Lawan!

Subuh tadi ujan nanggung. Nggak gerimis, nggak deres. Mataharinya males-malesan bangun dan ngelipet awan.

Apa ini pertanda nggak enak?

Nggak tahu dan mudah-mudahan nggak. Sampe rada siangan, langit masih rada mendung. Tapi nggak berarti aku dan paksu juga males ke TPS. Gimana-gimana juga Pemilu kali ini punya tujuan yang jelas: menyelamatkan negara.

Kami bukan sok pahlawan. Tapi sebagai rakyat, apa lagi yang bisa kami lakukan untuk negara tercinta ini selain memilih 01 atau 03? Malah tadi aku lihat yang biasanya golput, jadi ngasih suara. Berarti emang ada yang nggak beres di negeri ini.

Continue reading

Posted in diary | Tagged | Leave a comment

Kepik

Bagaimana kalau kepik itu sisa hujan yang tertinggal di daun basil? Kena gincu saat tadi pagi bibirku mencium daunnya sebelum lebah-lebah datang. Lalu terciprat air kubangan saat sepeda melintas jalan. Kau tidak akan menemukannya dengan mudah karena kepik itu bersembunyi di rimbun dedaunan, dan terbang saat kau berusaha menyentuhnya dengan ujung jarimu.

Hal-hal kecil seperti kepik tak pernah luput dari mataku. Semakin kecil, semakin aku tertarik. Walaupun itu remeh dan receh. Seperti puisi pendek yang kutulis di struk belanjaan minimarket. Yang kuselipkan ke dalam dompet dan kubawa ke mana-mana.

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Siklus

Pada daun yang terbaring di atas tanah,
tersirat kerinduan akan pohon yang telah ia besarkan,
dan akar yang memberinya hidup,
juga kuntum-kuntum sekar dan butir-butir buah yang pernah ia asuh dengan asih,
ulat yang hampir menggerogoti helainya,
dan burung yang meninggalkan kotoran di permukaannya.
Menanti daun itu pada binasa yang disebab api,
atau remuk tergerus sepasang sepatu,
hingga menjadi serbuk yang hujan leburkan dengan tanah.

Pada risalah yang terbakar
dan menjadi silalatu yang dihembus angin,
terpercik kerinduan akan kata-kata yang telah ia beri makna,
juga tinta yang menjadikannya bernyawa,
dan tafsir-tafsir tentang gulana yang menembus tingkap ilusi.
Berharap risalah itu pada ingatan untuk mengabadikan patinya,
menjadikannya kitab yang diselami sepanjang masa.

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

kalau kau

Kalau kau tak sanggup melupa
tak apa
waktu akan membimbing luka
menjadi tawa

Kalau kau tak sanggup mencinta
tak apa
waktu akan menuntun rindu
kepada hatimu

Kalau kau tak sanggup bicara
tak apa
waktu akan memberi jeda
pada cerita

Kalau kau tak sanggup melangkah
tak apa
waktu akan menyediakan ruang
bagi peluang

Kalau kau tak sanggup berharap
tak apa
waktu akan mengganti kelam
dengan terang

Posted in poem | Leave a comment

Rahasia

Pagi ini, di kebun
Rumput-rumput tergesa-gesa mengeringkan dirinya setelah titik-titik air bermalam di permukaannya
Burung-burung melesat ke angkasa, membelah awan putih yang tebal biar sinar matahari segera sampai ke bumi
Angin mengusir petrikor agar tak membocorkan rahasia semalam

Bahwa hujan turun diam-diam
Mengintip senja yang sedang lelap
Ia tampak cantik tanpa cela
Ingin sekali hujan mengecup keningnya
Tapi takut membuat senja terjaga
Maka hujan meniupkan napasnya pelan-pelan
Udara kian sejuk
Senja makin nikmat meringkuk

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment