Siklus

Pada daun yang terbaring di atas tanah,
tersirat kerinduan akan pohon yang telah ia besarkan,
dan akar yang memberinya hidup,
juga kuntum-kuntum sekar dan butir-butir buah yang pernah ia asuh dengan asih,
ulat yang hampir menggerogoti helainya,
dan burung yang meninggalkan kotoran di permukaannya.
Menanti daun itu pada binasa yang disebab api,
atau remuk tergerus sepasang sepatu,
hingga menjadi serbuk yang hujan leburkan dengan tanah.

Pada risalah yang terbakar
dan menjadi silalatu yang dihembus angin,
terpercik kerinduan akan kata-kata yang telah ia beri makna,
juga tinta yang menjadikannya bernyawa,
dan tafsir-tafsir tentang gulana yang menembus tingkap ilusi.
Berharap risalah itu pada ingatan untuk mengabadikan patinya,
menjadikannya kitab yang diselami sepanjang masa.

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

kalau kau

Kalau kau tak sanggup melupa
tak apa
waktu akan membimbing luka
menjadi tawa

Kalau kau tak sanggup mencinta
tak apa
waktu akan menuntun rindu
kepada hatimu

Kalau kau tak sanggup bicara
tak apa
waktu akan memberi jeda
pada cerita

Kalau kau tak sanggup melangkah
tak apa
waktu akan menyediakan ruang
bagi peluang

Kalau kau tak sanggup berharap
tak apa
waktu akan mengganti kelam
dengan terang

Posted in poem | Leave a comment

Rahasia

Pagi ini, di kebun
Rumput-rumput tergesa-gesa mengeringkan dirinya setelah titik-titik air bermalam di permukaannya
Burung-burung melesat ke angkasa, membelah awan putih yang tebal biar sinar matahari segera sampai ke bumi
Angin mengusir petrikor agar tak membocorkan rahasia semalam

Bahwa hujan turun diam-diam
Mengintip senja yang sedang lelap
Ia tampak cantik tanpa cela
Ingin sekali hujan mengecup keningnya
Tapi takut membuat senja terjaga
Maka hujan meniupkan napasnya pelan-pelan
Udara kian sejuk
Senja makin nikmat meringkuk

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Sungai Telah Menjadi Laut

Sungai telah menjadi laut
Tak lagi gentar menghadapi paus dan hiu ganas
Juga diombang-ambing ombak dan diayun badai
Dan makhluk-makhluk kecil menggelitikinya hingga tertawa

Sesekali ia menoleh ke belakang
Gunung menjulang megah dengan semua misteri yang ia akrabi sejak kecil
Gunung yang telah merawatnya saat masih berupa benih hujan,
mendekapnya dalam hangat bara, menyusuinya dengan mineral, dan melahirkannya melalui celah tanah
Gunung yang mengajarinya menjadi mata air yang terus mengalir agar tak membeku dan menggigil
Gunung yang merasa lega mendapati sungai bertemu kawan-kawannya
Gunung yang juga was-was melihatnya memasuki hutan belantara yang rimba pepohonan dan binatang

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Berkebun

Telah ditanam benih-benih kenangan
Dalam pot-pot plastik dan tanah liat
Kelak akan tumbuh menjadi hikayat
Tertulis dalam kelopak-kelopak kembang

Posted in poem | Leave a comment