Author Archives: Rie Yanti
Umbi yang Terabaikan
Sejak awal berkebun, kami nanem singkong. Dengan keterbatasan lahan dan wawasan tentang pertanian, kami pikir nanem singkong semudah nanem bayam brazil. Tinggal tancepin batangnya ke tanah, rutin disiram dan dibiarin kena matahari, tunggu waktu panen, udah. Tanaman singkong kami tumbuh … Continue reading
Wasiat
Kau tahu, kenapa aku punya halaman yang luas? Supaya kau tak perlu repot-repot mencari makam untuk mengubur jasadkuGalilah tanah di bawah pohon kamboja yang telah kutanam sejak lamaBiarkan lembar-lembar mahkotanya berjatuhan dan berserakan di atas pusarakuagar kau tak mesti repot-repot … Continue reading
Bulan Baru
Bulan habis bertandang ke rumah senjaParasnya berkilau seperti kencanaMeski wujudnya bukan purnamaMalam ini, bulan jadi primadona Tapi badannya bau matahariBulan tak bisa mandiDia juga belum sikat gigiAwan-awan kering sebab hujan diserap pelangi
Lawan!
Subuh tadi ujan nanggung. Nggak gerimis, nggak deres. Mataharinya males-malesan bangun dan ngelipet awan. Apa ini pertanda nggak enak? Nggak tahu dan mudah-mudahan nggak. Sampe rada siangan, langit masih rada mendung. Tapi nggak berarti aku dan paksu juga males ke … Continue reading
Kepik
Bagaimana kalau kepik itu sisa hujan yang tertinggal di daun basil? Kena gincu saat tadi pagi bibirku mencium daunnya sebelum lebah-lebah datang. Lalu terciprat air kubangan saat sepeda melintas jalan. Kau tidak akan menemukannya dengan mudah karena kepik itu bersembunyi … Continue reading

