Taun Uler

Imlek. Taun uler.

Tiba-tiba aku inget game di hp Nokia yang aku punya taun 2002 lalu. Hadiah ultah terakhir dari papap. Nama game-nya nggak tau apa. Pokoknya tentang uler yang dikasih makan. Tiap kali ulernya makan, tubuhnya memanjang. Kalo makannya banyak dan kepalanya nggak nubruk ekornya, permainan bisa lanjut sampe game over.

Tiba-tiba lagi, aku inget naskah novel yang aku tulis sejak akhir 2023 lalu. Sampe sekarang belum selesai. Selain karena aku masih belum nentuin ending-nya kayak gimana, juga karena sewaktu-waktu ada penambahan ide cerita buat diselipin di sana-sini. Panjang naskahnya sejauh ini masih belum memenuhi persyaratan buat dikirim ke penerbit. Namanya juga belum selesai. Tapi, segitu aja udah bikin aku lumayan bangga. Ternyata napasku panjang juga sampe bisa nulis naskah sebanyak itu.

Continue reading

Posted in diary | Leave a comment

Let It Flow, Rie

Aku mencari bulan
Di antara kawanan awan
Sudah bosan aku dengan hujan
Atap bocor, jalan banjir, tanah kebasahan

Udah seminggu lebih aku nggak mood nulis. Masih bagus bisa lahir sebiji puisi yang kutaruh di PPP beberapa hari yang lalu, dan sebatang curhatan soal rabun dan jarak. Selain itu, nggak ada. Bahkan mau baca-baca platform aja kayaknya perlu effort yang full. Lagi serba males, nih.

Aku coba paksain buat move on. Buka-buka medsos, blog sendiri dan blog temen. Tapi kalo lagi nggak mood parah kayak gini, sih, apapun yang dibaca kayaknya nggak bisa masuk kepala. Yang ada malah jantung debar-debar nggak stabil, emosian, mager…

Sebenernya nggak ada yang nuntut aku nyelesein tulisan apapun secepatnya. Beberapa hari ini untungnya lagi longgar. Tapi nggak produktif itu nggak enak banget. Energi kekuras, tapi nggak banyak karya yang dihasilkan. Lebih banyak corat-coret laptop sama hp aja.

Di atas itu ada puisi cuma satu bait aja. Nggak tau bakalan ada lanjutannya atau nggak. Ide ada di mana-mana. Tapi ngembangin idenya itu yang nggak gampang. Kadang, aku bisa lancar nulis tanpa rencana. Ngalir gitu aja. Hasilnya bisa lebih cepet dan lebih bagus daripada yang direncanain. Nggak tau kenapa.

Mungkin gitu, ya, biarin segala sesuatu terjadi dan kita ikutin aja arahnya ke mana. Kadang kalo direncanain, kitanya terlalu fokus ke tujuan dan nggak nikmatin perjalanannya.

Tiba-tiba, aku inget lagunya TLC:

Don’t go chasin’ waterfalls
Please stick to the rivers and the lakes that you’re used to

So, let it flow, Rie…

Posted in diary | Leave a comment

Hujan, Seperti Puisi

Hujan yang tak pernah turun
di musim penghujan,
seperti puisiku buatmu
Terbelenggu mendungnya mega
yang enggan memberi celah
untuk jatuh ke tanah

Hujan yang turun diam-diam,
seperti puisiku buatmu
Menyebut namamu pelan-pelan
lalu menyembunyikannya
dalam rona kembang

Hujan yang turun dengan deras,
seperti puisiku buatmu
Mencurahkan semua rindu tanpa ragu
Menumbuhkan semua rumput
tanpa kendali

Hujan yang menjadi genangan,
seperti puisiku buatmu
yang menunggu kaubaca
Tetapi lantas lenyap diserap tanah
tanpa sisa

Posted in poem | Leave a comment

Rabun

Karena faktor U dan keseringan pake gawai, mataku jadi rabun. Nggak bisa liat dengan jelas objek-objek yang ada di deket mata. Harus jauh. Nggak sampe parah banget, sih. Cuma pas natap layar hp atau baca tulisan aja. Mudah-mudahan nggak tambah parah.

Dari rabun ini, aku jadi mempertanyakan jarak. Sepenting itu, ya, jarak, buat bisa liat dengan jelas? Padahal jarak deket seharusnya bikin kita tau lebih banyak karena kita liatnya juga deket-deket. Mungkin ada jarak. Tapi, kan, nggak jauh.

Sementara kalo jauh, objek yang kita liat jadi nggak jelas. Banyak yang luput dari perhatian kalo objeknya berjarak banyak dari kita.

Tapi kenapa dalam beberapa kasus, jarak itu penting biar kita bisa liat apa yang nggak keliatan dari jarak dekat? Padahal jarak bisa bikin kita nggak mampu ngejangkau hal-hal yang ada di depan mata. Kayak bintang di langit yang nggak bakalan pernah bisa kita sentuh.

Apa mungkin objek yang deket kita punya potensi pijar yang bikin silau atau bisa membakar kayak bintang? Matahari, kan, mengandung api. Dari bumi aja pijarnya bisa bikin kita kepanasan dan bikin kulit jadi gosong. Apalagi kalo dari jarak deket?

Apa mungkin setiap objek di dunia ini, termasuk manusia, punya daya membakar yang dahsyat. Kalo nggak pandai-pandai jaga jarak, bisa-bisa kita kebakar.

Waktu aku SD, kakakku dines di luar Jawa. Karena belum ada surel, komunikasi cuma bisa lewat telepon atau surat. Telepon mahal karena interlokal. Jadi paling enak pake surat, walaupun butuh banyak waktu buat nulis dan suratnya nyampe tujuan.

Tapi lewat surat, aku bisa cerita banyak dibanding telepon. Lebih bebas aja. Padahal kalo lewat surat, percakapannya cuma satu arah. Nantinya kakakku bales suratku atau sebaliknya. Tapi ada intervalnya, nggak langsung kayak via telepon.

Setelah kakakku selesai dines dan kerja di kota deket rumahku, kami malah jarang ngobrol segitu sering ketemu. Nggak tau kenapa. Selain itu, karena udah deket, aku jadi nggak khawatir-khawatir banget soal keadaan kakakku. Beda sama waktu dia di luar pulau. Aku suka ngebayangin kakakku kenapa-kenapa, kalo sakit gimana.

Mungkin itu, ya, yang bikin jarak jauh jadi kerasa mendekatkan walaupun belum ada medsos atau aplikasi percakapan apapun. Jarak bisa jadi adalah kedekatan dalam bentuk yang lain.

Setaun belakangan ini, aku punya masalah yang pelik. Kalo dipikir-pikir, semuanya berkaitan sama jarak. Baru-baru ini masalahnya lebih pelik lagi. Dan kayaknya, jarak bener-bener diperlukan di sini buat nemu jalan keluarnya.

Semoga.

Posted in diary | Leave a comment

Secangkir Malam di Pagi Hari

Malam mencair
ke dalam cangkir
dijerang matahari pagi

Uap hangat meliuk-liuk
bergegas ke angkasa
menjelma gugusan awan

Waktu mengaduk
Denting berdetak
diiringi pusaran buih

Manis menyisip getir
Bulan dan gemintang larut
dalam pekat jelaga

Ampas menetap
menunggu senja
membasuh jejak

Posted in poem | Leave a comment