Sungai Telah Menjadi Laut

Sungai telah menjadi laut
Tak lagi gentar menghadapi paus dan hiu ganas
Juga diombang-ambing ombak dan diayun badai
Dan makhluk-makhluk kecil menggelitikinya hingga tertawa

Sesekali ia menoleh ke belakang
Gunung menjulang megah dengan semua misteri yang ia akrabi sejak kecil
Gunung yang telah merawatnya saat masih berupa benih hujan,
mendekapnya dalam hangat bara, menyusuinya dengan mineral, dan melahirkannya melalui celah tanah
Gunung yang mengajarinya menjadi mata air yang terus mengalir agar tak membeku dan menggigil
Gunung yang merasa lega mendapati sungai bertemu kawan-kawannya
Gunung yang juga was-was melihatnya memasuki hutan belantara yang rimba pepohonan dan binatang

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Berkebun

Telah ditanam benih-benih kenangan
Dalam pot-pot plastik dan tanah liat
Kelak akan tumbuh menjadi hikayat
Tertulis dalam kelopak-kelopak kembang

Posted in poem | Leave a comment

Jendela

Aku suka duduk di balik jendela
Muslihat kacanya selalu menggoda
Apa yang ditayangkannya seolah dapat dijamah
Padahal, bau rumput tak dapat dicium dan sejuk gerimis tak dapat diraba

Namun jendela memberiku sepasang sayap
Untuk terbang menembus atap
Menuju kemustahilan yang sesungguhnya dapat kausentuh dengan ujung jarimu
Namun kau memilih lalu bersama fana yang diberikan waktu

Sedang aku memilih untuk melukis
Di permukaan embun yang dihembus gerimis
Tentang hujan dan matahari yang dijembatani pelangi
Yang mungkin kau sendiri tak pernah seberangi

Posted in poem | Leave a comment

Bulan Bersinar karena Matahari

Malam-malam biasanya bulan bernyanyi di jalanan
Bersama lampu-lampu jalan yang menggantung di tiang-tiang
Suaranya lembut, bikin hujan mengantuk dan pulang ke awan

Bulan juga kerap bertandang ke kebun
Jalannya berjingkat-jingkat, jarinya membelai daun-daun
Cahayanya mengejutkan tikus-tikus yang hendak mencuri
butir-butir tomat dan lembar-lembar sawi

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Gerimis

Gerimis pagi ini. Matahari kedinginan. Selimutnya basah. Cahayanya masuk kamarku dengan lemah. Semoga dia tidak sakit flu.

Aku juga pernah kehujanan. Mungkin sering. Dari gerimis sampai hujan deras. Yang aku suka, ya, gerimis. Tetesnya tidak menyakiti kepalaku. Gerimis itu seperti jari-jari anak kecil yang malu-malu mengambil biskuit cokelat di dalam stoples saat diajak mamanya bertamu ke rumah saudara.

Continue reading

Posted in thoughts | Tagged | Leave a comment