Kenapa Cabe di Kebunku Rasanya Pedes?

Di antara taneman-taneman yang gagal tumbuh di kebun kami, kayaknya cuma taneman cabe, deh, yang perjuangannya paling berat. Kami nanem dari bijinya. Waktu keliatan tunasnya, kami seneng banget karena ada harepan buat si biji cabe itu tumbuh jadi taneman. Soalnya bonggol sawi dan letus tewas sehari setelah direndem di dalem sebotol air. Bawang putih sempet ngeluarin akarnya, tapi malah membusuk.

Nanem empon-empon juga pernah. Kunyit cuma ngasilin daun yang lebar, tapi umbinya kecil banget. Sama kayak singkokng. Kencur malah membusuk di dalem pot. Dan nggak tau apa lagi, deh, yang gagal tumbuh di kebun kami.

Yang sukses berbuah juga ada, yaitu tomat. Waktu buahnya masih ijo-ijo, nggak langsung kita petik. Sengaja biar beneran mateng di pohon. Eh, nggak taunya pas udah merah, buah tomat itu dimakan tikus.

Paksu pernah beli bibit cabe yang berupa biji. Kami berdua ngikutin prosedur yang dijelasin di kemasannya. Di situ disebutin kalo bijinya musti direndem dulu sebelum disemai. Sebagai petani amatiran, kamu patuhin semua instruksinya.

Continue reading

Posted in thoughts | Leave a comment

When I’m Sad

When I’m sad,
I ask myself,
Am I really sad?
Or is it just my mind that drives me into sadness?
Because the sky still stands when the sun leaves it
Night is only a color of darkness that without it
The moon won’t be seen

So, when I’m sad,
I go to my garden
Looking for small things to observe
There are many wonderful living things I’ve never known before
Or,
I have seen
But,
I forgot how they live through many years full of emotions
And how they keep existing though they grow into new generations

The old things may have passed away
But they come again into a new thing

So, what do I mean by sadness?
Am I really sad?
Or,
Is it just my mind that drives me away from happiness?

Posted in poem | Leave a comment

Senja

Bukannya tak bisa bicara
Tetapi ia memilih menyimpan kata-kata
Ketika tahu ia tak bisa memiliki jingga selamanya

Dan ia memutuskan untuk menahan rindu
Bukan tak ingin mengentas sendu
Tetapi agar ada alasan untuk kembali menemui rona itu

Posted in poem | Leave a comment

Bintang Jatuh Tak Mengenal Luka

Sampaikan pada hujan yang memadamkan api
Bintang jatuh tak mengenal luka
Dan katakan pada matahari yang mengakhiri gelap
Bahkan saat musim panas sekalipun, malam tetap ada

Angin tak pernah menggugurkan daun
Daunlah yang memilih lepas dari tangkainya
Sungai tak mesti berhenti mengalir terjegal batang kayu
Arus mendorongnya untuk terus mencapai laut

Dan aku tak akan berhenti mendayung perahu
Bahkan jika sungai ini mengering,
masih akan kaudengar langkah kaki
Berderap di bawah arakan awan yang menutupi langit sesaat

Posted in poem | Leave a comment

Kedalaman Malam

Semalam, bintang jatuh membawaku pada kedalaman malam
Melewati setiap lapis kegelapan
Semakin mendekat ke dasar, semakin aku melesak
Seperti sebelumnya tak pernah aku tidur nyenyak

Gerhana mengambil semua terang yang kupunya
Hayatku hampa, tapi ragaku masih ada
Kuhirup kekosongan, benar-benar hanya udara yang mengisi paru-paruku
Bahkan tak ada sedikit pun suara yang merasuk telingaku

Dalam kejatuhan, aku melayang
Ringan laksana awan tanpa hujan

Dan aku terbangun bersama matahari yang merekah
Seperti bayi baru lahir yang masih bersimbah darah
Tanganmu adalah belaian pertama yang menjulur tenang
Pagi ini begitu baru, begitu haru, begitu terang

Posted in poem | Leave a comment