Buku Berdaging tentang Cinta

“The Art of Loving”

Penulis: Erich Fromm

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 192 halaman

Lewat The Art of Loving, Erich Fromm membongkar mitos paling populer tentang cinta: bahwa cinta adalah perasaan yang datang dengan sendirinya. Bagi Fromm, cinta bukan sesuatu yang kita “jatuh” ke dalamnya, melainkan sebuah seni—sesuatu yang harus dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan dengan disiplin.

Sejak kecil, kita lebih banyak diajari cara agar “dicintai”, bukan cara mencintai. Kita sibuk membuat diri kita menarik, layak dipilih, dan pantas diinginkan. Padahal, menurut Fromm, masalah utama manusia modern bukan terletak pada objek cintanya, melainkan pada kemampuan kita untuk mencinta. Cinta adalah kata kerja, tindakan aktif, bukan pengalaman pasif.

Fromm menyebut empat unsur utama cinta: kepedulian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Mencintai berarti peduli pada kehidupan dan pertumbuhan orang lain, bertanggung jawab secara sukarela terhadap kebutuhan emosionalnya, menghormatinya sebagai manusia utuh (bukan objek ego), serta berusaha mengenalnya secara mendalam. Tanpa keempat unsur ini, hubungan mudah berubah menjadi ketergantungan, posesivitas, atau transaksi.

Salah satu bagian buku ini yang sering disalahpahami adalah soal mencintai diri sendiri. Fromm menegaskan bahwa seseorang tidak mungkin mencintai orang lain jika ia tidak mencintai dirinya sendiri. Egoisme bukan tanda self-love, justru sebaliknya: ia muncul dari kekosongan batin. Self-love adalah afirmasi terhadap kehidupan dan nilai diri sebagai manusia, bukan sikap rakus perhatian.

Fromm juga membagi cinta ke dalam beberapa bentuk: cinta persaudaraan sebagai dasar semua cinta, cinta ibu yang tanpa syarat namun menuntut kemampuan melepaskan, cinta erotis yang mendambakan penyatuan total, serta cinta kepada Tuhan sebagai ekspresi kebutuhan manusia akan makna dan kesatuan. Masalahnya, cinta erotis sering kali berdiri sendiri dan terjebak menjadi “egoisme berdua” ketika tidak ditopang oleh cinta persaudaraan.

Yang membuat buku ini terasa relevan hingga hari ini adalah kritik sosialnya. Fromm melihat bahwa cara kita mencintai sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi dan budaya. Dalam masyarakat kapitalis, manusia cenderung melihat dirinya sebagai komoditas. Kita memasarkan kepribadian, menilai diri dan orang lain berdasarkan “nilai jual”, lalu mencari pasangan yang sebanding secara pasar. Hubungan pun berubah menjadi transaksi yang saling menguntungkan, bukan perjumpaan dua manusia.

Budaya konsumsi memperparah hal ini. Kita terbiasa mengganti barang saat rusak atau membosankan, dan pola pikir itu terbawa ke hubungan. Konflik sedikit dianggap tanda tidak cocok. Alih-alih memperbaiki, kita memilih mencari yang baru. Kesabaran dan disiplin dalam mencinta pun makin tumpul.

Fenomena ini terasa sangat nyata di era dating apps. Manusia direduksi menjadi foto dan bio singkat, seperti katalog produk. Kita sibuk memoles citra agar laku di pasar, bukan menampilkan diri apa adanya. Fromm mungkin akan menyebut ini sebagai puncak keterasingan diri: kita mencintai “paket”, bukan manusia.

Di tengah sistem seperti ini, Fromm memberi nasihat yang terasa kontraintuitif: cinta bukan soal menemukan objek yang tepat, melainkan soal melatih kapasitas untuk mencinta. Gonta-ganti pasangan tak akan membantu jika tangan yang melukisnya belum terlatih. Masalahnya bukan pada kanvas, melainkan pada pelukisnya.

Mencintai, menurut Fromm, adalah tindakan keberanian. Ia menuntut kita untuk melawan arus budaya yang serba instan, efisien, dan konsumtif. Di dunia yang terburu-buru, memilih berjalan pelan, sabar, dan sungguh-sungguh adalah bentuk perlawanan.

Pada akhirnya, The Art of Loving bukan sekadar buku tentang hubungan romantis. Ia adalah ajakan untuk belajar ulang menjadi manusia—manusia yang mampu memberi, hadir, dan mencintai dengan sadar di tengah dunia yang gemar menjual segalanya, termasuk cinta.

About Rie Yanti

a wife, a mom, a writer
This entry was posted in review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.