Selisih

Semalam
angin bertengkar dengan hujan
bulan ketakutan
sembunyi di balik awan

Pagi datang
kabut bertahan di atas jalan
menyembunyikan pohon-pohon tumbang,
merebah pasrah di atas kubangan

Matahari menolak siang
Burung-burung enggan terbang
Tanah menampik gersang

Dalam remang petang
Sebuah doa kupanjatkan
Semoga nanti malam
angin berdamai dengan hujan

Posted in poem | Leave a comment

Sepiring Malam

Sepiring malam
Bertabur bintang
Berhiaskan bulan
Kaulahap sampai kenyang
Sampai habis gulita
Jadi terang
Bergumpal-gumpal awan
kau sapukan ke bibirmu
Menghapus sisa jelaga jadi biru

Tak pernah kau peduli
Matahari merangkak menuju pasar
Belanja dengan gusar
Sebab harga-harga melambung
Membawa nyalanya sampai redup

Tapi tak urung
Di cakrawala,
dengan sisa pelita yang nyaris padam
ia kembali menanak senja
Menyajikan sepiring malam buatmu

Posted in poem | Leave a comment

Hujan Tak Mesti Datang Tepat Waktu

Tak mesti hujan datang tepat waktu
Kadang ia menyalahi kesepakatannya
dengan tanah
Menjadikannya tandus
dan terbelah
Kadang ia mengingkari janjinya
pada bunga-bunga
Membuatnya layu dan gugur

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam awan
Tak ada yang mengerti susah payahnya
mengumpulkan hujan
Tak ada yang paham beratnya
memikul mendung
Dan tak ada yang mafhum
perihnya disalahkan ketika
gelap menghalangi terang

Tak mesti hujan datang tepat waktu
Tak mesti kau menunggu
dan berharap padanya
Tapi mestilah kau yakin ia
tak melupakanmu

Posted in poem | Leave a comment

Padang Aksara

Aku ingin berlari di pekarangan
yang ditumbuhi huruf-huruf dari benih yang kautebar
Huruf-huruf yang tumbuh menentang kemarau
Seperti rumput liar yang menolak layu

Dan di antara huruf-huruf itu aku duduk, membaca cerita dalam tiap helai daunnya
Melupakan kendaraan yang lalu lalang dan menghamburkan debu ke teras rumahku
Sungguh, aku ingin melupakan dunia dan segala nafsunya
dan menanggalkan kekhawatiran yang merenggut dayaku

Biarkan aku berlari di antara tangkai-tangkai huruf yang tetap tegak meski disinggung angin
Biarkan kupetik huruf-huruf itu dan kurangkai menjadi puisi
Yang huruf-hurufnya kelak kaupetik dan kautanam di pekarangan rumahmu

Posted in poem | Leave a comment

Hujan di Bulan

Hujan turun di bulan
Tadi malam
Petir berteriak lantang
Mengoyak awan

Sementara di sini kerontang
Menyentuh dedaunan
Debu bermalam
Dalam kemarau panjang

Posted in poem | Leave a comment