur tentang apa yang dilihatnya
saat masih dikandung awan

Hujan berbunyi kian keras
Menimpa cerita demi cerita
Tak juga berhenti ia berkisah
meski angin di luar mencarinya
dan petir memanggilnya pulang

Hujan kerasan di rumahku
Ubin menjaga dinginnya
Dan aku tak tahu kapan ia berhenti berkisah

Posted in poem | Leave a comment

Syukur

Berbaik hatilah pada malam
yang telah memberimu gelap
Segugusan bintang
tak cukup jadi penerang
Tetapi itulah yang kaucari
di langit kelam

Berbaik hatilah pada malam
yang sebentar saja menjenguk
kamarmu
Besok matahari datang
membawa kebisingan dunia
Kicau burung-burung yang
kehilangan pohon
Deru kendaraan yang tak mampu
mengendalikan waktu

Berbaik hatilah pada malam
yang mendekap mimpimu
dalam ketenangan bulan
Membuainya dengan sinar
yang redup agar
kau tak lekas terbangun

Posted in poem | Leave a comment

Selisih

Semalam
angin bertengkar dengan hujan
bulan ketakutan
sembunyi di balik awan

Pagi datang
kabut bertahan di atas jalan
menyembunyikan pohon-pohon tumbang,
merebah pasrah di atas kubangan

Matahari menolak siang
Burung-burung enggan terbang
Tanah menampik gersang

Dalam remang petang
Sebuah doa kupanjatkan
Semoga nanti malam
angin berdamai dengan hujan

Posted in poem | Leave a comment

Sepiring Malam

Sepiring malam
Bertabur bintang
Berhiaskan bulan
Kaulahap sampai kenyang
Sampai habis gulita
Jadi terang
Bergumpal-gumpal awan
kau sapukan ke bibirmu
Menghapus sisa jelaga jadi biru

Tak pernah kau peduli
Matahari merangkak menuju pasar
Belanja dengan gusar
Sebab harga-harga melambung
Membawa nyalanya sampai redup

Tapi tak urung
Di cakrawala,
dengan sisa pelita yang nyaris padam
ia kembali menanak senja
Menyajikan sepiring malam buatmu

Posted in poem | Leave a comment

Hujan Tak Mesti Datang Tepat Waktu

Tak mesti hujan datang tepat waktu
Kadang ia menyalahi kesepakatannya
dengan tanah
Menjadikannya tandus
dan terbelah
Kadang ia mengingkari janjinya
pada bunga-bunga
Membuatnya layu dan gugur

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam awan
Tak ada yang mengerti susah payahnya
mengumpulkan hujan
Tak ada yang paham beratnya
memikul mendung
Dan tak ada yang mafhum
perihnya disalahkan ketika
gelap menghalangi terang

Tak mesti hujan datang tepat waktu
Tak mesti kau menunggu
dan berharap padanya
Tapi mestilah kau yakin ia
tak melupakanmu

Posted in poem | Leave a comment