Author Archives: Rie Yanti
Sebuah Cerita tentang Kebun Kami
Musim kemarau taun ini gila-gilaan. Apa, ya, yang bikin matahari semangat banget bersinar? Awan-awan aja nggak berani nengokin bumi. Sekalinya ada, langsung lenyap seketika. Kebun kami kena imbasnya. Biarpun semua taneman disiram dua kali sehari tiap harinya, banyak yang akhirnya … Continue reading
Hanya Laut yang Bisa Menyapu Pasir di Pantai
Dan yang tersisa adalah kekosongan Yang terdengar adalah debur
Kesempatan Kedua
Ketika kecil, aku tak pernah menyelidiki di mana debu bersembunyi ketika hujan turun Aku selalu berdiri di balik kaca jendela Memandang hujan sambil memendam ingin untuk merasakan pecahannya di telapak tanganku Meski kutahu pecahan hujan akan membuatku terluka Hujan, bagiku, … Continue reading
Silalatu Ungu, Tamu Nggak Diundang
Akhir-akhir ini, kebun kami suka kedatangan tamu: silalatu berwarna ungu. Kadang datangnya gerombolan. Kadang datang sendiri. Aku bingung ngejamunya gimana. Soalnya kebun kami lagi kering. Kami cuma bisa nyuguhin cabe dan bunga kangkung. Silalatu itu tipis banget. Dia selalu minta … Continue reading
Kesemutan
Tadi siang, aku nggak sengaja nginjek seekor semut yang lagi jalan deket kakiku. Semutnya mati, terus temennya dateng. Karena nggak ngerti bahasa semut dan nggak pernah denger suaranya, aku cuma bisa nebak kalo temennya semut itu teriak histeris. Syok liat … Continue reading

