Umbi yang Terabaikan

Sejak awal berkebun, kami nanem singkong. Dengan keterbatasan lahan dan wawasan tentang pertanian, kami pikir nanem singkong semudah nanem bayam brazil. Tinggal tancepin batangnya ke tanah, rutin disiram dan dibiarin kena matahari, tunggu waktu panen, udah.

Tanaman singkong kami tumbuh subur sekali. Daunnya lebat banget. Sampai-sampai pernah ada seekor kucing liar yang setengah dipelihara kerabat kami, selalu berteduh di bawah pohon singkong itu.

Cuma anehnya, tiap kali umbinya dipanen, hasilnya jarang sekali memuaskan. Sering kerdil. Nggak jarang yang dimakan masih berupa akar, bukan umbi. Padahal umurnya udah cukup buat dipanen. Mungkin karena tanahnya kurang cocok. Mungkin juga karena kurang perawatan. Atau karena kami terlalu terpukau dengan daunnya yang lebat itu sampai nggak merhatiin yang di dalam tanah?

Dan bukankah kita sering kayak gitu? Lihat orang yang kayaknya hepi-hepi aja, baik-baik aja, tapi siapa yang tahu kalau dia sebetulnya nggak seperti yang kita lihat. Siapa yang tahu kalau dia sedang berjuang keras, atau sudah dan dia kehabisan tenaga bahkan untuk memperbaiki dirinya sendiri? Siapa yang tahu kalau dia ngerasa nggak nyaman dengan hidupnya tapi harus selalu tersenyum? Siapa yang tahu kalau dia nggak baik-baik aja, tapi harus berpura-pura nggak ada masalah supaya orang lain nggak khawatir sama dia?

Siapa yang tahu?

Posted in diary | Tagged , | Leave a comment

Wasiat

Kau tahu, kenapa aku punya halaman yang luas?

Supaya kau tak perlu repot-repot mencari makam untuk mengubur jasadku
Galilah tanah di bawah pohon kamboja yang telah kutanam sejak lama
Biarkan lembar-lembar mahkotanya berjatuhan dan berserakan di atas pusaraku
agar kau tak mesti repot-repot memetik mawar atau bunga lain
Biarkan aromanya semerbak meski tak seharum melati

Kuburkan juga bersamaku puisi-puisi yang telah kutulis
agar kau tak perlu komat-kamit membacakan doa untukku
Aku telah memilih doa mana yang kubutuhkan,
yang kutulis bersama puisi-puisiku itu

Dan pasangkan nisan bertuliskan:
“Di sini beristirahat dengan tenang,
seorang pujangga yang mencintai rumput.”
Dan biarkan rumput-rumput tumbuh liar di sekeliling kuburku
agar mereka menemaniku
sehingga kau tak perlu sering-sering berziarah dan berpikir
bahwa aku kesepian di dalam tanah

Posted in poem | Leave a comment

Bulan Baru

Bulan habis bertandang ke rumah senja
Parasnya berkilau seperti kencana
Meski wujudnya bukan purnama
Malam ini, bulan jadi primadona

Tapi badannya bau matahari
Bulan tak bisa mandi
Dia juga belum sikat gigi
Awan-awan kering sebab hujan diserap pelangi

Posted in poem | Leave a comment

Lawan!

Subuh tadi ujan nanggung. Nggak gerimis, nggak deres. Mataharinya males-malesan bangun dan ngelipet awan.

Apa ini pertanda nggak enak?

Nggak tahu dan mudah-mudahan nggak. Sampe rada siangan, langit masih rada mendung. Tapi nggak berarti aku dan paksu juga males ke TPS. Gimana-gimana juga Pemilu kali ini punya tujuan yang jelas: menyelamatkan negara.

Kami bukan sok pahlawan. Tapi sebagai rakyat, apa lagi yang bisa kami lakukan untuk negara tercinta ini selain memilih 01 atau 03? Malah tadi aku lihat yang biasanya golput, jadi ngasih suara. Berarti emang ada yang nggak beres di negeri ini.

Continue reading

Posted in diary | Tagged | Leave a comment

Kepik

Bagaimana kalau kepik itu sisa hujan yang tertinggal di daun basil? Kena gincu saat tadi pagi bibirku mencium daunnya sebelum lebah-lebah datang. Lalu terciprat air kubangan saat sepeda melintas jalan. Kau tidak akan menemukannya dengan mudah karena kepik itu bersembunyi di rimbun dedaunan, dan terbang saat kau berusaha menyentuhnya dengan ujung jarimu.

Hal-hal kecil seperti kepik tak pernah luput dari mataku. Semakin kecil, semakin aku tertarik. Walaupun itu remeh dan receh. Seperti puisi pendek yang kutulis di struk belanjaan minimarket. Yang kuselipkan ke dalam dompet dan kubawa ke mana-mana.

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment