Padang Aksara

Aku ingin berlari di pekarangan
yang ditumbuhi huruf-huruf dari benih yang kautebar
Huruf-huruf yang tumbuh menentang kemarau
Seperti rumput liar yang menolak layu

Dan di antara huruf-huruf itu aku duduk, membaca cerita dalam tiap helai daunnya
Melupakan kendaraan yang lalu lalang dan menghamburkan debu ke teras rumahku
Sungguh, aku ingin melupakan dunia dan segala nafsunya
dan menanggalkan kekhawatiran yang merenggut dayaku

Biarkan aku berlari di antara tangkai-tangkai huruf yang tetap tegak meski disinggung angin
Biarkan kupetik huruf-huruf itu dan kurangkai menjadi puisi
Yang huruf-hurufnya kelak kaupetik dan kautanam di pekarangan rumahmu

Posted in poem | Leave a comment

Hujan di Bulan

Hujan turun di bulan
Tadi malam
Petir berteriak lantang
Mengoyak awan

Sementara di sini kerontang
Menyentuh dedaunan
Debu bermalam
Dalam kemarau panjang

Posted in poem | Leave a comment

Menjelang Tengah Bulan

Udah mau tengah bulan lagi. Perasaan baru kemarin liat bulan baru lahir. Sekarang, dia udah mau gede aja.

Biarpun belum bulat sempurna, cahaya bulan malam ini cukup terang di angkasa malam. Bulan ngerti, sampe kapan pun dia nggak bakal bisa nyentuh bumi. Ada garis orbit yang ngejaga dia supaya nggak ngegelinding ke mana-mana.

Bulan cuman bisa mandang bumi dari jauh. Dalam jaraknya yang luar biasa renggang itu, bulan nggak nyerah ngasih yang terbaik darinya. Dia sengaja minjem cahaya matahari banyak-banyak malam ini. Bukan buat nunjukkin kecantikan atau nutupin kekurangannya. Tapi buat ngasih kekuatan buat bumi biar mampu ngelewatin malam.

Posted in diary | Leave a comment

Between Summer and Winter

Between summer and winter, the trees sway,
Shedding red leaves, burnt after playing with fire.
The sun begins to shine lazily,
Rising late and setting early.
The afternoon slips by,
As if morning is greeted only by night.
And the trees, abandoned by their leaves, grow lonely,
Pierce the clouds with their sharp branches until they feel pain.
The rain falls in fits and starts,
Revealing the pain without wanting to seem weak,
Bringing a chill in the air.
Each drop’s biting through the skin,
Bringing cold all winter long.

Posted in poem | Leave a comment

Kuharap Dandelion Tak Pernah Melupakanku

Aku berharap dandelion tak pernah melupakanku. Aku yang menunggu mereka berbunga dan berubah warna jadi kuning, menahan mereka supaya bergeming saat diajak angin untuk mengembara di udara.

Tapi perpisahan itu datang juga. Waktuku bersama mereka telah usai. Dan angin melepaskan benih mereka satu per satu dari tunasnya. Mereka terbang berbaris, meliuk-liuk laksana rangkaian kereta api menelusuri sawah dan ladang.

Tak ada yang dapat membawa mereka kembali ke padang ini. Bahkan seekor semut yang ikut bersama mereka, memeluk benihnya seperti terbang mengenakan payung, memilih untuk terjun.

Aku berharap dandelion tak pernah melupakanku. Telah kusertakan kebahagiaanku dalam jiwa mereka. Kebahagiaan yang muncul saat kami duduk bersama, merasakan gerimis di antara dingin yang tak dapat dielak, merasakan hangatnya matahari di antara terik yang menyengat.

Aku berharap ini bukan perpisahan. Kami hanya menempuh perjalanan yang berbeda. Dan ingatan akan membawa kami pada pertemuan yang baru.

Posted in thoughts | Leave a comment