Author Archives: Rie Yanti
Kesempatan Kedua
Ketika kecil, aku tak pernah menyelidiki di mana debu bersembunyi ketika hujan turun Aku selalu berdiri di balik kaca jendela Memandang hujan sambil memendam ingin untuk merasakan pecahannya di telapak tanganku Meski kutahu pecahan hujan akan membuatku terluka Hujan, bagiku, … Continue reading
Silalatu Ungu, Tamu Nggak Diundang
Akhir-akhir ini, kebun kami suka kedatangan tamu: silalatu berwarna ungu. Kadang datangnya gerombolan. Kadang datang sendiri. Aku bingung ngejamunya gimana. Soalnya kebun kami lagi kering. Kami cuma bisa nyuguhin cabe dan bunga kangkung. Silalatu itu tipis banget. Dia selalu minta … Continue reading
Kesemutan
Tadi siang, aku nggak sengaja nginjek seekor semut yang lagi jalan deket kakiku. Semutnya mati, terus temennya dateng. Karena nggak ngerti bahasa semut dan nggak pernah denger suaranya, aku cuma bisa nebak kalo temennya semut itu teriak histeris. Syok liat … Continue reading
Seekor Kupu-kupu Mati di Pinggir Jalan
Sore tadi, aku menemukan seekor kupu-kupu mati di pinggir jalan. Sayapnya masih utuh, seakan memperlihatkan keinginan yang belum terwujud. Tak ada yang berani mengoyaknya. Sebuah keheningan yang menyertai kepergiannya. Pernahkah kupu-kupu itu berpikir tentang hari ini? Saat sayapnya terbentang, tetapi … Continue reading
Waktu
Aku adalah rintik hujan yang melunturkan kerinduan Aku adalah hijau yang perlahan meninggalkan daun Aku adalah jejak yang tak dapat kembali kepada langkah Aku adalah molekul yang mengkristalkan masa lalu Aku adalah waktu yang mungkin kaulupakan Sementara jam terus berdetak … Continue reading

