Author Archives: Rie Yanti
Belajar dari Puisi
Melalui puisi, aku belajar menundukkan kepalamembiarkan suaraku ditelan kertasdan menempuh jalan menuju semesta yang jauhdi mana diksi-diksi bersemayam bersama imaji Melalui puisi, aku ingin menjadi abadimenyamarkan sejati dalam bait-bait kiasanseperti sesendok kecil gula yang bersembunyi dalam secangkir kopiyang menyentuh lidahmu … Continue reading
Berbisik pada Dahlia
Biarkan aku berbisik pada dahliaMenyembunyikan rahasiaku pada lapisan-lapisan mahkotanyaMumpung angin tak bertiup dan kumbang-kumbang belum datang Hanya ada aku dan dahlia di kebun iniMenari-nari menanggapi kata-katakuMembuat hatiku turut berbunga dahliadan akan menjadi dahlia meski kau mengatakan aku adalah lili
Inginku
Inginku adalah menjadi telaga yang menampung hujan, menjadikannya kaca, cermin bagi matahari, pelangi, bulan dan bintang. Tapi jika aku harus menjadi sungai yang mengalirkan hujan ke samudra, tak apa. Paling tidak, sekali dalam hidupku, aku pernah merasakan rintik hujan yang … Continue reading
Sabit Emas
Ke mana saja bulan semalam? Pulang-pulang waktu subuh saat azan berkumandang Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa sungkan Dan matahari tetap saja mengulurkan sayang Diteranginya bulan dengan cahaya yang cemerlang Meski sebagian rupa bulan sudah hilang
Hujan Bermain dengan Tanah
Hujan itu lucu. Kadang, ia memperlihatkan dirinya dengan cara yang berbeda. Hujan menyapa tak selalu dengan menyentuh rambutmu, meski ia berasal dari langit. Tadi siang hujan berhamburan dari awan menuju bumi. Seperti anak-anak ketika bubar sekolah dan menyerbu mama-mamanya yang … Continue reading

