Aku Tahu, Matahari

Aku tahu,
Matahari punya api
Itulah kenapa ia jauh dari bumi

Dan aku tahu,
Matahari bukan milikku seorang
Tapi juga milik semesta dan orang-orang

Itulah kenapa aku memilih tinggal di rumah ini dan berkebun
Bergelimang bunga dan daun
Mereka membantuku menyimpan cahaya matahari
Dan aku tahu, aku tak pernah sendiri

Posted in poem | Leave a comment

Burung-burung yang Terbang Menjauhi Senja

Kadangkala,
ketika matahari tunduk pada malam yang memintanya
untuk terbenam di cakrawala,
aku melihat sekelompok burung terbang menjauhi senja.

Dan aku bertanya-tanya,
apa alasan yang membuat mereka memilih menjauhi terang
yang sesaat lagi padam?
Kenapa mereka tak mengejar senja?
Atau, menikmati lembayung, setidaknya?

Burung-burung itu mungkin tak seperti kita
Memuja berakhirnya hari
Burung-burung itu mungkin tak mau berdusta
Mereka berlaku seperti yang mereka yakini

Di bawah langit satunya, di tempat gelap lebih dulu datang
Burung-burung itu menunggu fajar
Sementara kita menyesali matahari yang tenggelam
saat kita belum juga sempat menghela napas

Posted in poem | Leave a comment

gerimis

Kedamaian
Adalah tidur ditemani hujan
Merintik bagai serbuk yang menyentuh daun-daun dengan santun
Angin menyapu bunyi hingga yang terdengar adalah sunyi
Tak ada yang mesti ditakuti
Semesta terlelap dalam gelap
Di balik selimut merasakan aroma lembut
Menyeruak dari tanah yang basah

Tak perlulah mimpi, lupakan juga kopi
Tak usah mencari bulan dan bintang-bintang
Biarkan matahari terlambat bangun dan mendatangi kebun
Biarkan juga mawar kalau tak mau mekar
Kecantikan kadang tak perlu diumbar
Dan wangi tak selalu harus disebar

Bergeminglah dalam gerimis
Perlahan meluruhkan debu hingga bumi kalis
Mengobati bumi yang kerontang hingga pulih
Dengan riciknya yang lirih

Posted in poem | Leave a comment

Rumput-rumput Bandel

Rumput-rumput yang bandel,
Sekarang musim kemarau
Matahari terik memancarkan silau
Membakar tanah hingga jadi abu
Tapi kenapa kalian masih berani menatap langit biru?

Sekarang waktunya kalian tidur di dalam tanah
Jangan coba-coba memperlihatkan ubun-ubun kalian sampai musim hujan datang
Kalian sudah meneguk sisa hujan kemarin, bukan?
Jangan berharap apa-apa lagi dari awan

Rumput-rumput yang bandel,
Sudah lama aku mengenal kalian
Kalian yang tak kenal malu dan gentar
Tumbuh di mana saja, tak hanya di tanah yang segar
Tapi juga di celah batu paving, tembok pagar, pot-pot tanaman

Continue reading

Posted in poem | Leave a comment

Cukup Menjadi Sajak

Jika suatu petang kau mendapatiku datang ke pantai,
tak berarti aku ingin mengabiskan malam dengan menangkap ikan
dan mengambil mutiara dari dalam laut.
Cukuplah bagiku melihat permukaan laut berkilau karena cahaya bulan.

Begitu juga jika suatu saat kau melihatku datang ke sebuah taman,
tak berarti aku ingin memetik kembang sepatu dan menyelipkannya di daun telingaku.
Cukuplah bagiku melihat bunga itu mekar dan memperlihatkan benang sarinya pada dunia.

Sama halnya saat aku membisu karena cuaca terlampau cerah.
Aku tak mau mengusik hujan yang terlelap di dalam awan.
Cukuplah bagiku memandang dari jauh tanpa harus menyentuh.

Tak memiliki adalah kebebasan hakiki.
Aku tak pernah menggenggam senja ataupun bulan, bunga maupun hujan.
Namun aku mencintai mereka dalam jarak yang tak dapat dikerat.
Dan cukup bagiku untuk menjadi sajak yang berdiam dalam sebuah kitab.

Posted in poem | Leave a comment