Author Archives: Rie Yanti

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer

Minggu Membeku

Matahari masih saja berbaring di balik awan yang tak mau mencairkan hujan sementara lampu-lampu taman mematung di atas tiang dalam belenggu sarang kaca kehabisan cahaya setelah semalaman berkobar melawan gelap Rumput-rumput kaku menyangga bunga-bunga mekar yang mengabadikan warna mereka dalam … Continue reading →

Posted in poem | Leave a comment

Robohnya Kemangi Kami (2)

Masih ingat taneman kemangi kami yang roboh? Kemarin, kemangi itu mati. Waktu dia ambruk itu, akarnya juga sebetulnya tercabut. Kupikir, kalo batangnya kutegakin lagi terus kusangga pake batu, masalah selesai. Kemangi itu bakal idup lagi kayak sediakala. Ternyata nggak! Daun-daunnya … Continue reading →

Posted in diary | Tagged , | Leave a comment

Robohnya Kemangi Kami

Selama tiga hari berturut-turut, cuacanya nggak enak banget. Subuh-subuh udah ujan. Setelah reda, langit masih aja mendung. Lanjut ujan lagi. Mendung, ujan, mendung, ujan. Kayak gitu dari pagi sampe malem. Sebenernya, ada enaknya juga, sih. Mendung dan ujan pas puasa … Continue reading →

Posted in diary | Tagged , , | Leave a comment

Puisi Bulan

Malam gelap Angkasa senyap Bulan meminta cahaya pada matahari Saat yang tepat untuk menulis puisi Bulan adalah pujangga Puisi-puisinya dia simpan dalam gugusan bintang Diunduh majalah-majalah dan koran-koran Ramalan tentang cinta dan peruntungan setiap pekan

Posted in poem | Leave a comment

Mungkin, Sudah Waktunya dan Seharusnya

Mungkin, sudah waktunya dan seharusnya, aku berhenti mengenalmu sebagai batu kecil yang tak dapat ditaklukkan hujan. Namun, apakah yang sudah mengubahmu jadi tanah liat? Tangan siapakah yang kaulekati hingga kau tunduk pada jemarinya yang membuat lekuk-lekuk pada permukaanmu?

Posted in poem | Leave a comment