Kelak

Kelak, kau akan tahu,
siapa membutuhkan siapa.
Malam pada bulan,
atau bulan pada malam?
Hujan pada telaga,
atau telaga pada hujan?

Kelak, kau akan tahu,
siapa menginginkan siapa.
Kupu pada mawar,
atau mawar pada kupu?
Rumput pada pekarangan rumahmu,
atau pekarangan pada rumput?

Kelak, di waktu yang tak kauduga,
sungai tak lagi mengenal deras.
Kemarau membungkam riciknya
atau batu menghadang arusnya.
Tak ada lagi gemuruh di telingamu
dan kau tak perlu takut perahu kertasmu
hanyut tanpa terkejar.

Itu kelak.
Saat kau mengerti tak ada gunanya melawan.
Kelak, saat kau tak lagi mencari makna.
Kelak, saat kau biarkan angin menyapu debu
yang menyaput pandanganmu.

Posted in poem | Leave a comment

Kembalinya Sang Penyair

Huruf-huruf memilih menyimpan suara
dalam batinku
dan menahan jari-jariku
dari melukis setiap lekuknya
di atas kertas

Mungkin mereka bosan menguntai kata
Mungkin juga putus asa
sebab angin memilih berlalu daripada membaca
Dan sungai terlalu pongah dengan riciknya

Kuputuskan untuk berhenti menulis
Tak semua orang ingin mendengar
Tak semua orang mau membaca
Orang butuh bukti, bukan puisi

Tapi, siapa yang tega meninggalkan rimbun mangga
yang menjaga sarang burung?
Siapa yang sudi meninggalkan melati
yang menghalau bau selokan?

Lalu aku mendengar riuh dalam diriku
Semua aksara berdesakan
hendak keluar dari mulutku

Akar mencuat dari tanah
Menahan kakiku di halaman
Bunga telang menyembur tintanya
dan angin menyibak debu di pekarangan

Mungkin, di sinilah aku seharusnya berada
Berbicara pada rumput
Inilah aku
Kembali menganggit puisi

Posted in poem | Leave a comment

Pohon Hujan

Pohon hujan berguncang
entah oleh apa
Gerimis berguguran
di atas kemarau yang
tak lagi sanggup
mengeringkan tanah

Mungkin langit lelah
melihat bumi tanpa daun,
tanpa bunga
Maka ia membimbing musim
untuk menggoyang
pohon hujan itu.

Posted in poem | Leave a comment

Kalo Cuaca Ngawur

Cuaca tambah ngawur aja. Sekarang udah bulan Agustus. Udah musim kemarau dan suhu udara lagi panas-panasnya.

Tapi beberapa malem ini, aku liat langit sering mendung. Bulan sabitnya jarang keliatan. tadi subuh malah ada gludug. Nggak keras, sih, dan aku nggak liat langitnya emang mendung atau nggak. Kayaknya, awannya juga ragu mau nurunin ujan. Soalnya sekarang bukan giliran dia yang muncul.

Di kebunku, sebagian rumput pada mati. Kuning, kering, kayak abis kebakar gitu, Sebagian lagi masih berdiri tegak. Nggak mau kalah sama taneman cabe, tomat, dan kemangi yang kusiram tiap hari.

Ya. Aku usahain siram-siram kebun tiap hari. Kalo lagi rajin, bisa dua kali sehari. Kalo lagi kumat malesnya, sekali aja. Biasanya, sih, sore-sore. Soalnya kalo pagi, tanahnya suka keliatan lembap. Nggak tau lembapnya dari mana. Bediding udah berlalu soalnya malem-malem aku nggak kedinginan lagi.

Biarpun pagi-pagi tanahnya keliatan lembap, atau udah kusiram, siangnya udah keliatan retak-retak. Kayak kemarau panjang dan tanahnya nggak disentuh air sama sekali. Saking panasnya. Apalagi ini Surabaya.

Tapi, kok, bisa, ya, ada rumput yang tetep tumbuh dan idup? Dari mana mereka bisa dapat kekuatan? Doa ibu pertiwi?

Mungkin, ya. Siapa yang pernah denger bumi berdoa minta kesuburan? Nggak ada, kan? Tau-tau muncul rumput-rumput, bibit yang kita taruh di dalem tanah tumbuh jadi tunas, buah-buah ranum di pohon…

Ujan mungkin turun bukan atas kehendaknya atau karena awan udah kelebihan beban. Bisa aja ujan turun karena bumi yang minta. Bumi bisa berdoa kapan aja. Ujan pun bisa kapan aja ngabulin doanya bumi.

Cuaca ngawur, ujan di bulan Juli, mendung di bulan Agustus. Nggak ada yang patut disalahin. Semuanya terjadi soalnya pasti ada alasannya yang belum tentu kita tau.

Posted in thoughts | Leave a comment

Jeda

Sajakku membungkam malam ini
Bahkan bibirnya tak menorehkan senyum
Datar saja, seperti garis-garis pada kertas

Kata-kata meredup bagai bintang yang kehilangan pijar
sebab lampu-lampu kota begitu benderang
Makna bersembunyi di balik jelaga
Siang-siang pun ia tetap bersembunyi diterpa silau

Mungkin, ini hanya jeda
Semoga saja
Aku hanya harus menjaga penaku agar tak mengering

Posted in poem | Leave a comment