Bukan Mereka

Orang boleh berpikir apa saja
tentangmu
Mereka boleh bicara apa saja

Tapi, siapa yang tahu
bagaimana kau letakkan benih dengan hati-hati
di dalam lubang yang kaugali penuh harap
dan kau sertakan doa agar pertiwi sudi
mengabulkan mimpimu
terhadap benih itu
agar tak hanya tumbuh menjadi daun, bunga,
ataupun buah yang kelak dapat kaupetik
tetapi juga agar akarnya mampu menguatkan tanah
dan menjaga air agar tak surut
di musim kemarau

Siapa yang tahu,
bagaimana kau perlakukan bibit itu
seperti anakmu sendiri
Kau sentuh dengan lemah lembut,
kau kecup dengan sarat kasih,
dan kau menunggunya tumbuh
inci demi inci,
mencatatnya dalam jurnalmu setiap hari

Dan siapa yang tahu,
apa saja yang kaubicarakan dengan rumput-rumput
yang memenuhi pekaranganmu
Orang melihatnya kau menjambak mereka
Tetapi sesungguhnya, kau hanya ingin
membuat mereka lebih berguna
dengan menyatukan mereka
bersama daun-daun kering
yang berguguran

Atau,
bagaimana kau menatap bulan,
menunggu bintang melesat,
menerima pagi seperti halnya pasrah pada senja,
bernyanyi saat hujan,
mengikuti derap rintiknya
yang menarik petrikor dari dalam tanah

Orang-orang hanyalah angin
yang berlalu tanpa membaca apa-apa
Orang-orang cuma punya api
yang membakar nafsu mereka

Orang boleh berpikir apa saja
tentangmu
Mereka boleh bicara apa saja
Tetapi kau adalah kau
Bukan bagian dari mereka

Kelak

Kelak, kau akan tahu,
siapa membutuhkan siapa.
Malam pada bulan,
atau bulan pada malam?
Hujan pada telaga,
atau telaga pada hujan?

Kelak, kau akan tahu,
siapa menginginkan siapa.
Kupu pada mawar,
atau mawar pada kupu?
Rumput pada pekarangan rumahmu,
atau pekarangan pada rumput?

Kelak, di waktu yang tak kauduga,
sungai tak lagi mengenal deras.
Kemarau membungkam riciknya
atau batu menghadang arusnya.
Tak ada lagi gemuruh di telingamu
dan kau tak perlu takut perahu kertasmu
hanyut tanpa terkejar.

Itu kelak.
Saat kau mengerti tak ada gunanya melawan.
Kelak, saat kau tak lagi mencari makna.
Kelak, saat kau biarkan angin menyapu debu
yang menyaput pandanganmu.

Kembalinya Sang Penyair

Huruf-huruf memilih menyimpan suara
dalam batinku
dan menahan jari-jariku
dari melukis setiap lekuknya
di atas kertas

Mungkin mereka bosan menguntai kata
Mungkin juga putus asa
sebab angin memilih berlalu daripada membaca
Dan sungai terlalu pongah dengan riciknya

Kuputuskan untuk berhenti menulis
Tak semua orang ingin mendengar
Tak semua orang mau membaca
Orang butuh bukti, bukan puisi

Tapi, siapa yang tega meninggalkan rimbun mangga
yang menjaga sarang burung?
Siapa yang sudi meninggalkan melati
yang menghalau bau selokan?

Lalu aku mendengar riuh dalam diriku
Semua aksara berdesakan
hendak keluar dari mulutku

Akar mencuat dari tanah
Menahan kakiku di halaman
Bunga telang menyembur tintanya
dan angin menyibak debu di pekarangan

Mungkin, di sinilah aku seharusnya berada
Berbicara pada rumput
Inilah aku
Kembali menganggit puisi

Pohon Hujan

Pohon hujan berguncang
entah oleh apa
Gerimis berguguran
di atas kemarau yang
tak lagi sanggup
mengeringkan tanah

Mungkin langit lelah
melihat bumi tanpa daun,
tanpa bunga
Maka ia membimbing musim
untuk menggoyang
pohon hujan itu.

Kalo Cuaca Ngawur

Cuaca tambah ngawur aja. Sekarang udah bulan Agustus. Udah musim kemarau dan suhu udara lagi panas-panasnya.

Tapi beberapa malem ini, aku liat langit sering mendung. Bulan sabitnya jarang keliatan. tadi subuh malah ada gludug. Nggak keras, sih, dan aku nggak liat langitnya emang mendung atau nggak. Kayaknya, awannya juga ragu mau nurunin ujan. Soalnya sekarang bukan giliran dia yang muncul.

Di kebunku, sebagian rumput pada mati. Kuning, kering, kayak abis kebakar gitu, Sebagian lagi masih berdiri tegak. Nggak mau kalah sama taneman cabe, tomat, dan kemangi yang kusiram tiap hari.

Ya. Aku usahain siram-siram kebun tiap hari. Kalo lagi rajin, bisa dua kali sehari. Kalo lagi kumat malesnya, sekali aja. Biasanya, sih, sore-sore. Soalnya kalo pagi, tanahnya suka keliatan lembap. Nggak tau lembapnya dari mana. Bediding udah berlalu soalnya malem-malem aku nggak kedinginan lagi.

Biarpun pagi-pagi tanahnya keliatan lembap, atau udah kusiram, siangnya udah keliatan retak-retak. Kayak kemarau panjang dan tanahnya nggak disentuh air sama sekali. Saking panasnya. Apalagi ini Surabaya.

Tapi, kok, bisa, ya, ada rumput yang tetep tumbuh dan idup? Dari mana mereka bisa dapat kekuatan? Doa ibu pertiwi?

Mungkin, ya. Siapa yang pernah denger bumi berdoa minta kesuburan? Nggak ada, kan? Tau-tau muncul rumput-rumput, bibit yang kita taruh di dalem tanah tumbuh jadi tunas, buah-buah ranum di pohon…

Ujan mungkin turun bukan atas kehendaknya atau karena awan udah kelebihan beban. Bisa aja ujan turun karena bumi yang minta. Bumi bisa berdoa kapan aja. Ujan pun bisa kapan aja ngabulin doanya bumi.

Cuaca ngawur, ujan di bulan Juli, mendung di bulan Agustus. Nggak ada yang patut disalahin. Semuanya terjadi soalnya pasti ada alasannya yang belum tentu kita tau.