Bukannya tak bisa bicara
Tetapi ia memilih menyimpan kata-kata
Ketika tahu ia tak bisa memiliki jingga selamanya
Dan ia memutuskan untuk menahan rindu
Bukan tak ingin mengentas sendu
Tetapi agar ada alasan untuk kembali menemui rona itu
Sampaikan pada hujan yang memadamkan api
Bintang jatuh tak mengenal luka
Dan katakan pada matahari yang mengakhiri gelap
Bahkan saat musim panas sekalipun, malam tetap ada
Angin tak pernah menggugurkan daun
Daunlah yang memilih lepas dari tangkainya
Sungai tak mesti berhenti mengalir terjegal batang kayu
Arus mendorongnya untuk terus mencapai laut
Dan aku tak akan berhenti mendayung perahu
Bahkan jika sungai ini mengering,
masih akan kaudengar langkah kaki
Berderap di bawah arakan awan yang menutupi langit sesaat
Semalam, bintang jatuh membawaku pada kedalaman malam
Melewati setiap lapis kegelapan
Semakin mendekat ke dasar, semakin aku melesak
Seperti sebelumnya tak pernah aku tidur nyenyak
Gerhana mengambil semua terang yang kupunya
Hayatku hampa, tapi ragaku masih ada
Kuhirup kekosongan, benar-benar hanya udara yang mengisi paru-paruku
Bahkan tak ada sedikit pun suara yang merasuk telingaku
Dalam kejatuhan, aku melayang
Ringan laksana awan tanpa hujan
Dan aku terbangun bersama matahari yang merekah
Seperti bayi baru lahir yang masih bersimbah darah
Tanganmu adalah belaian pertama yang menjulur tenang
Pagi ini begitu baru, begitu haru, begitu terang
Di balik amukku pada ilalang,
Yang membuat tanganku hendak mencabut akarnya,
Terbersit pertanyaan,
Siapa yang sesungguhnya mengusik?
Aku tak pernah menginjak tanah kelahirannya
Dan ia tak pernah berjalan menghampiriku
Adalah belalang yang mencabik-cabik daunnya
Yang lantas melompat ke tangan dan kepalaku
Dan ularlah yang menumpang lewat dengan sisiknya
Yang desisnya menjadi isyarat bahaya
Ingatkan aku,
Bukankah hijau itu menenangkan mata?
Dan tatkala ilalang mengikuti lintas angin,
Tanyakan aku,
Tidakkah aku juga ingin ikut menari?
Kali lain jika aku hendak mencabut ilalang,
Katakan,
Bahwa aku adalah seorang manusia
Yang kerap termakan rasa takut
Tidurlah, Anakku
Dalam kegelapan kamar
Tak usah takut pada suara-suara di luar
Jangkrik sedang merayu bulan
Yang tak mau berpisah dari malam
Gerimis sekadar mengingatkan
Bahwa langit mencintai tanah
Gelap tak berarti berakhir
Koin dalam celenganmu
Punya dua sisi yang berbeda
Gelap adalah salah satu sisi
Terang adalah sisi satunya
Dua sisi dalam satu tubuh dan jiwa
Tak bisa saling meninggalkan
Atau koin itu tak berarti apa-apa
Semakin banyak koin yang kamu simpan
Semakin kamu berlimpah
Bukan karena nilai
Tetapi karena banyaknya dua sisi yang kamu alami
Hayooo... Mau apa?