Adalah air mata yang menguap di atas tungku yang menyala-nyala
Menempuh perjalanan udara menuju biru mulia
Berarak tanya mencari jawab
Lalu turun kepada bumi yang kehabisan lembap
Author Archives: Rie Yanti
Belajar dari Puisi
Melalui puisi, aku belajar menundukkan kepala
membiarkan suaraku ditelan kertas
dan menempuh jalan menuju semesta yang jauh
di mana diksi-diksi bersemayam bersama imaji
Melalui puisi, aku ingin menjadi abadi
menyamarkan sejati dalam bait-bait kiasan
seperti sesendok kecil gula yang bersembunyi dalam secangkir kopi
yang menyentuh lidahmu dengan santun
Melalui puisi, aku belajar melepas gulana
menjadikan hampa sebagai satu-satunya harta
seperti randa tapak yang merelakan biji-bijinya kepada angin
untuk dibawa terbang dan tumbuh di padang rumput lain
Berbisik pada Dahlia
Biarkan aku berbisik pada dahlia
Menyembunyikan rahasiaku pada lapisan-lapisan mahkotanya
Mumpung angin tak bertiup dan kumbang-kumbang belum datang
Hanya ada aku dan dahlia di kebun ini
Menari-nari menanggapi kata-kataku
Membuat hatiku turut berbunga dahlia
dan akan menjadi dahlia meski kau mengatakan aku adalah lili
Inginku
Sabit Emas
Ke mana saja bulan semalam?
Pulang-pulang waktu subuh saat azan berkumandang
Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa sungkan
Dan matahari tetap saja mengulurkan sayang
Diteranginya bulan dengan cahaya yang cemerlang
Meski sebagian rupa bulan sudah hilang


