Author Archives: Rie Yanti
Robohnya Kemangi Kami
Selama tiga hari berturut-turut, cuacanya nggak enak banget. Subuh-subuh udah ujan. Setelah reda, langit masih aja mendung. Lanjut ujan lagi. Mendung, ujan, mendung, ujan. Kayak gitu dari pagi sampe malem. Sebenernya, ada enaknya juga, sih. Mendung dan ujan pas puasa … Continue reading
Puisi Bulan
Malam gelap Angkasa senyap Bulan meminta cahaya pada matahari Saat yang tepat untuk menulis puisi Bulan adalah pujangga Puisi-puisinya dia simpan dalam gugusan bintang Diunduh majalah-majalah dan koran-koran Ramalan tentang cinta dan peruntungan setiap pekan
Mungkin, Sudah Waktunya dan Seharusnya
Mungkin, sudah waktunya dan seharusnya, aku berhenti mengenalmu sebagai batu kecil yang tak dapat ditaklukkan hujan. Namun, apakah yang sudah mengubahmu jadi tanah liat? Tangan siapakah yang kaulekati hingga kau tunduk pada jemarinya yang membuat lekuk-lekuk pada permukaanmu?
Ketika Sajak Jadi Awan dan Cerita adalah Hujan
Adalah air mata yang menguap di atas tungku yang menyala-nyalaMenempuh perjalanan udara menuju biru muliaBerarak tanya mencari jawabLalu turun kepada bumi yang kehabisan lembap
Belajar dari Puisi
Melalui puisi, aku belajar menundukkan kepalamembiarkan suaraku ditelan kertasdan menempuh jalan menuju semesta yang jauhdi mana diksi-diksi bersemayam bersama imaji Melalui puisi, aku ingin menjadi abadimenyamarkan sejati dalam bait-bait kiasanseperti sesendok kecil gula yang bersembunyi dalam secangkir kopiyang menyentuh lidahmu … Continue reading

