Jalan Pulang

Tak ada cara untuk kembali ke masa lalu
Sungai dalam perjalanan menuju laut
Trembesi tumbuh menjulang, menuju langit
Kupu-kupu tak akan menjadi ulat lagi

Tetapi masih ada jalan untuk pulang ke dalam batinku
Angin menyapu debu yang melapisi jalan
Kemarau merenggut rumput yang menutupi setapak
Hujan masih terlelap dalam awan

Dan aku menunggu bersama secangkir rindu
Kenangan telah mengendap di dasar kesabaran

Pengingat

Apapun yang terjadi, bertahanlah. Sekeras apapun hidup ini, tetaplah berdiri. Bukan agar kamu ditimpa lebih banyak ujian. Tetapi mungkin, di luar sana, ada seseorang yang menginginkanmu tetap hidup.

Ada seseorang yang diam-diam ingin menjumpaimu, tapi tak ada kendaraan yang dapat membawanya ke tempatmu, langkahnya kerap terjegal batu besar, waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak dia inginkan tapi harus dia lakukan. Dan mendengar kabar baik tentangmu, seremeh apapun, adalah suntikan kebahagiaan baginya.

Bisa jadi, dia satu-satunya yang peduli padamu ketika yang lain ingin pergi. Bisa jadi, dia salah satu dari orang-orang yang pernah kau lewati di trotoar—tak kau sadari, tak kau kenali. Jarak membuatnya asing bagimu, tapi justru karena itulah, dia tak menghakimi kebiasaan burukmu, seandainya ada. Dia menyimpan ketulusan yang mungkin pernah kau pertanyakan.

Jadi, apapun yang terjadi, bertahanlah. Kebahagiaan kadang mengerjap lemah dalam situasi kelam. Seperti bintang di langit malam yang membuatmu sadar bahwa percikan kecil mampu membuat malam jadi berarti.

Bahasa Tersirat

Kadang angin enggan bertiup
Ia memilih bersembunyi di balik rimbun daun
Menitipkan desir dalam tiap uratnya
Semakin tak ketahuan saja hadirnya
Tetapi ia tak pernah meninggalkan semesta

Begitu juga aku
Tak mesti kujulurkan kepalaku dari jendela
Hanya untuk menjumpai awan
yang berarak di atas kebunku
Aku selalu ada untuk melukiskan jejaknya

Kepak sayap kupu-kupu juga tak bersuara
Dan hujan kadang turun dalam hening
Kesunyian adalah kedamaian hakiki

Aku hanya ingin menciptakan bahasa yang tersirat
Tak perlu kamus untuk menafsir
Setiap pasang mata punya penglihatan yang berbeda

Itulah keindahan yang tak akan pernah surut
Layaknya sajak yang diwariskan penyair

Pagar Laut untuk Tuan

Agaknya, darah nenek moyang
tak mengalir dalam diri Tuan
Tuan tak berniat jadi pelaut
dan mengarungi luas samudra
Tuan takut menerjang ombak
dan enggan menempuh badai

Tuan tak paham nikmatnya berlayar
Angin bertiup, Tuan meringkuk
Ombak berdebur, Tuan mendengkur

Tuan bukanlah seorang pemberani
Tuan hanyalah seorang pemimpi
Berambisi membangun rumah di atas laut
Dengan muslihat yang Tuan rajut

Kami tahu, pagar itu sengaja dipancang
agar ombak tak lagi menerjang mimpi Tuan
Tetapi jangan lupa, Tuan
Kami ini jutaan
Melebihi bilah bambu yang Tuan tancapkan
Kami sanggup mencabut satu per satu
dan menghempaskannya ke tepi

Jangan khawatir, Tuan
Bambu-bambu itu akan kami susun,
mengitari istana Tuan, mengurung Tuan di dalamnya
Sebab laut, Tuan, tak akan diam
Ia menelan segala yang tak seharusnya berdiri di atasnya

Biarkan Laut Berbaring dengan Tenang

Biarkan laut berbaring dengan tenang
Cukuplah ombak yang membuatnya bergejolak
Sebab laut bukanlah milik segelintir orang
Laut adalah milik kita semua

Biarkan ikan-ikan berenang di laut
Biarkan karang tumbuh di dasarnya
Biarkan perahu-perahu berlayar di permukaannya
Dan biarkan nelayan-nelayan menjemput kemujuran mereka

Setiap kita punya tempat sendiri-sendiri
Tak perlu merampas laut dan menjadikannya istana
Ketamakanmu sementara
Perihnya laut selamanya

Biarkan laut berbaring dengan tenang
Lepaskan deretan bambu yang melukainya
Dan jika kau masih mengapung di atas bahtera ambisi,
tunggu saja!
Gelora samudra akan menenggelamkanmu