Author Archives: Rie Yanti
Seekor Kupu-kupu Mati di Pinggir Jalan
Sore tadi, aku menemukan seekor kupu-kupu mati di pinggir jalan. Sayapnya masih utuh, seakan memperlihatkan keinginan yang belum terwujud. Tak ada yang berani mengoyaknya. Sebuah keheningan yang menyertai kepergiannya. Pernahkah kupu-kupu itu berpikir tentang hari ini? Saat sayapnya terbentang, tetapi … Continue reading
Waktu
Aku adalah rintik hujan yang melunturkan kerinduan Aku adalah hijau yang perlahan meninggalkan daun Aku adalah jejak yang tak dapat kembali kepada langkah Aku adalah molekul yang mengkristalkan masa lalu Aku adalah waktu yang mungkin kaulupakan Sementara jam terus berdetak … Continue reading
Hands
My hands are beautiful, And so are yours. Their nails are not as long as tulips, But they are round like the moon. Yes, we have moons in our hands— They can shine in the dark. Our hands have done … Continue reading
Nothing’s Wrong
Nothing’s wrong. The river flows to the waterfall, to the lowest place. The sun sets in time, giving the rest of its light to the moon, so the stars can build constellations. I just wish the tree could appreciate my … Continue reading
Ibu Pertiwi Melahirkan Puisi
Ibu Pertiwi melahirkan puisi bertunaskan helai demi helai huruf cabang-cabang kalimat bait-bait rindang bunga-bunga diksi dan rima buah-buah amanat yang kaupetik saat tak ada lagi makanan yang dapat kaulahap

